Selasa, 10 Mei 2011

Galau-

Mungkin aku tidak bisa memilikinya...
Tapi aku mohon... izinkan dia jadi milikku walau hanya sebentar...
SEBELUM AKU MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRKU...








-sekian dan terimakasih-.-

Minggu, 01 Mei 2011

Doaku...

Tuhan...
Bahagiakanlah kedua orangtua-ku dan kakak-kakakku..
Berilah mereka umur yang panjang..
Berilah rezeki yang berlimpah untuk mereka..

Tuhan...
Berilah aku ilmu yang berlimpah...
Agar aku bisa membanggakan kedua orangtuaku...

~

Tuhan...
Biarkan orang yang ku cintai bahagia...
Lindungilah dia...

Tuhan...
Biarkanlah ia menjadi milikku... walau hanya sementara..

Tuhan...
Bila itu tidak mungkin...
Hapuskanlah ingatanku tentangnya...
Jangan sampai ia merajalela di ingatanku..
Semua itu hanya bisa menyiksa dan hanya menimbulkan Air mata dan kesedihan...

-I-A-L

no tittle

RASANYA GUE MAU TUTUP ACCOUNT TWITTER DAN FACEBOOK GUE!!!

CUMA BIKIN SIAL DAN SAKIT HATI!

Rabu, 27 April 2011

Song Lyrics Jessie J ft B.O.B - Price tag

[Jessie J]
Seems like everybody's got a price,
I wonder how they sleep at night.
When the tale comes first,
And the truth comes second,
Just stop, for a minute and
Smile

Why is everybody so serious!
Acting so damn mysterious
You got your shades on your eyes
And your heels so high
That you can't even have a good time.

[Pre-chorus]
Everybody look to their left (yeah)
Everybody look to their right (ha)
Can you feel that (yeah)
Well pay them with love tonight...

[Chorus]

It's not about the money, money, money
We don't need your money, money, money
We just wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag

Ain't about the (ha) Cha-Ching Cha-Ching.
Aint about the (yeah) Ba-Bling Ba-Bling
Wanna make the world dance,
Forget about the Price Tag.

[Jessie J - Verse 2]
We need to take it back in time,
When music made us all UNITE!
And it wasn't low blows and video Hoes,
Am I the only one gettin'... tired?

Why is everybody so obsessed?
Money can't buy us happiness
Can we all slow down and enjoy right now

Guarantee we'll be feelin
All right.

[Pre-chorus]
Everybody look to their left (yeah)
Everybody look to their right (ha)
lyricsalls.blogspot.com
Can you feel that (yeah)
Well pay them with love tonight...

[Chorus]

[B.o.B]
Yeah yeah
well, keep the price tag
and take the cash back
just give me six streams and a half stack
and you can keep the cars
leave me the garage
and all I..
yes all I need are keys and guitars
and guess what, in 30 seconds I'm leaving to Mars
yes we leaving across these undefeatable odds
its like this man, you can't put a price on the life
we do this for the love so we fight and sacrifice everynight
so we aint gon stumble and fall never
waiting to see, a sign of defeat uh uh
so we gon keep everyone moving their feet
so bring back the beat and everybody sing
it's not about...

[Chorus x2]

[Jessie J -Outro]
Yeah yeah
oo-oooh
forget about the price tag

Selasa, 26 April 2011

Kupu-Kupu Salju. Part7

~~PIECE 11~~

Setiap orang pasti punya rahasia yang benar-benar sangat rahasia sampai tak seorang pun akan diberitahu.

Begitu juga Alvin. Cpwpk itu punya sebuah rahasia yang belum pernah diberitahu, bahkan kepada teman-teman terdekatnya. Ia menyimpan sendiri rahasia itu, sambil berusaha mengatasi sekaligus mencegahnya terjadi lagi.

Mungkin juga karena rahasianya itu, kadang Alvin agak tertutup. Kadang Alvin juga merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri. Saat bersama teman-temannya, cowok itu memang merasa bahagia dan bisa melupakan rahasianya. Namun bila sedang sendirian, menatap langit yang cerah atau menikmati hujan dikamarnya, rasa gelisah itu datang lagi. Setumpuk pertanyaan tak terjawab kembali menghantuinya.

Kenapa gue selalu merasa ada yang hilang dari hidup gue?

Alvin Sindhunata tidak bisa mengingat masa kecilnya. Seakan masa-masa indah itu masa-masa ia mengenakan seragam TK, berangkat ke sekolah membawa bekal makanan terlezat, dan naik ayunan denga nteman-teman di taman bermain menguap begitu saja dari memorinya. Semudah men-delete file-file tidak penting dari laptopnya.

Kadang Alvin meminta maaf pada dirinya sendiri, menyesal karena tidak bisa mengingat masa-masa yang ingin diingatnya. Namun Alvin tidak pernah berterus terang pada teman-temannya. Ia merasa malu dan aneh.

Mana ada orang kayak gue? Yang nggak bisa ingat apa pun di masa kecilnya? Gue nggak ingat pertama kali gue bisa menulis nama gue, atau pertama kali gue sukses mengikat tali sepatu. Di mana sekolah gue waktu TK? Apakah gue ikut kelompok bermain? Anehkah gue? Demi Tuhan, gue nggak mau jadi orang abnormal...

Teresa Sindhunata pernah menunjukkan sebuah gedung sekolah TK kecil di Seoul nggak terlalu jauh dari rumahnya. Kata beliau, itu sekolah Alvin dulu. Namun Alvin hanya menatap hampa sambil berusaha mengingat aoakah ia memang pernah bersekolah disana. Tidak ada yang berhasil di ingat Alvin. Ia merasa tidak pernah memasuki TK itu.


Alvin juga tidak ingat hari pertamanya menjadi siswa Sekolah Dasar. Ia bahkan tidak tahu asal-muasal bekas luka di sisi kiri wajahnya. Ia tidak ingat pernah terluka di bagian wajah apalagi luka yang sampai sekarang meninggalkan bekas.

Mungkin gue bisa bilang, nama gue Alvin. Tapi, siapa Alvin? Gue nggak tahu siapa diri gue. Semuanya hanya seperti potongan-potongan puzzle yang nggak lengkap dari hidup gue. Gue selalu merasa ada yang hilang dari hidup gue. Masa-masa yang nggak bisa gue ingat, sekerasa apa pun gue mencoba. 

Gue nggak pernah terbenas dari rasa kehilangan ini. Jujur, perasaan gue nggak pernah tenang. Seolah beban ini terus membayangi hati dan jiwa gue. Bahkan pikiran gue jarang sepenuhnya terlepas dari masalah ini.

