~PIECE 9~
SENIN, DI SEKOLAH...
Ify meremas jemarinya resah. Sudah berhari-hari ia dan Sivia tidak bicara, tepatnya sejak ia menuding Sivia berbohong soal Alvin.
Berkali-kali Ify mencoba bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara dirinya dan Sivia. Kadang Ify melempar senyum atau nyeletuk lucu waktu Sivia lagi ngobrol dengan Deva atau Ozy, tapi cewek itu tidak merespons. Sivia tetap cuek dan mendiamkan Ify.
Ify menarik nafas panjang. Ia tau dirinya salah telah menuduh Sivia dan tidak mempercayainya. Meskipun sampai saat ini ia belum tau benar apakah tas itu memang milik Alvin dan apakah cewek itu memang guru privat Janice Sindhunata. Tapi seharusnya, sebagai teman, Ify percaya pada Sivia.
Pagi ini Ify melihat Sivia memasuki ruang kelas dengan tas selempang warna krem yang selalu menemani cewek itu sekolah. Sivia meletekan tasnya di meja, lalu mengeluarkan HPnya yang berbunyi dari saku rok lipitnya. Setelah membaca SMS, Sivia tersenyum.
Ify mendekati meja Sivia, "Sivia..." panggilnya pelan. Namun terlambat. Sivia, yang tidak mendengarnya, sudah berjalan cepat keluar kelas dan membawa HPnya.
Gue harus minta maaf hari ini, Ify memutuskan dalam hati. Ia mengikuti Sivia, beberapa meter di belakang gadis berambut panjang itu.
***
PERPUSTAKAAN SEKOLAH...
Sivia tidak tau kenapa Gabriel meng-SMS agar ia segera datang ke perpustakaan.
Ia menemukan Gabriel berdiri di antara rak buku perpustakaan lantai 4. Cowok itu terlihat gaya dengan seragamnya, meskipun kurang rapi karena jasnya tidak dikancingkan.
Sivia tersenyum. Ia senang bisa bertemu Gabriel di perpustakaan pagi ini, karena selama ini ia jarang sekali melihat Gabriel juga Alvin di area sekolah.
"Pagi...." Sivia mendekati Gabriel sambil menyapa dengan suara pelan.
Gabriel menyunggingkan senyuman khasnya. Senyum ekspresif yang tidak dimiliki siapa pun. Mata cowok itu terlihat berkilat-kilat senang. "Pagi, Sivia..." sapanya santai sambil mengalihkan pandangan menelusuri buku demi buku, lalu kembali pada Sivia, membuat cewek itu deg-degan.
"Ada apa?"
"Ada yang perlu gue kasih ke lo," Gabriel berkata lembut.
"Apa itu?"
"Selama ini lo nggak merasa kehilangan sesuatu, ya?" Gabriel tersenyum jail, tangannya di jejelkan di saku celana.
Sivia berpikir lalu menggeleng pelan. Ia kelihatan tidak yakin.
Kehilangan sesuatu?
Gabriel mengeluarkan saputangan Hello Kitty dari sakunya dan mengulurkan pada Sivia. "Masih nggak merasa?"
"Kemarin sabtu kelupaan mau kasih ke lo." Gabriel memberitau
"Sivia menerima saputangannya. "Makasih," gumamnya tertawa renyah. "Baru di cuci ya?" ia mencium saputangan itu, wangi.
Gabriel tersenyum agak tersipu. Ia melirik arlojinya, "Sebentar lagi pelajaran di mulai. Lo masuk kelas duluan aja. Gue masih mau disini sebentar, cari buku untuk refrensi tugas" kata Gabriel.
Setelah mengucapkan "Bye", Sivia meninggalkan Gabriel. Cewek itu berjalan lumayan cepat, mendorong pintu kaca perpustakaan dan keluar dari sana. Sivia berjalan dengan cepat dan konstan, hingga ketika berbelok di ujung koridor menuju eskalator, ia nyaris menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan.
"Sorry!" Sivia mundur dan melangkah agak kesamping, menjauhi orang yang hampir saja ditabraknya sambil melihat wajahnya.
Ternyata Alvin!
"Jalan aja nggak bener!" Alvin bergumam tajam setelah berdecak kesal.
"Sorry!" ulang Sivia. "Lagi buru-buru."
Alvin sedikit mencibir. Ia memandang Sivia sepintas, dan matanya langsung tertuju pada saputangan yang dipegang cewek itu. Ekspresinya langsung berubah. Ia memandang saputangan itu selama beberapa detik, hanya untuk memastikan.
"Kenapa?" Sivia menyadari Alvin memperhatikan saputanyannya.
Cowok itu menggeleng. "Nggak pa-pa." sahutnya cuek sebelum akhirnya berkata. "Oh ya, ini dompet lo." Lalu ia mengeluarkan dompet Sivia dari saku jas seragamnya.
"Ah, makasih!" Sivia membuka dompetnya, bermaksud membayar uang minumannya semalam. "Untuk Pocari-nya.."