Memang, gue belum punya keberanian untuk membiarkan seorang pun tahu kayak apa diri gue ini. Pasti mereka mengira, di balik sosok Alvin Sindhunata yang kelihatannya punya segalanya, terkulai lemas seorang cowok yang tersesat dalam hidup ini, yang bahkan nggak tahu masa kecilnya. Tapi nggak pa-pa, gue yakin suatu saat gue bakal menemukan potongan itu....

Kalau gue udah tahu siapa gue, nggak akan ada lagi rasa kehilangan rasa nggak lengkap. Semua bakal lenyap, karena nggak ada sepercik pun bagian dari gue dari hidup gue yang menghilang.

Sebenarnya, Alvin pernah satu kali mempertanyakan hal ini pada kakeknya. Saat itu Alvin 11 tahun, kebetulan kakeknya tengah mengunjungi Alvin di Korea. Jason Sindhunata mengajak cucunya berjalan-jalan di Dongdaemun, dan ketika itulah Alvin bertanya mengenai ketidakmampuannya mengingat masa kecilnya. Kakeknya menjawab bahwa Alvin pernah mengalami kecelakaan saat belajar bersepda dan mungkin itu membuat bagian memorinya hilang dari ingatannya.

Mendengar penjelasan kakeknya, Alvin kecil hanya mengangguk. Dalam hati ia tahu sang kakek tidak sepenuhnya benar. Alvin merasa dirinya kehilangan semua memori masa kecilnya bukan hanya sebagian.

***

Kini rahasia Alvin bertambah satu lagi.

Entah mengapa, sejak suatu pagi ketika ia nyaris bertabrakan dengan Sivia di koridor lantai 4 SCS, ia jadi sering memikirkan cewek itu. Lebih tepatnya, sejak ia menyadari ada sesuatu yang spesial di antara Sivia dan Gabriel.

Namun yang membuat Alvin merasa aneh, ia kini jadi lebih nyaman bila berhadapan dengan Sivia dibandingkan sebelumnya. Sekarang Alvin tidak lagi merasa sesak dan kepingin menghindari tatapan cewek itu. Ia lebih bisa bersikap biasa meskipun tidak menghilangkan sikap naturalnya yang cenderung cuek.

Malam ini ketika Alvin baru saja tiba ri rumah, ia melihat Sivia baru saja keluar dari ruang belajar Janice.

"Hai..." sapa cewek itu ketika menemukan Alvin berdiri di puncak tangga dengan tas sekolah tergantung di bahu kiri dan tas olahraga tergantung di bahu kanan. Cowok itu mengenakan kaus Von Dutch putih dan celana Banana Republic selutut warna khaki, rambutnya agak berantakan.

Alvin mengangat alis cuek, namun senyum tipis menghiasi wajahnya. "Baru selesai mengajar?"

Sivia mengangguk. "Baru pulang?"

"Ya," Alvin mendekati Sivia. "Perlu diantar?"

"Nggak usah." Sivia merapikan beberapa buku dan alat tulis di dalam pelukannya. "Sekarang bokap gue mempekerjakan sopir untuk antar-jemput gue mengingat kakak gue akan kembali ke Amerika sebentar lagi."

"Oh, begitu?" Alvin menanggapi datar.

Sivia tersenyum (agak bingung dengan sikap Alvin yang lebih ramah malam ini) sambil mengangguk, "Oke, gue pulang dulu. Sopirnya udah datang... Ouch!" pensil dan bolpoin Sivia terjatuh ketika ia mencoba memasukannya ke tas. Kenapa gue jadi begini? Apakah Alvin bikin gue gugup? Well, biasanya sih dia memang bikin gue gugup, tapi kali ini... rasanya 'berbeda'.

Alvin membantu Sivia memungut pensil dan bolpoin, lalu menyerahkannya pada cewek itu. Sivia mencoba pensil mekaniknya, menekan tombol untuk mengeluarkan isi pensil namun tidak terjadi apa-apa. Pensilnya rusak.

"Rusak?" Alvin bertanya sambil membenarkan letak tasnya.

Sivia nyengir. "Iya. Nggak pa-pa. Besok beli baru!" ujarnya.

Alvin membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan pensil mekanik warna merah dari saku depan tas. "Pakai dulu aja." katanya sambil menyodorkan pensilnya kepada Sivia.

"Eh, nggak pa-pa nih?" cewek itu tampak ragu lagi pula pikirannya masih amburadul, antara heran dengan sikap Alvin dan heran dengan jantungnya yang berdegup cepat.

"Iya." Alvin mengangguk. Wajahnya tanpa ekspresi.

Akhirnya Sivia mengambil pensil itu. "Makasih yaa.."

"Non Sivia, spornya sudah menunggu di depan." kata pembantu keluarga Sindhunata.

"Oke, gue pulang dulu, ya!" Sivia berkata, sebelum melangkah menuruni anak tangga.

Masih terpaku di tempatnya berdiri beberapa langkah dari ruang belakar Janice Alvin tersenyum. Kemudian ia membayangkan ekspresi Sivia tadi saat mendapati pensilnya rusak. Cemberut dengan alis mengerut. Alvin tertawa pelan.

"Oppa, wasseoyo?! (kakak sudah datang?!)" Janice tiba-tiba keluar dari ruang belajarnya. "Wae misonyoguyo? Kippeujyo? (kenapa tersenyum sendiri? lagi senang ya?)" kata Janice ceria.

Alvin melenyapkan tawanya seketika. "Ah ani... (ah nggak)" Alvin memasukan tangannya ke saku celana. "Bab meogeosseo? (sudah makan?)"

Janice mendekati Alvin. "Ajikyo... Oppa-rang bab meoggo shipeoyo... (belum... aku ingin makan bersama kakak...)" Janice merentangkan kedua tangannya isyarat sehari-harinya bila minta di peluk Alvin. Cowok itu pun berjongkok dan memeluk adiknya.

"Geurae.... (baiklah..)" Alvin melepas pelukannya. "Oppa ke kamar dulu untuk taruh tas-tas berat ini." ia mengecup pipi Janice. "Setelah itu kita makan malam, ya..."

Janice mengangguk, kemudian berkata lagi, "A-Oppa, Sivia-onnie neun ippeujyo!? ( kakak, kak Sivia itu cantik, ya?)"

"Mwo? (apa?)" Alvin mengerutkan kening. "Aniya..(nggak)" sahutnya cemberut. "Wae geureohke mudnyagu?! (kenapa bertanya seperti itu?!)"

Tapi Janice hanya cekikikan melihat ekspresi kakak tersayangnya.

***

SAN CRISTOFORO SCHOOL, KEESOKANNYA...

Bel waktu makan siang berbunyi.