Alvin mengangkat bahu dengan gaya santai. "Nggak usahlah," Ujarnya ringan sambil memandang lurus ke depan dan dengan santai melenggang pergi, meninggalkan Sivia yang terpaku di tempat.
***
WAKTU ISTIRAHAT, DI TOILET CEWEK....
"Maafin gue ya, Vi..." Ify menatap Sivia sendu. Sivia menganggukan kepala.
"Dan maafin gue juga karena tadi pagi gue menguntit lo, Vi."
"Apa?" Sivia mengerutkan kening. "Menguntit?"
Ify bersender pada pintu balik toilet, menipiskan bibie sebelum menjelaskan bahwa tadi pagi ia menguntit Sivia ke perpustakaan, sampai kembali lagi ke ruang kelas mereka.
"Asli gue kaget banget waktu lihat siapa yang lo temuin di perpustakaan." Ify membulatkan matanya. "Gabriel!
God! Gimana cara lo kenal dia?"
"Kalian kelihatan akrab! Dia naksir lo, ya? Lo beruntung banget, Sivia!" lanjut Ify
"Nggak..." Sivia kepingin mengelak, tapi Ify cuek sehingga Sivia hanya dapat tertawa pelan, nggak tahu harus bilang apa.
"Trus si Alvin!" Ify makin bersemangat. " Ternyata lo memang kenal Alvin, dan dia ngobrol sama lo!!!!" cewek itu menarik napas dan menyambung kalimatnya. "Lo tahu, kakak gue bilang, kelima cowok itu jaraaaaang banget mau ngomong sama anak-anak lain. Selain karena anak-anak lain merasa ciut kalau berhadapan sama mereka, mereka sendiri juga memang cuek banget di sekolah! Benar-benar hoki kalau bisa ngobrol sama mereka!!"
"Dia tadi nggak ngobrol sama gue, Ify!" Sivia memutar bola matanya, mengingat Alvin hanya menghinanya karena Sivia meleng tadi. Itu namanya bbukan ngobrol, kan?
"Gue nyesel sempat nggak percaya sama lo, Via!" Ify sepertinya tidak mendengar perkataan Sivia barusan. Ia sudah terlalu larut dalam pemikirannya sendiri. "Ternyata lo keren banget! Bisa kenal dan ngobrol sama mereka!"
"Ify, nggak segitunya...."
Di balik pintu mereka, di depan wastafel...
Sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin dan menyisir rambut hitamnya yang lurus sebahu, Shilla mencerna semua yang barusan di dengarnya.
***
18.05, DI RUMAH CAKKA...
Seperti biasa, lima sahabat itu ngumpul bareng.
Sore itu Gabriel dan Rio sedang seru memainkan 9ball mereka yang ketiga. Tak jauh dari meja billiar, Cakka dan Ray sedang adu kebolehan balap F-1. Keduanya tampak serius memijat-mijat
controller PS3, sedangkan pandangan masing-masing fokus ke layar televisi.
Alvin menyendiri di balkon sambil menikmati semilir angin yang cukup sejuk. Ia sama sekali nggak
mood untuk main. Padahal biasanya ia bersemangat. Ia selalu menyukai game maupun billiar. Ia juga senang menjaili teman-temannya yang sedang serius main. Tapi kali ini tidak.
Masih segar dalam ingatan Alvin, saputangan yang dipegang Sivia pagi tadi.
Setelah Alvin meninggalkan Sivia di belokan koridor tadi, ia mendatangi perpustakaan lantai 4, karena yakin Sivia baru dari sana. Dan dugaan Alvin sama sekali tidak salah. Ia melihat Gabriel sedang mengurus pinjaman buku di bagian peminjaman.
Mereka memang habis ketemuan di sana. dan Gabriel mengembalikan saputangan itu...
Alvin menarik napas, mengingat perkataan Gabriel Jumat lalu.
"
Cewek yang bikin gue kepingin memilikinya saat ini" "
Mungkin gue ingin menjadi yang terbaik untuk dia.." "
Dialah alasan kenapa besok gue nggak bisa main go-kart bareng kalian, gue dah ada janji..." "
Kali ini memang agak berbeda dari biasanya..."
Ternyata cewek itu Sivia!
Alvin menggigit bibirnya sambil mengamati langit yang mulai senja. Semua benar-benar diluar perkiraannya. Ia nggak pernah menyangka antara Gabriel sahabatnya dan Sivia cewek yang kehadirannya selalu bikin Alvin merasa tidak nyaman ternyata ada hubunga spesial. Alvin menghela napas. Ia bahkan nggak tahu bagaimana Sivia dan Gabriel berkenalan. Entah kenapa, Gabriel nggak pernah menceritakan apa pun padanya. Apakah karena kali ini pujaan hatinay bukan berasal dari kalangan selebriti?
Memangnya kenapa sih Gabriel naksir Sivia? Mungkin saja Gabriel menemukan sesuatu yang membuatnya senang dan nyaman pada diri cewek itu. Seperti halnya gue menemukan sesuatu pada Sivia, sesuatu yang bikin gue sesak, labi, bahkan ada perasaan ingin menghindari tatapannya.
Namun perasaan aneh itu justu perlahan mendorong Alvin untuk mencari tahu. Apa yang mendorong munculnya perasaan macam itu? Sekali lagi ia mencoba menekankan pada dirinya sendiri bahwa Sivia hanyalah cewek SMA biasa bahkan cenderung ceroboh yang seharusnya nggak bisa bikin dia merasa aneh setiap kali mereka berhadapan.
Belum lagi Alvin menemukan jawaban atas hal itu, hari ini ia malah menemukan kenyataan Gabriel menyukai Sivia. Dan entah kenapa ada sejumput rasa tak suka mengetahui sahabatnya itu naksir Sivia.
Sivia memang imut yah, bisa dibilang lumayan cantiklah.... tapi tetap tidak sebanding dengan cewek-cewek gandengan gabriel sebelumnya, kan?!
Kenapa gue harus nggak suka? Apa karena menurut gue, Gabriel seharusnya nggak memilih Sivia? Apa gue pikir Gabriel seharusnya cari cewek yang lebih oke, lebih seksi, dan lebih segalanya daripada Sivia kayak pacar-pacarnya yang dulu?
Kayaknya bukan. Kayaknya bukan itu alasan gue. Gue juga nggak ngerti, yang jelas gue nggak suka...
"Lagi PMS, ya?" sebuah tangan menepuk pundak Alvin ringan. Cowok itu menoleh. Rio. Alvin melempar senyuman sesantai mungkin.
"Sudah mainnya?"
Rio berdiri persis di samping Alvin, sedikit menengadah menatap langit. "Sudah. Lo nggak mau cerita?"
"Cerita?"
Tawa kecil Rio terdengar. "Jelas banget kelihatan lo lagi nggak oke." katanya sambil menatap Alvin dalam.
"Nggak!" Alvin menyahut. "
Na gwaenchana. Geokjeongma... (gue nggak pa-pa. jangan khawatir)"
"
Geotjima!! (bohong lo!)" Rio menoyor kepala Alvin pelan sambil tertawa.
Alvin membalas tertawa. Ia mengajarkan bahasa Korea pada teman-temannya. sedikit-sedikit mereka bisa menggunakannya.
"Rio." Alvin menatap lekat sahabatnya yang satu ini bisa dibilang paling dekat dengan Alvin. Selain itu orangtua Rio kebetulan salah satu teman dekat orangtua Alvin.
"Ada apa?"
"Kalau teman lo ada yang biasa naik Porsche atau apalah, tiba-tiba dia naksir dan beli mobil rakyat yang di pakai hampir semua orang di negri ini, apakah lo akan setuju?" tanya Alvin.
Dahi Rio berkerut sedikit. Ia nggak ngerti pertanyaan Alvin yang nggak penting itu. Tapi ia memutuskan untuk menjawab. "Nggak, itu sedikit... konyol!?!" nada suaranya nggak terlalu yakin.
Alvin menatap mata Rio, "
A-jinjja? (benarkah)" tanya Alvin. "
Doshi saenggakhaebwa! (pikirkan lagi!)"
Nero mengangkat bahu bingung lalu mengatakan jawaban tetap sama.
Alvin menghembuskan napas lega. Ia tersenyum dan menatap langit. Ternyata ia memang seharusnya nggak setuju Gabriel menyukai Sivia.
Nero juga memikirkan hal yang sama kan? Gue nggak perlu khawatir.
***
Saat yang ditunggu-tunggu siswa SMA SCS akhirnya tiba! Festival sekolah tahun ini!!!
Setelah melewati persiapan yang lupayan pelik dan melibatkan banyak pihak, panitia festival sekolah akhirnya menggelar event tersebut.
Karna hari ini hari pertama festival sekolah, seluruh kegiatan belajar-mengajar ditiadakan. Para siswa senang setengah mati.
"Wah," Ify menyenggol Sivia, menyuruh cewek itu menoleh ke stan klub fotografi. "David Toriyama!" serunya.
"Cakep ya!" Sivia tersenyum. Toriyama kurus tinggi, dengan rambut lurus agak panjang di potong shaggy, dan kulit putih bersemu.
Deva melengos lalu menoyor kepala Ify cukup keras. "Bisa nggak sih, semeniiiiiit aja nggak ngurusin cowok-cowok kece di sekolah?!?!?" omelnya dengan wajah tertekuk dan bibir maju beberapa senti.
"Sirikk!" balas Ify sambil membalas menoyor Deva. "Dasar rese!"
"Eh, ke sana yuk!" kata Ozy antusias, lalu melirik sambil menunjuk stan klub
web designing.
"Kalian mau ikut lihat-lihat ke sana nggak?" ia mengajak Sivia dan Ify yang masih melotot memandang Toriyama dari kejauhan.
"Nggak ah! Males bareng anak rese!" kata Ify jengkel.
"Mau nyamperin stan fotografi?" tanya Sivia.