Ify bernapas lega. PErutnya sudah keroncongan sejak berjam-jam yang lalu. Ia mendambakan seporsi gado-gado di stan masakan Jawa Timur di food court SCS. Hmm.. betapa sedapnya.

"Vi, ngisi perut yuk!" Ify melirik Sivia yang duduk di sebelahnya. "Sudah lapar banget nih!"

Sivia mengangguk. "Sebentar. lagi nanggung!" Sivia menyelesaikan mencatat materi pelajaran accounting yang belum dilengkapinya.

"Oke, gue tungguin. Cepetan!" Ify mengeluarkan HP dari saku rok dan sepertinya membalas SMS yang masuk.

Sivia tengah sibuk mencatat ketika suara Shilla terdengar. "Ngel, lo dipanggil Mr. Darwis disuruh bawa laporan keuangan kelas." kata Shilla pada Angel bendahara kelas yang duduk satu bangku di depan Sivia.

Ify menoleh ke arah Shilla sebelum kembali menekuri layar HP. Ia baru saja tahu dari Sivia bahwa Shilla adalah pacar Alvin. Ify sempat syok, karena lagi-lagi kata kakaknya, Alvin itu dingin banget sama orang yang kurang di kenalnya, apalagi cewek. Tapi ia memang pernah melihat Shilla dengan manja menggandeng lengan Alvin sambil membawakan blackforest buat Alvin.

Shilla menghampiri meja Sivia. Ia menatap tajam. Ify bergidik melihatnya. Bodohnya, Sivia sama sekali tidak merasa Shilla sedang bersiap menerkamnya dari jarak tak lebih dari setengah meter.

"Sivia..." Shilla memanggil lembut namun menusuk. Wajah Sivia terangkat. Ia berhenti menulis dan meletakkan pensil "Gue pingin bicara..." desisnya tajam, tanpa memberi kesempatan Sivia untuk bersuara.

Sivia mengerutkan kening, menoleh sebentar ke arah Ify yang sedang memperhatikan Shilla lalu berdiri.

"Di koridor aja!" Shilla mendesis lagi, kemudian berjalan cepat ke luar kelas. Sivia mengikutinya dengan bingung.

Sepertinya ada yang nggak beres, Ify membantin sambil ikut berdiri. Ia mengikuti Shilla dan Sivia. Mereka berdiri tak jauh dari pintu kelas. Ify merdiri di balik pintu, berusaha mendengar semampunya.

"Ada apa?" tanya Sivia.

Shilla tersenyum sinis. "Jawab aja pertanyaan gue dengan jujur." alisnya yang tipis terangkat sebelah, "Dari siapa lo dapatkan pensil merah itu?"

Oh my... ini petaka, Sivia langsung menyadari arah pembicaraan Shilla. Bodoh banget sih gue mau nerima pensil itu kemarin!

"Hmm... papa gue yang beliin.. memangnya kenapa?" tanya Sivia cuek.

"Jujur aja deh, Sivia!" Shilla mendesis.

"Lo berharap gue jawab apa sih?"

"Gue udah tau lo ngajar Janice di rumah Alvin. Dan itu artinya, lo punya banyak waktu untuk ketemu Alvin!" Shilla melotot. "Kenapa lo ngerayu dia supaya memberikan pensil itu ke lo?"

Sivia mendengus kecil. "Jangan sembarangan, Shilla!"

"Benar kan? Pensil itu bukan dari bokap lo. Kebohongan lo menandakan lo menyembunyikan sesuatu dari gue. Apa mau lo, Sivia? Jangan ganggu gue sama Alvin! Jangan pernah!"

"Gue nggak pernah ganggu kalian! Maaf kalau gue udah bikin lo jealous!"

"Apa kata lo? Cewek sialan!" Shilla mengayunkan tangan hendak menampar wajah cewek di hadapannaya itu. Sok manis di depan, tapi perayu di belakang!

"Ada apa ini?" tangan seorang cowok menahan pergelangan tangan Shilla yangn yaris mendarat di pipi Sivia. Keduanya serentak menoleh.

"Nggak pa-pa, Gabriel!..." kata Sivia pelan.

"Shilla, ada apa?" ia melepaskan tangna shilla sambil menoleh ke arah cewek itu, mengharapkan penjelasan.

"Nothing. Jaga cewek lo baik-baik!" geram Shilla sebelum melangkah cepat meninggalkan mereka.

Di balik pintu kelas X-2, Ify menggigit bibir bawahnya. Ia berpikir keras. Kenapa jadi begini? Permainan apa yang sedang di lakukan Sivia sebenarnya?

***

THE BIG EAST CAFE, SEPULANG SEKOLAH...

"Seva nyerang lo lagi sepanjang sisa jam pelajaran sekolah?" tanya Gabriel.

"Nggak." kata Sivia sambil menggeleng.

Gabriel tersenyum.

"Jangan khawatir!" Sivia mengaduk kopi susunya. "Gue bisa jaga diri."

"Memangnya apa sih yang dipermasalahkan Shilla? Kalau gue boleh tau.." tanya Gabriel.

Sivia menggigit bibir. "Shilla... dia curiga. Curiga gue merayu Alvin. Dia tahu gue ngajar Janice. Padahal, nggak berarti gue merayu Alvin, kan?"

Perlahan senyum Gabriel lenyap. Ia menyimak perkataan Sivia. Tempo hari ia tahu dari Sivia mengenai pekerjaan cewek itu di rumah Sindhunata. Gabriel sempat heran kenapa Alvin nggak pernah memberitahunya bahwa cewek yang diperkenalkannya saat festival sekolah itu guru privat Janice. Tapi Alvin memang hampir nggak pernah tahu apa yang terjadi di rumahnya. Jadi mungkin aja diaj uga baru tahu Sivia mengajar adiknya.

"Gue jarang ketemu Alvin, meskipun seminggu dua kali gue ke rumahnya. Sebagai teman dekat Alvin, pasti lo tau kan cowok itu lebih sering pulang malang sama kayak lo. Ya kan?" Sivia tersenyum

Gabriel mengangguk diam.

"Tapi Shilla mengira yang nggak-nggak." Sivia meneruskan. "Ah... sudahlah. Mungkin hari ini Shilla lagi bad mood aja, jadinya berpikir macam-macam."

"Ya.. Tapi kalau ada siapa pun Shilla mau oun orang lain yang menyerang lo atau pun bikin lo nggak nyaman, lo bisa cerita ke gue." Gabriel berkata lembut tapi tegas. "Gue nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama lo."


"Ehmm... gue punya sesuatu buat lo." Gabriel meraih tas sekolahnya.

Ah, baru aja mikirin segala kebaikannya, ternyata siang ini Gabriel menyiapkan kejutan untuk gue lagi. Gabriel, you're too nice...