Ify menggeleng. "Nggak hobi! Motret pakai HP aja hasilnya kacau!" Gadis itu tertawa renyah.
Mereka jalan bareng menyusuri stan demi stan, sambil memandang sekeliling karena banyak banget kehebohan di sana. Setiap stan klub ramai dan sibuk dengan acara masing-masing. Suasana bazar ini mengingatkan Sivia pada bazar amal C Foundation yang dihadirinya bersama Gabriel dulu.
Tiba-tiba Sivia celingukan mencari sosok Gabriel di keramaian.
Mungkin dia lagi keliling dengan teman-temannya, pikir Sivia. Ify menceritakan di sekolah ini ada lima cowok yang paling populer, sekaligus paling keren, dan paling nakal kecuali salah satu teman mereka yang ber-IQ 170.
Rupanya begitu, Pantas aja sebelumnya Ify cukup sering menyebut-nyebut 'kelima pangeran' yang cuma bisa bikin gue bengong karena nggak tau apa-apa, batin Sivia.
Sivia masih belum menemukan Gabriel sepanjang bazar. Kini ia dan Ify mampir di stan handicraft dan mengagumi hasil karya anak-anak klub yang dipamerkan.
Hmm... mungkin kelima pangeran itu bolos sekolah. Mereka memang sering bolos, kan? Setidaknya begitu kata kakaknya Ify.
Seolah menjawab pertanyaan Sivia mengenai keberadaan lima pangeran SCS, tahu-tahu Ify mencengkram lengan Sivia keras sambil berbisik di telinga cewek itu, "Oh
My! Itu mereka!"
Arah padangan Ify tertuku ke stan klub tataboga, tempat empat cowok jangkung berdiri santai, menyaksikan seorang cowok dengan ahli memamerkan kehebatannya memasak. Sedangkan anak-anak lain yang juga antusias menyaksikan sang koki, berdiri sedikit di belakang mereka. Anak tersebut tak hentinya memandang kelima sosok itu, antara padangan penuh inget tahu dan kagum.
***
STAN KLUB TATA BOGA...
"Oke berikutnya kita masukkan ayam
fillet yang sudah dilapisi tepung dan digoreng sebelumnya." Tangan Rio dengan luwes memasukan beberapa potong ayam ke wajan di hadapannya.
"Sivia!" Gabriel melihat Sivia dan langsung memanggil cewek itu dengan gaya cerianya yang nyantai seperti biasa.
"Sudah mengelilingi semuanya?" Gabriel bertanya setibanya di hadapan Sivia.
Sivia menggeleng. "Belum."
Gabriel tertawa renyah. "Gue lagi nonton demo masaknya Rio, sohib gue." Gabriel berkata sambil menunjuk cowok yang berdiri di belakang kompor, mengenakan topi koki, dan sibuk memasak. "Dia ketua klub tata boga. Lo suka masak, nggak? Ikut lihat yuk!" cowok itu menggandeng tangan Sivia lembut, membuat mata Ify menjadi emapt kali lebih bulat dan besar ketika melihatnya.
"Oke.." Dengan lembut Sivia menarik tangannya dari genggaman Gabriel. "Oiya, kenalin, ini teman gue namanya Ify." kata Sivia ke Gabriel, memperkenalkan Ify padanya.
Gabriel tersenyum. "Hai.. gue Gabriel.." Gabriel mengulurkan tangannya, untuk bersalaman dengan Ify.
Ify ternganga, matanya membulat. Nggak percaya bisa berkenalan apalagi bersalaman. "Gue.. Ify.." kata Ify gugup sambil menjabat tangannya dengan Gabriel. Ify terlihat nyaris menangis. Cewek itu menatap Sivia penuh haru karena telah memperkenalkan seorang Gabriel padanya di hari yang tak akan terlupakan ini!
Namun Ify merasa sedikit nggak nyaman. Ia berpikir pasti ada '
Something' antara Gabriel dan Sivia. Kalau nggak, mana mungin cowok keren itu menggandeng tangan Sivia kayak tadi?
"Vi.." Ify menowel pundak Sivia. "gue mau cari Deva sama Ozy dulu, ya!" gumamnya. Kemudian ia berpamitan dengan Gabriel dan tentunya sambil tersenyum supermanis. Lalu meninggalkan Sivia di sana.
Sivia berjalan bersama Gabriel dan membaur dengan ketiga pangeran lainnya yang masih asyik menonton Rio memasak. Melihat alvin ada di sana, kontan saja perut Sivia seperti tergelitik.
Cowok jangkung itu berdiri tepat di sebelah kiri Cakka, bersedekap. Sivia melihat Alvin tertawa-tawa dengan Cakka .
Tapi saat menoleh ke arah Sivia dan Gabriel yang bergabung, ekspresi Alvin langsung berubah. Tawanya lenyap sama sekali digantikan dengan wajah datar tanpa ekspresi yang sudah jadi ciri khasnya. Sivia tersenyum sebagai apaan pada Alvin ketika tatapan mereka bersedobak, tapi cowok itu sama sekali tidak membalas malah mengalihkan pandangan dengan cuek.