"Lagu yang gue ciptakan untuk lo." Gabriel menyerahkan sebuah CD pada Sivia. "Sudah pernah gue ceritain, kan?"

"Gue nggak tau harus bilang apa Gabriel." Sivia meraih CD yang diberikan Gabriel. "Gue... gue bersyukur banget bisa bertemu dan mengenal lo..." ucapnya tulus.

"Semoga lo suka lagunya." ucap Gabriel. :Selain itu gue juga memasukkan lagu-lagu lain. Ada beberapa lagu Brian McKnight yang gue mainkan juga."

"Ah, lo hebat banget!" Sivia kagum. "Gue pasti suka semuanya." Sivia merasa terlalu senang menemukan sosok gabriel dalam hidupnya sampai pingin menangis rasanya.

~~PIECE 12~~

Mbak Ranti mengetuk pintu kamar Sivia. "Non, ada tamu nyari non Sivia..."

"Siapa mbak? Cewek atau cowok?" tanya Sivia

"Cowok. Katanya sih namanya Alvin."

"Alvin?" seru Sivia nggak percaya.

Alvin ke rumah gue? Pasti Mbak Ranti ngaco deh!
Namun ketika Sivia turun dan mendapati Alvin duduk di sofa di ruang tamunya, Sivia merasa bersalah pada mbak ranti.

"Alvin..." sapa Sivia. "Ada apa?" tanya-nya sambil duduk di depan Alvin. Cowok itu kelihatan enjoy, sedang menyeruput minumannya.

Sivia mengenggam tangannya sendiri deng-degan melihat Alvin malam ini. Ia nggak pernah menyangka Alvin bakal datang ke rumahnya mendadak seperti ini, dan dengan tujuan yang tidak ia ketahui pula.

Alvin menatap Sivia. "Lo nggak tau tujuan gue kemari?" tanya cowok itu. Seolah-olah Sivia seharusnya tau benar tujuan kedatangannya.

Cewek itu menggeleng bingung. Isi perutnya serasa diaduk-aduk.

Dengan santai Alvin melepas topi Von Dutch hitam yang di pakainya. "Gue mau ngambil tas sepatu gue. Masih ingat tas itu nggak?" cowok itu tersenyum sedikit.

"Owww..." Sivia melongo. Ternyata itu tujuannya.... "Masih kok. Sebentar gue ambil!"

Ketika kembali ke ruang tamu, nggak hanya tas sepatu Alvin saja yang dibawanya. "Pensil lo ini juga gue kembaliin."

"Kenapa?" Alvin menggigit bibir. Jangan-jangan Shilla....

"Nggak pa-pa. Gue udah beli pensil baru." Sivia duduk. "Lagian, lo juga pasti perlu pensil itu kan untuk sekolah." Sivia tersenyum kecil.

"Ya udah." Alvin menggumam, lalu menerima  tas dan pensilnya.

"Alvin..."

"Ya?" cowok itu menyahut cuek, memandang Sivia.

"Kenapa waktu itu lo bilang tas itu bukan punya lo?"

Alvin menghela napas. "Yah, gue hanya nggak mau Shilla mikir macam-macam."

"Oh..." Sivia mengangguk lemah.

"Oke, gue cabut dulu." kata Alvin sambil berdiri.

Sivia menengadah, memandang Alvin. Secepat itu dia mau pergi?

Setelah menarik napas panjang, Alvin perpikir... Sekonyong-konyong hadir perasaan yang tak pernah ia alami sebelumnya.

Apa ini? Kenapa hari ini gue aneh banget? Tadi gue cuma kepingin ketemu Sivia tapi sayangnya ia nggak ada jadwal mengajar Janice jadi gue memutuskan ke rumahnya dengan alasan mau mengambil tas sepatu. Tapi sekarang, setelah bertemu dan mendapat tas sepatu itu, gue malah... belum kepingin beranjak.

"Ada apa Alvin? Kok lo bengong?" tanya Sivia heran.


Alvin berdecak keras. "Siapa yang bengong?" sangkalnya judes. Ia nggak kepingin kelihatan konyol, berbengong-ria di depan orang? "Ehm, lo keberatan nggak nemenin gue?" tanya Alvin datar setelah beberapa detik.

"Hah?" Sivia membulatkan mata. "Nemenin ke mana? Ngapain?"

Alvin memutar otak. Pikir, Alvin! Dan ketika matanya melihat setumpuk brosur cabang Rossopomodoro Cafe di Mal Puri Indah di samping meja ruang tamu, ia seketika mendapat ide cemerlang.

"Belanja..." Alvin mengangkat bahu sedikit melirik brosur tersebut. "Bahan-bahan untuk masakan Italia."

"Hah?" Sivia semakin bingung. Cowok ini ngomong apa sih?

Alvin menatap Sivia dengan ekspresi bosan memberi kesan bahwa sebenarnya ia malas banget belanja. "Nyokap minta gue belanja untuk keperluan masak. Besok relasi bisnisnya dari kota Turin mau datang, dan Nyokap kepingin menjamu mereka di rumah."

"Begitu?" Sivia mengernyitkan kening. Seorang Teresa Sindhunata pastinya punya terlalu banyak pegawai, bawahan, dan pembantu untuk disuruh belanja bukannya meminta tolong sang putra mahkota ini, kan?

Tapi Sivia tidak protes. Ia membiarkan Alvin bicara. Sambil memperhatikan cowok itu terlihat keren namun kasual dengan kaus Calvin Klein abu-abu, celana tujuh perdelapan bermotif army dan sepasang sandal Oakley. Kemudian Alvin mengatakan, karena ayah tiri Sivia pemilik resto Italia pasti mengerti bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat spaghetti vongole, misalnya.

Sivia setuju menemani Alvin belanja. Entah kenapa ia tak ingin menolak cowok itu. Bahkan Sivia juga setuju untuk membuatkan daftar belanja Alvin. Seusai Sivia berpamitan pada Mama lewat telepon, mereka masuk ke Nissan Alvin yang di parkir di depan rumah, sama sekali tidak menyadari bahwa....

Beberapa meter dari sana seseorang mengawasi mereka memasuki mobil. Dan saat Alvin melajukan Fairlady-nya si pengemudi misterius itu ikut menyalakan mesin mobil. Memulai kegiatan menguntitnya malam ini.

***

DI SEBUAH HYPERMARKET, JAKARTA SELATAN...

Orang itu merapatkan jaket Reebok hitamnya yang ia kenakan. Matanya dengan awas memantau kemana pun mereka pergi. Sambil sesekali mendengus, ia mengamati gerak-gerik sepasang siswa SMA yang sedang berbelanja keperluan memasak itu lekat-lekat.

Tidak kurang cerdik, ia selalu menjaga jarak aman. Tak lupa mendorong troli dan secara acak memasukan barang-barang ke dalamnya. Paling tidak ia terlihat seperti orang-orang lain yang sedang berbelanja di tempat ramai itu.

Sepasang remaja itu terlihat sangat menikmati waktu belanja mereka. Si cowok mendorong troli dengan santai, sedangkan si cewek kelihatannya membawa catatan daftar barang yang mereka beli, si jaket hitam mengeluarkan kamera dari sakunya. Tak sampai semenit, Olympus mungil itu telah mengabadikan beberapa momen yang terlihat 'akrab' di antara Sivia dan Alvin.

Ketika mereka memilih-milih spageti... Ketika mereka mengobrol sangat dekat sambil mengambil anggur putuih... Ketika mereka bercanda sewaktu memilih-milih tomat segar... Ketika Alvin menyentuh kepala Sivia lembut, di konter sayuran...

Si jaket hitam tersenyum sendiri sambil memarkir troli dengan asal di ujung koridor hypermarket. Foto yang terakhir itulah yang paling disukainya. Ia puas. Maka setelah menyimpan kembali Olympus-nya, ia bergegas keluar.

***

KAMAR SIVIA, 23.01...

"Masuk aja, Biet!" seru Sivia dari kamar, menanggapi ketukan pintu dan suara Obiet yang memanggilnya.

Obiet pun masuk. "Apa kabar, adik manisku?" gombalnya.

Sivia menutup agenda sekolahnya. "Ada apa?"

Obiet menggeleng, lalu duduk di samping Sivia sambil memeluk boneka Spongebob. "Kangen aja. Udah lama nggak ngobrol sama lo." katanya ringan.

Bibir Sivia mengerucut. "Siapa suruh keluyuran terus? Jadinya jarang ketemu sama gue, kan?"

"Hahaha!" Obiet tertawa lepas. "Nggak kebalik tuh? Since that gorgeous Gabriel tries to get you, pastinya kalian sering keluar bareng, kan?"

Sivia menyikut pinggang Obiet. "He doesn't try to get me." katanya sambil tersepu.

"Oh yeah? Dan untuk apa CD berisi alunan piano itu? Bukankah khusus dibuat Gabriel untuk lo?" Obiet mengedip jail, lalu mencubit pipi Sivia dengan gemas. "Scusi, Signorina... (maaf, nona...) Gue nemu CD itu tersimpan di laci paling rahasia di kamar ini." ia setengah berbisik dengan senyum kemenangan.

"Stop it, Obiet! I'm not an elementary school girl..." Sivia menyingkirkan tangan kakaknya. "Lo tega banget sih menggeledah kamar gue! Dan soal Gabriel... kayaknya dia bukan buaya darat kayak yang lo bilang..."

"Mungkin aja dia udah berubah sekarang." Obiet tersenyum. "Memangnya bagaimana perasaan lo terhadap dia?"

Sivia menarik napas. "Entah, gue... seneng bareng sama dia. He's really fun to be with..." mata Sivia menerawang, "Gue... kepingin dia bahagia seperti dia selalu bikin gue dan orang lain di sekitarnya bahagia."

"Itu artinya lo jatuh cinta sama dia?A" Obiet mengernyit.

Sivia tidak menyahut. Ia hanya memandang kosong ke depan.

Obiet berdiri. "Sebaiknya lo pelajari dulu perasaan lo sendiri..." Katanya sambil melemparkan si Spongebob ke pangkuan Sivia kemudian mengacak rambut adiknya. "Gue mau online dulu, ada janji sama teman di Tokyo."

Sivia mengangguk pelan. "Night, bro..." ujarnya pelan.

***

"Sebaiknya lo pelajari dulu perasaan lo sendiri..."

Sivia menggigit bibirnya. Apanya yang harus gue pelajari? Perasaan gue?

Seumur hidup Sivia baru satu kali menentukan seseorang sebagai pangeran di hatinya. Dan itu terjadi sudah lama sekali. Namun sejujurnya Sivia masih mengharapkan orang itu kembali memasuki kehidupannya (tapi lupakan sejenak tentang cinta pertama Sivia itu, karena mengharapkannya kembali sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami).

Jatuh cinta...
Apakah itu sam dengan perasaan gue terhadap Gabriel, perasaan bahwa gue selalu lepingin dia mendapat yang terbaik... Selalu bahagia, tetap bahagia. Gue nggak kepingin senyuman itu hilang dari dunia ini. Senyuman hangat yang menentramkan itu...

Atau...
Apakah itu seperti perasaan gue ke Alvin? Perasaan seolah-olah gue selalu merasa ada jutaan kupu-kupu kecil dalam perut gue berlompatan, beterbangan? Jantung gue berdegup cepat dan tentu itu bikin gue gugup.

Sivia menutupi wajahnya di dalam tumpukan bantan dan boneka. Melayang ke saat dia dan Alvin berbelanja tadi. Sivia senang karena Alvin bersikap lebih manis maksudnya nggak jutek. Bahkan Alvin bisa di ajak bercanda. Ia mulai merasa bisa berteman dengan sang pangeran muda Sindhunata.

Namun yang paling membuat hatinya berdesir adalah ketika Alvin mengusap kepalanya dengan lembut ketika mereka berjalan di koter sayuran di hypermarket. "Ada potongan sayur di rambut lo." ujar Alvin sambil tersenyum kecil.

Meskipun Alvin menyentuh rambut Sivia hanya karena ingin menghilangkan secuil daun bayam yang nyasar di sana, Sivia tetap merasa jantungnya berdegup cepat. Bahkan lututnya lemas, dan saat itu ia bingung apakah harus tersenyum atau tidak. Karena sebenarnya ia sangat ingin tersenyum....

Jatuh cinta... Bolehkah aku jatuh cinta?

Sivia berbaring menatap langit-langin kamarnya, teringat cinta pertamanya...

***

KAMAR ALVIN, 23.45...

Di depan layar notebook, wajah Alvin tanpa ekspresi. Cowok itu membiarkan pikirannya berkelana bebas, memikirkan apa pun atau siapa pun yang ingin ia pikirkan saat ini.

Sosok cewek bernama Sivia.
Rambut panjang yang lembut. Wajah oval dengan kulit seputih salju. Sepasang mata jitam jernih. Senyumnya... mencerminkan betapa polos dirinya. Ekspresinya saat bicara kadang judes, kadang tampak lugu, dan kadang kocak.

Cewek yang ekspresif seperti itu mungkin memang cocok bersanding dengan Gabriel, paling nggak mereka punya kesamaan.