"Guys.. kenalin ini Sivia.." kata Gabriel, kemudian ia menyebutkan satu persatu nama teman-temannya.
"Halo, Sivia.." sapa Cakka sambil tersenyum, diikuti ray menyapa Sivia dengan gaya ceria dan senyum lebar. Rio melambaikan tangan yang sedang memegang spatula sambil mengucapkan sesuatu yang intinya mengajak Sivia bergabung dengan klub tata boga SCS. Sivia hanya tertawa renyah.
Alvin hanya menyapa datar sambil sedikit mengangkat alis. Ia melambai sedikit lalu kembali pada posisi sebelumnya.
"
Guys, I have to go..." Cakka tiba-tba bersuara. "
Sorry, Rio.. hahaha I can't watch you any longer, gue harus balik ke stan klub bola.!" katanya. Ia pun pergi dari stan tata boga. Begitu pula dengan Ray harus kembali ke stan klub musik, di mana juga Gabriel seharusnya bertugas.
"Sekarang, silahkan cicipi masakan ini, sebelum mencoba hidangan yang lainnya!!!" Rio berseru sambil menuangkan masakannya ke beberapa piring kertas yang sudah di siapkan. Beberapa siswa langsung menyerbu.
Sivia, Gabriel, dan Alvin mundur sedikit.
"Lo nggak keberatan nunggu sebentar di sini?" tanya Gabriel lembut kepada Sivia. "gue mau ke toilet."
"Ah," Sivia tersenyum. "Tapi..."
"Oke, tunggu disini!" Gabriel melangkah meninggalkannya. Cowok itu juga sempat menitipkan Sivia pada Alvin.
"Ternyata lo pacar teman dekat gue." gumam Alvin datar tiba-tiba mengagetkan Sivia. "Sekolah ini memang sempit banget, ya!" imbuhnya sambil menatap cewek itu sekilas.
"Ngg..." Sivia menoleh. "bukan kok, Gue dan Gabriel..."
"Alvin!" mendadak Shilla muncul dan menggandeng Alvin dengan manja. "Aku nyariin kamu dari tadi, Alvin! HP kamu kok nggak aktif?!"
Alvin tersenyum tipis terpaksa. "Baterainya habis." sahutnya.
Kenapa dia harus ngejar gue terus sih? Nggak bisa ya dia bebasin gue dan baru memulai segala tingkah anehnya ini bila kami sudah menikah nanti? dasar perempuan!
"Eh, ada Sivia!" kata Shilla. "Kenapa kalian berdua bisa di sini bersama-sama?"
"Sivia lagi nunggu Gabriel." jawab Alvin cepat.
Shilla melebarkan bola matanya. "Gabriel? apakah ada sesuatu di antara kalian berdua?" gadis itu bertanya sambil mendekatkan tubuhnya pada Sivia. "Kalau iya, lo harus bersyukur banget, Sivia!"
"Jangan campuri urusan orang, Shilla!" gumam Alvin pelan, sepintas ia memandang Sivia yang kebetulan juga memandangnya;
"
Back!!" terdengar suara ceria Gabriel. Membuat Sivia melepaskan napas lega. Cowok itu menyodorkan sebotol pocari sweat pada Sivia, ia juga membawa sekaleng yang sudah dibukanya. "Kebetulan lewat penjual minuman tadi." ujarnya.
"Makasih.." Sivia bergumam, yang dibalas Gabriel dengan senyuman tulus seperti biasa.
Alvin mendengus. "
Well, you didn't buy one for me..." candanya sambil menatap Gabriel.
Gabriel menyodorkan Pocari Sweat miliknya pada sahabatnya, dan Alvin meneguknya. "Hai, Shilla! Lagi jagain Alvin?" guraunya.
Shilla tersipu.
"Tenang aja, Alvin itu mati rasa sama cewek-cewek dan nggak bakal buat macam-macam." Gabriel berkata santai. "Lo nggak perlu nelepon setiap satu jam." kemudian cowok itu tertawa.
Alvin hanya tertawa kecil setelah meneguk Pocari Gabriel, lalu melirik Shilla. Dalam hati ia berharap cewek itu benar-benar menaati ucapan Gabriel. Meskipun Alvin hampir tak pernah mengangkat telepon dari Shilla, tetap saja dering HP sering sekali sangat mengganggu karena terus berbunyi bagai beker yang dinyalakan setian 60menit.
Mendengar perkataan Gabriel, kelihatannya Shilla agak kurang senang. Ia melirik Alvin berharap cowok itu mengatakan
he's really okay with her every hour call, tapi Alvin diam saja.
Alvin sangat menyadari gerakan cepat Gabriel, dan matanya sempat melihat ke tangan sahabatnya itu yang menggenggam tangan mungil Sivia dengan hangat. Tanpa disadari, tangannya sendiri telah di genggam Shilla. Alvin ingin melepaskan, tapi ia tak ingin Shilla terluka. Kakeknya sering berpesan, Alvin harus bersikap baik pada Shilla karena gadis itu sangat sangat mencintainya dan sekaligus juga calon istrinya.