Alvin menghembuskan napas. Ia merasa tolol banget hari ini. Berangkat ke rumah Sivia dengan mengatasnamakan tas sepatunya, lalu mencari-cari alasan untuk bisa pergi bersama cewek itu agar bisa lebih lama di dekatnya. Ia bahkan berbohong mengenai ibunya. Tidak ada tamu yang bakal datang. Semuanya cuma alasan.

Ada apa sebenarnya? Belum cukup anehkah gue yang nggak bisa mengingat masa lalu, sehingga perlu ditambah dengan gue yang tiba-tiba punya keinginan untuk menemui seorang cewek yang biasanya paling enggan gue temui? Bahkan gue mulai berasa 'bisa' berteman dengannya.

Setiba di rumah, Alvin langsung meletakkan semua belanjaannya di dapur dengan cuek. Itu membuat Martha sang koki keluarga Sindhunata yang diimpor Teresa dari negeri gingseng mendelik bingung. Sejak kapan Tuan Muda belanja keperluat memasak? pikirnya sambil mengeluarkan sebungkus kerang lalu menggeleng.

Sebuah suara muncul dari komputernya, mengagetkan alvin. Ternyata Gabriel, ia mengirimkan alvin sebuah nudge (fitur pada MSN Messenger, fungsinya seperti BUZZ! pada Yahoo! Messenger)


.:Gabriel-D:. : dari mana aja lo? dari tadi gue telp ga diangkat =(

Sejenak Alvin terpekur. Ia memang tidak membawa HP saat pergi tadi. Sebenarnya bukan karena menghindari telepon dari Gabriel, namun telepon rutin Shilla-lah yang bikin Alvin malas bawa HP. Dan setelah ia tiba di rumah pum, belum disentuhnya HP yang tergeletak di sambil bantal itu.

Gue nggak mungkin bicara jujur, bilang gue ke rumah Sivia lalu menculik cewek itu untuk nemenin gue belanja. Ah! Kenapa Gabriel mesti mempertanyakan hal ini?!

-Alvin-Jo-Sin- : hmm.. tadi nemenin sepupu gue ke udangan di Mulia... HP ketinggalan. :D lagian mentar doang kok... buktinya skrng udah nangkring di kamar.

Alvin merasa napasnya sesak. Ia tidak suka berbohong seperti ini kepada sahabatnya sendiri apalagi Gabriel kayaknya percaya aja dengan kebohongan Alvin. Tapi kalau ia mengatakan sejujurnya, Gabriel mungkin marah dan akibatnya parah untuk persahabatan mereka.

Kalau saja ia nggak merasa kepingin ketemu Sivia tadi. Kalau saja ia tidak ke sana, maka ia akan merasa nyaman seperti biasa terhadap Gabriel. Kini Alvin merasa seperti penjahat. Meskipun di antara ia dan Sivia tidak ada apa-apa, tetap saja ia takkan memberitahu Gabriel.

Hingga satu setengah jam berikutnya ketika alvin, Gabriel, dan Cakka tengah bermain Point Blank bersama, Alvin masih merasakan butir-butir perasaan bersalah terhadap Gabriel.

Sori, Gabriel... Nggak akan terulang lagi. Sahabat nggak berbohong, kan?

Rabu, 20 April 2011

Kupu-Kupu Salju. Part6

~PIECE 9~

SENIN, DI SEKOLAH...

Ify meremas jemarinya resah. Sudah berhari-hari ia dan Sivia tidak bicara, tepatnya sejak ia menuding Sivia berbohong soal Alvin.

Berkali-kali Ify mencoba bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara dirinya dan Sivia. Kadang Ify melempar senyum atau nyeletuk lucu waktu Sivia lagi ngobrol dengan Deva atau Ozy, tapi cewek itu tidak merespons. Sivia tetap cuek dan mendiamkan Ify.

Ify menarik nafas panjang. Ia tau dirinya salah telah menuduh Sivia dan tidak mempercayainya. Meskipun sampai saat ini ia belum tau benar apakah tas itu memang milik Alvin dan apakah cewek itu memang guru privat Janice Sindhunata. Tapi seharusnya, sebagai teman, Ify percaya pada Sivia.

Pagi ini Ify melihat Sivia memasuki ruang kelas dengan tas selempang warna krem yang selalu menemani cewek itu sekolah. Sivia meletekan tasnya di meja, lalu mengeluarkan HPnya yang berbunyi dari saku rok lipitnya. Setelah membaca SMS, Sivia tersenyum.

Ify mendekati meja Sivia, "Sivia..." panggilnya pelan. Namun terlambat. Sivia, yang tidak mendengarnya, sudah berjalan cepat keluar kelas dan membawa HPnya.

Gue harus minta maaf hari ini, Ify memutuskan dalam hati. Ia mengikuti Sivia, beberapa meter di belakang gadis berambut panjang itu.

***

PERPUSTAKAAN SEKOLAH...

Sivia tidak tau kenapa Gabriel meng-SMS agar ia segera datang ke perpustakaan.

Ia menemukan Gabriel berdiri di antara rak buku perpustakaan lantai 4. Cowok itu terlihat gaya dengan seragamnya, meskipun kurang rapi karena jasnya tidak dikancingkan.

Sivia tersenyum. Ia senang bisa bertemu Gabriel di perpustakaan pagi ini, karena selama ini ia jarang sekali melihat Gabriel juga Alvin di area sekolah.

"Pagi...." Sivia mendekati Gabriel sambil menyapa dengan suara pelan.

Gabriel menyunggingkan senyuman khasnya. Senyum ekspresif yang tidak dimiliki siapa pun. Mata cowok itu terlihat berkilat-kilat senang. "Pagi, Sivia..." sapanya santai  sambil mengalihkan pandangan menelusuri buku demi buku, lalu kembali pada Sivia, membuat cewek itu deg-degan.

"Ada apa?"

"Ada yang perlu gue kasih ke lo," Gabriel berkata lembut.

"Apa itu?"

"Selama ini lo nggak merasa kehilangan sesuatu, ya?" Gabriel tersenyum jail, tangannya di jejelkan di saku celana.

Sivia berpikir lalu menggeleng pelan. Ia kelihatan tidak yakin. Kehilangan sesuatu? 

Gabriel mengeluarkan saputangan Hello Kitty dari sakunya dan mengulurkan pada Sivia. "Masih nggak merasa?"


"Kemarin sabtu kelupaan mau kasih ke lo." Gabriel memberitau

"Sivia menerima saputangannya. "Makasih," gumamnya tertawa renyah. "Baru di cuci ya?" ia mencium saputangan itu, wangi.

Gabriel tersenyum agak tersipu. Ia melirik arlojinya, "Sebentar lagi pelajaran di mulai. Lo masuk kelas duluan aja. Gue masih mau disini sebentar, cari buku untuk refrensi tugas" kata Gabriel.