"Sampai ketemu sejam lagi, saat acara games dimulai!" Gabriel berkata riang pada Alvin dan Shilla, ia mengajak Sivia meninggalkan pasangan itu.
~~PIECE 10~~
Perasaan senang yang dirasakan Sivia dan Gabriel di bazar amal C Foundation tempo hari seolah terulang kembali.
"Sudah memutuskan mau ikut klub apa?" Gabriel bertanya.
"Belum." cewek itu menggeleng singkat. "tapi kayaknya
newsletter menarik, ya!"
Gabriel tertawa pendek. "Masa?" katanya sebelum menggigit burger ayam yang tadi ia beli di stan tata boga. "Gue kurang berminat sama dunia jurnalistik, tulis-menulis, dan sebagainya."
Sivia menjawab, "Gue suka! Tapi... kayaknya semua klub disini menarik." ujarnya bimbang. Ia setengah melirik stan klub Taekwondo, karena barusan ia melihat Alvin sedang berbincang dengan anak-anak di stan itu bersama Shilla yang setia di sampingnya. Alvin tidak memakai kostum seperti anggota klub yang lain.
"Hmmm, Shilla itu pacarnya Alvin, ya?" Sivia bertanya ringan.
"Iya." sahut Gabriel. Ia tahu Shilla bukan sekedar pacar Alvin melainkan calon istri yang telah disiapkan sang kakek untuknya. Namun Gabriel merasa tak perlu menceritakan hal itu, "Sivia, istirahat dulu yuk! Capek juga dari tadi keliling." cowok cakep itu meringis, terlihat lucu dan imut.
"Kaki lo pegel ya?" Sivia tertawa.
Gabriel mengangguk dan memberitahu Sivia bahwa di ujung pelataran sekolah ini disediakan beberapa bangku untuk duduk, maksudnya mau mengajak Sivia istirahat disana.
"Sebentar lagi, ya..." Sivia merayu, "gue kepingin ke Tenda ramalan dulu!"
"Tenda Ramalan? Ngapain?"
Sivia memutar bola matanya. "Buat main kasti!" sahutnya dengan ekspresi kesal yang tentunya pura-pura. "Ya buat di ramal lah! Memangnya mau apa lagi ke Tenda Ramalan?!?!" Cewek itu mencubit lengan Gabriel.
Gabriel tertawa lepas sambil melepas lengannya yang baru saja dicubit. "Tapi... ngapain ke Tenda Ramalan? Yang meramal di sana cuma anak cewek kelas XI yang kebetulan anggota klub Mandarin. Sudah pasti nggak akurat!"
"Begitu ya?" Sivia membesarkan mata. "Tapi nggak pa-pa deh, cuma coba-coba kok!" gadis itu tetap berkeras.
Alis Gabriel mengerut. "Yakin? Gimana kalau dia cuma bohong dan ngomong hal buruk tentang lo?"
Tawa Sivia berderai. "Biar aja!"
Gabriel menggeleng, ia pasrah.
Kenapa sih cewek-cewek suka banget diramal? Bahkan Sivia juga...
"Yuk!" Sivia menarik lengan kemeja Gabriel menuju tenda ramalan.
***
DI DALAM TENDA RAMALAN...
"Selamat datang di Tenda Ramalan..." Sambut si peramal, begitu Sivia dan Gabriel memasuki tenda kecil itu.
"Silahkan duduk..." si peramal berkata.
Sivia dan Gabriel duduk bersila di karpet, menghadap meja ramal mungil.
"Ah! Gabriel?!?!" serunya tak percaya.
Gabriel hanya mengangkat kedua alisnya tersenyum lucu. "Iya. Gue Gabriel!
Si peramal menggeleng. "Nggak disangka.. sungguh kehormatan bisa meramal salah satu pangeran SCS hari ini!"
"Hmm, sebenarnya.. dia yang mau diramal." Gabriel berkata pelan sambil menunjuk Sivia.
"Ah, aku mengertiiii!" peramal itu berkata lambat sambil mengangguk-angguk beberapa kali, seolah berhasil membaca sesuatu, "Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Sivia.
"Aku melihat ada gelombang yang kuat antara kalian berdua." kata peramal. "Jadi ada baiknya aku meramalmu juga." matanya beralih pada wajah Gabriel lagi.
Gabriel tertawa pasrah. "Nggak masalah." ujarnya.
Peramal menarik napas, lalu menatap Sivia dan Gabriel dengan sorot mata yang tajam, agak suram, dan misterius. Kemudian peramal menanyakan tanggal lahir Sivia dan Gabriel.
"Hmm..." peramal memejamkan mata. "kuberitahu, ya... Musim semi yang indah dan menyenangkan takkan berlangsung lama." ujarnya kemudian menatap Gabriel. "Karena akan segera menjadi musim panas yang gelisah dan menyesakkan, lalu menjadi musim gugur yang merontokkan semuanya, dan apabila yang berahir dengan musim dingin yang menusuk... kamu harus siap."
Gabriel mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Sivia yang juga memandangnya bingung.
"Sangat disayangkan..." peramal itu menggelengkan kepala dengan wajah iba. "tapi tak perlu khawatir. Karena takdirmu seterang dan sehangat mentari pagi." Ia tersenyum teduh kepada Gabriel. "Kebahagiaan tak pernah jauh dari jangkauanmu."
Lagi-lagi Gabriel berusaha mencerna perkataan si peramal dan tidak berhasil. Tapi ia mengambil sisi positifnya saja. Paling tidak, kalimat
Kebahagiaan tak pernah jauh dari jangkauanmu menurutnya pertanda yang bagus.
"Kamu..." peramal memandang Sivia lekat. "ada satu hal yang perlu kamu ketahui."
"Kupu-kupu yang hilang telah menemukan pasangannya." peramal itu memejamkan mata lalu melanjutkan, "namun ia hadir dalam keadaan buta."
Sivia menggigit bibir. Ia kecewa karena tidak secuil pun perkataan peramal yang ia pahami.
Apaan sih? kupu-kupu buta? huh...
Gabriel berdeham. "Begini.. gue sama Sivia sama sekali nggak ngerti apa yang..."
Peramal mengangkat tangan, meminta Gabriel berhenti bicara. "Bukan tidak mengerti, tapi belum.." gumamnya sambil merapikan kartunya. "Jangan terlalu dipikirkan juga, ini hanya 'ramalan' kan?" ia tersenyum simpul.
Sivia dan Gabriel ikut tersenyum
Benar juga, pikir Gabriel.
Ini hanya ramalan da ngue nggak benar-benar kepingin tahu maksudnya. Ramalan hanya untuk fun, lagi pula sejak kapan sih gue peduli sama ramalan? hahaha!
"Sebagai suvenir, ini untuk kalian." peramal memberikan dua kalung dengan liontin berbentuk cincin kecil. "Semoga membawa keberuntungan." ujarnya lagi.
Setelah mengucapkan terima kasih, Sivia dan Gabriel keluar dari Tenda Ramalan. Dengan cuek Gabriel mengenakan kalung dari peramal tadi. Ia tidak berharap kalung ini membawa keberuntungan atau apa. Cowok itu cuma kepingin memakainnya. Melihatnya, Sivia ikutan melingkarkan kalung itu di lehernya.
***
Seperti yang dijanjikan sebelumnya, meereka menuju bangku kayu di taman ujung pelataran SCS untuk mengistirahatkan kaki.
"Keluarga gue nggak percaya ramalan." Gabriel berkata. "Kata nyokap, selama kita berusaha dan berdoa, nggak ada yang mustahil. Lo pasti bisa meraih impian, walaupun semua peramal bilang lo nggak mampu."
Sivia tersenyum. Ia suka melihat wajah jenaka Gabriel tampak agak serius ketika berbicara. "Ya, gue setuju. Tapi gue kepingin bisa membuktikan apakah ramalan itu ada benarnya atau memang cuma omong kosong..."
"Bagaimana lo bisa membuktikannya?" Gabriel tertawa geli. "Lo aja nggak ngerti ucapan si peramal tadi. Lo nggak tau apa maksudnya sama sekali, jadi apa yang akan lo buktikan?" cowok itu menyenggol bahu Sivia pelan, masih sambil tertawa.
Sivia bersandar pada sandaran bangku kayu, "Memang sih." ia cemberut. "Apa coba maksudnya kupu-kupu buta? Kenapa sih dia nggak langsung bilang maksudnya tanpa bertele-tele?!"
"Sudahlah, nggak usah dipikirin." Gabriel menatap Sivia dalam. "Ramalannya untuk gue juga aneh, kan? Masa dia ngomong panjang lebar tentang empat musim? Mungkin dia nggak sadar di sini hanya ada dua macam musim." cowok itu terkekeh pelan.
Sivia tertawa. "Tapi kayaknya peramal itu cukup profesional."
"Profesional bagaimana? Dia murid kelas XI. Tahun lalu ia menguntit Cakka selama beberapa bulan sebelum akhirnya Cakka marah dan mengancam akan melaporkannya ke Mr. Penguin."
"Hahahaha! Begitu ya?" Sivia tertawa kecil.
"Yup. Lo mau melihat peramal yang profesional?" Gabriel bertanya sambil tersenyum lebar.
Sivia mengangguk,
mungkin Gabriel kenal peramal 'sungguhan', batin Sivia. Cowok itu menarik tangan Sivia lembut tapi kuat. Dengan ekspresi manis meneduhkan, Gabriel berlagak membaca telapak tangan Sivia. Sivia tidak menarik tangannya, melainkan tertawa-tawa melihat Gabriel merakting sebagai peramal profesional.