Setelah mengucapkan "Bye", Sivia meninggalkan Gabriel. Cewek itu berjalan lumayan cepat, mendorong pintu kaca perpustakaan dan keluar dari sana. Sivia berjalan dengan cepat dan konstan, hingga ketika berbelok di ujung koridor menuju eskalator, ia nyaris menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan.

"Sorry!" Sivia mundur dan melangkah agak kesamping, menjauhi orang yang hampir saja ditabraknya sambil melihat wajahnya.

Ternyata Alvin!

"Jalan aja nggak bener!" Alvin bergumam tajam setelah berdecak kesal.

"Sorry!" ulang Sivia. "Lagi buru-buru."

Alvin sedikit mencibir. Ia memandang Sivia sepintas, dan matanya langsung tertuju pada saputangan yang dipegang cewek itu. Ekspresinya langsung berubah. Ia memandang saputangan itu selama beberapa detik, hanya untuk memastikan.

"Kenapa?" Sivia menyadari Alvin memperhatikan saputanyannya.

Cowok itu menggeleng. "Nggak pa-pa." sahutnya cuek sebelum akhirnya berkata. "Oh ya, ini dompet lo." Lalu ia mengeluarkan dompet Sivia dari saku jas seragamnya.

"Ah, makasih!" Sivia membuka dompetnya, bermaksud membayar uang minumannya semalam. "Untuk Pocari-nya.."

Alvin mengangkat bahu dengan gaya santai. "Nggak usahlah," Ujarnya ringan sambil memandang lurus ke depan dan dengan santai melenggang pergi, meninggalkan Sivia yang terpaku di tempat.

***

WAKTU ISTIRAHAT, DI TOILET CEWEK....

"Maafin gue ya, Vi..." Ify menatap Sivia sendu. Sivia menganggukan kepala.

"Dan maafin gue juga karena tadi pagi gue menguntit lo, Vi."

"Apa?" Sivia mengerutkan kening. "Menguntit?"

Ify bersender pada pintu balik toilet, menipiskan bibie sebelum menjelaskan bahwa tadi pagi ia menguntit Sivia ke perpustakaan, sampai kembali lagi ke ruang kelas mereka.

"Asli gue kaget banget waktu lihat siapa yang lo temuin di perpustakaan." Ify membulatkan matanya. "Gabriel! God! Gimana cara lo kenal dia?"

"Kalian kelihatan akrab! Dia naksir lo, ya? Lo beruntung banget, Sivia!" lanjut Ify

"Nggak..." Sivia kepingin mengelak, tapi Ify  cuek sehingga Sivia hanya dapat tertawa pelan, nggak tahu harus bilang apa.

"Trus si Alvin!" Ify makin bersemangat. " Ternyata lo memang kenal Alvin, dan dia ngobrol sama lo!!!!" cewek itu menarik napas dan menyambung kalimatnya. "Lo tahu, kakak gue bilang, kelima cowok itu jaraaaaang banget mau ngomong sama anak-anak lain. Selain karena anak-anak lain merasa ciut kalau berhadapan sama mereka, mereka sendiri juga memang cuek banget di sekolah! Benar-benar hoki kalau bisa ngobrol sama mereka!!"

"Dia tadi nggak ngobrol sama gue, Ify!" Sivia memutar bola matanya, mengingat Alvin hanya menghinanya karena Sivia meleng tadi. Itu namanya bbukan ngobrol, kan?

"Gue nyesel sempat nggak percaya sama lo, Via!" Ify sepertinya tidak mendengar perkataan Sivia barusan. Ia sudah terlalu larut dalam pemikirannya sendiri. "Ternyata lo keren banget! Bisa kenal dan ngobrol sama mereka!"

"Ify, nggak segitunya...."

Di balik pintu mereka, di depan wastafel...
Sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin dan menyisir rambut hitamnya yang lurus sebahu, Shilla mencerna semua yang barusan di dengarnya.

***

18.05, DI RUMAH CAKKA...

Seperti biasa, lima sahabat itu ngumpul bareng.

Sore itu Gabriel dan Rio sedang seru memainkan 9ball mereka yang ketiga. Tak jauh dari meja billiar, Cakka dan Ray sedang adu kebolehan balap F-1. Keduanya tampak serius memijat-mijat controller PS3, sedangkan pandangan masing-masing fokus ke layar televisi.

Alvin menyendiri di balkon sambil menikmati semilir angin yang cukup sejuk. Ia sama sekali nggak mood untuk main. Padahal biasanya ia bersemangat. Ia selalu menyukai game maupun billiar. Ia juga senang menjaili teman-temannya yang sedang serius main. Tapi kali ini tidak.

Masih segar dalam ingatan Alvin, saputangan yang dipegang Sivia pagi tadi.

Setelah Alvin meninggalkan Sivia di belokan koridor tadi, ia mendatangi perpustakaan lantai 4, karena yakin Sivia baru dari sana. Dan dugaan Alvin sama sekali tidak salah. Ia melihat Gabriel sedang mengurus pinjaman buku di bagian peminjaman.

Mereka memang habis ketemuan di sana. dan Gabriel mengembalikan saputangan itu...
Alvin menarik napas, mengingat perkataan Gabriel Jumat lalu.

"Cewek yang bikin gue kepingin memilikinya saat ini" "Mungkin gue ingin menjadi yang terbaik untuk dia.." "Dialah alasan kenapa besok gue nggak bisa main go-kart bareng kalian, gue dah ada janji..." "Kali ini memang agak berbeda dari biasanya..."

Ternyata cewek itu Sivia!
Alvin menggigit bibirnya sambil mengamati langit yang mulai senja. Semua benar-benar diluar perkiraannya. Ia nggak pernah menyangka antara Gabriel sahabatnya dan Sivia cewek yang kehadirannya selalu bikin Alvin merasa tidak nyaman ternyata ada hubunga spesial. Alvin menghela napas. Ia bahkan nggak tahu bagaimana Sivia dan Gabriel berkenalan. Entah kenapa, Gabriel nggak pernah menceritakan apa pun padanya. Apakah karena kali ini pujaan hatinay bukan berasal dari kalangan selebriti?

Memangnya kenapa sih Gabriel naksir Sivia? Mungkin saja Gabriel menemukan sesuatu yang membuatnya senang dan nyaman pada diri cewek itu. Seperti halnya gue menemukan sesuatu pada Sivia, sesuatu yang bikin gue sesak, labi, bahkan ada perasaan ingin menghindari tatapannya.