"Hmm, terbaca jelas di sini..." cowok itu menyusuri telapak Sivia dengan telunjuknya. "ada seseorang yang sangat memperhatikan lo. Bahkan... dia mencintai lo, dan selalu kepingin melihat lo
happy." Gabriel mengangkat wajah menatap Sivia sambil tersenyum tulus, ia melanjutkan. "Orang itu berharap, sekarang atau kapan pun ia bisa menjadi sosok yang paling membahagiakan lo." Gabriel meletakkan tangan Sivia ke pangkuan gadis itu, lalu menatap Sivia lembut. "Itu ramalannya. Mudah di mengerti dan nggak bertele-tele, kan?"
Sivia merasa wajahnya memerah dan jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia mencoba tetap tetrlihat santai. Ia tersenyum. "Apakah ramalan itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan? Gue nggak yakin..." balasnya.
Gabriel tersenyum kemudian menggigit bibir bawahnya, tampak dari matanya, ia berpikir sejenak lalu menjawab, "Tentu saja bisa. Mau taruhan sama gue?"
"Apa taruhannya?"
"Biar gue mikir sebentar." Gabriel menyandarkan tubuhnya dengan rileks, lalu menatap langit. "Begini.." cowok itu menghadap Sivia.
Gabriel membulatkan matanya sedikit, memandang Sivia. "Kalau lo benar, hati gue boleh buat lo. Tapi kalau lo salah, hati lo buat gue..." katanya lembut, sangat lembut, bahkan. Suara itu, ditambahkan betapa teduh sorot mata gabriel, bikin Sivia semakin deg-degan.
Angin bertiup mengacak-acak rambut panjang Sivia yang dibiarkan terurai. Cewek itu nggak tau harus jawab apa. Ia tau persis maksud Gabriel, namun sekarang ia hanya mendapati dirinya
totally speechless untuk menanggapinya.
Tiba-tiba tangan Gabriel mendekat, menyisihkan helai-helai rambut sivia yang tertiup angin dengan lembut. Keduanya tidak bicara. Hanya saling bertatapan dengan jarak yang dikatakan sangat dekat. Kemudian Gabriel menyelipkan rambut Sivia ke belakang telinga cewek itu. Sivia hanya diam. Dan tiba-tiba saja....
"Ehem..." terdengar suara orang berdeham. "Maaf banget mengganggu..."
Baik Sivia maupun Gabriel kontan menoleh. Seorang cowok berseragam sekolah lain berdiri nggak jauh dari mereka dengan wajah penuh dendam. Sivia langsung ingat siapa cowok itu. Ia cowok di minimarket yang berkelahi dengan Alvin waktu itu!!!!!
"Tian..." desis Gabriel tajam. Cowok itu bangkit dari duduknya, sementara Tian berjalan mendekati.
"Apa kabar, Gabriel? Masih belum berubah rupanya... Selalu cewek, cewek, dan cewek." Tian mengangkat alis.
"Mau apa lo kesini?" Gabriel bertanya dingin.
Tian mendelik. "Lho, memangnya nggak boleh? Gue kangen sekolah sialan ini. Kangen gedung raksasanya, lantai yang mengilap, dan tentunya festival tahunannya."
"Apa mau lo?" Gabriel bertanya garang, matanya tajam menatap Tian dengan sorot mata yang menyatakan ketidaksukaan. "Jangan bikin kericuhan di sini!"
"Hei... sabar, Gabriel!" Tian masih terkekeh sambil menepuk pundak Gabriel. "Orang ganteng nggak boleh gampang emosi!"
Gabriel menyingkirkan tangan Tian dengan kasar, sama sekali tidak menganggap gurauan Tian lucu.
"Gue sengaja bolos demi datang ke festival ini, untuk bertemu siapa pun dan kilima pangeran berengsek SCS, dan ngasih tau bahwa urusan kalian dengan Septian belum selesai." Tian mengertakan gigi. "Ternyata takdir mempertemukan kita..." tambahnya sambil nyengir.
Rahang Gabriel tampak mengeras. "Semuanya sudah selesai. Silahkan lo pulang!"
"Lo sama aka dengan si Alvin itu!" Tian mencibir. "dengan enteng menganggap semuanya selesai. Kalian semua memang sama! Jangan kalian pikir, karena kepopuleran kalian atau kehebatan nenek moyang yang nangkring di belakang nama kalian, lantas gue takut?"
Gabriel menyipitkan mata.
Apakah Tian sudah pernah bertemu Alvin setelah kejadian di The Nine Ballz? "Pergi, Tian!" tegas Gabriel.
"Gue nggak takut. Gue malah akan menghancurkan kalian." Tian melanjutkan. Ia mendekatkan wajahnya kepada Gabriel, yang membuat bau napasnya yang sarat aroma alkohol dan rokok dapat terhirup lancar oleh Gabriel. "Ingat baik-baik!"
"Pergi!" Gabriel berkata datar.
Tian mengangkat bahu. "Oke." katanya sambil memandang Sivia yang masih duduk di bangku kayu. Pandangan mereka bertemu. Tiba-tiba Tian tersenyum dan mengedip penuh arti pada Sivia, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Sebuah pemikiran muncul di otaknya. Tian ingat betul siapa gadis yang duduk bersama Gabriel tadi...
~~~~~