Namun perasaan aneh itu justu perlahan mendorong Alvin untuk mencari tahu. Apa yang mendorong munculnya perasaan macam itu? Sekali lagi ia mencoba menekankan pada dirinya sendiri bahwa Sivia hanyalah cewek SMA biasa bahkan cenderung ceroboh yang seharusnya nggak bisa bikin dia merasa aneh setiap kali mereka berhadapan.

Belum lagi Alvin menemukan jawaban atas hal itu, hari ini ia malah menemukan kenyataan Gabriel menyukai Sivia. Dan entah kenapa ada sejumput rasa tak suka mengetahui sahabatnya itu naksir Sivia.

Sivia memang imut yah, bisa dibilang lumayan cantiklah.... tapi tetap tidak sebanding dengan cewek-cewek gandengan gabriel sebelumnya, kan?!

Kenapa gue harus nggak suka? Apa karena menurut gue, Gabriel seharusnya nggak memilih Sivia? Apa gue pikir Gabriel seharusnya cari cewek yang lebih oke, lebih seksi, dan lebih segalanya daripada Sivia kayak pacar-pacarnya yang dulu?

Kayaknya bukan. Kayaknya bukan itu alasan gue. Gue juga nggak ngerti, yang jelas gue nggak suka...

"Lagi PMS, ya?" sebuah tangan menepuk pundak Alvin ringan. Cowok itu menoleh. Rio. Alvin melempar senyuman sesantai mungkin.

"Sudah mainnya?"

Rio berdiri persis di samping Alvin, sedikit menengadah menatap langit. "Sudah. Lo nggak mau cerita?"

"Cerita?"

Tawa kecil Rio terdengar. "Jelas banget kelihatan lo lagi nggak oke." katanya sambil menatap Alvin dalam.

"Nggak!" Alvin menyahut. "Na gwaenchana. Geokjeongma... (gue nggak pa-pa. jangan khawatir)"

"Geotjima!! (bohong lo!)" Rio menoyor kepala Alvin pelan sambil tertawa.

Alvin membalas tertawa. Ia mengajarkan bahasa Korea pada teman-temannya. sedikit-sedikit mereka bisa menggunakannya.

"Rio." Alvin menatap lekat sahabatnya yang satu ini bisa dibilang paling dekat dengan Alvin. Selain itu orangtua Rio kebetulan salah satu teman dekat orangtua Alvin.

"Ada apa?"

"Kalau teman lo ada yang biasa naik Porsche atau apalah, tiba-tiba dia naksir dan beli mobil rakyat yang di pakai hampir semua orang di negri ini, apakah lo akan setuju?" tanya Alvin.

Dahi Rio berkerut sedikit. Ia nggak ngerti pertanyaan Alvin yang nggak penting itu. Tapi ia memutuskan untuk menjawab. "Nggak, itu sedikit... konyol!?!" nada suaranya nggak terlalu yakin.

Alvin menatap mata Rio, "A-jinjja? (benarkah)" tanya Alvin. "Doshi saenggakhaebwa! (pikirkan lagi!)"

Nero mengangkat bahu bingung lalu mengatakan jawaban tetap sama.

Alvin menghembuskan napas lega. Ia tersenyum dan menatap langit. Ternyata ia memang seharusnya nggak setuju Gabriel menyukai Sivia.  Nero juga memikirkan hal yang sama kan? Gue nggak perlu khawatir.

***

Saat yang ditunggu-tunggu siswa SMA SCS akhirnya tiba! Festival sekolah tahun ini!!!

Setelah melewati persiapan yang lupayan pelik dan melibatkan banyak pihak, panitia festival sekolah akhirnya menggelar event tersebut.

Karna hari ini hari pertama festival sekolah, seluruh kegiatan belajar-mengajar ditiadakan. Para siswa senang setengah mati.

"Wah," Ify menyenggol Sivia, menyuruh cewek itu menoleh ke stan klub fotografi. "David Toriyama!" serunya.

"Cakep ya!" Sivia tersenyum. Toriyama kurus tinggi, dengan rambut lurus agak panjang di potong shaggy, dan kulit putih bersemu.

Deva melengos lalu menoyor kepala Ify cukup keras. "Bisa nggak sih, semeniiiiiit aja nggak ngurusin cowok-cowok kece di sekolah?!?!?" omelnya dengan wajah tertekuk dan bibir maju beberapa senti.

"Sirikk!" balas Ify sambil membalas menoyor Deva. "Dasar rese!"

"Eh, ke sana yuk!" kata Ozy antusias, lalu melirik sambil menunjuk stan klub web designing.

"Kalian mau ikut lihat-lihat ke sana nggak?" ia mengajak Sivia dan Ify yang masih melotot memandang Toriyama dari kejauhan.


"Nggak ah! Males bareng anak rese!" kata Ify jengkel.

"Mau nyamperin stan fotografi?" tanya Sivia.

Ify menggeleng. "Nggak hobi! Motret pakai HP aja hasilnya kacau!" Gadis itu tertawa renyah.

Mereka jalan bareng menyusuri stan demi stan, sambil memandang sekeliling karena banyak banget kehebohan di sana. Setiap stan klub ramai dan sibuk dengan acara masing-masing. Suasana bazar ini mengingatkan Sivia pada bazar amal C Foundation yang dihadirinya bersama Gabriel dulu.

Tiba-tiba Sivia celingukan mencari sosok Gabriel di keramaian. Mungkin dia lagi keliling dengan teman-temannya, pikir Sivia. Ify menceritakan di sekolah ini ada lima cowok yang paling populer, sekaligus paling keren, dan paling nakal kecuali salah satu teman mereka yang ber-IQ 170.

Rupanya begitu, Pantas aja sebelumnya Ify cukup sering menyebut-nyebut 'kelima pangeran' yang cuma bisa bikin gue bengong karena nggak tau apa-apa, batin Sivia.

Sivia masih belum menemukan Gabriel sepanjang bazar. Kini ia dan Ify mampir di stan handicraft dan mengagumi hasil karya anak-anak klub yang dipamerkan.

Hmm... mungkin kelima pangeran itu bolos sekolah. Mereka memang sering bolos, kan? Setidaknya begitu kata kakaknya Ify.

Seolah menjawab pertanyaan Sivia mengenai keberadaan lima pangeran SCS, tahu-tahu Ify mencengkram lengan Sivia keras sambil berbisik di telinga cewek itu, "Oh My! Itu mereka!"

Arah padangan Ify tertuku ke stan klub tataboga, tempat empat cowok jangkung berdiri santai, menyaksikan seorang cowok dengan ahli memamerkan kehebatannya memasak. Sedangkan anak-anak lain yang juga antusias menyaksikan sang koki, berdiri sedikit di belakang mereka. Anak tersebut tak hentinya memandang kelima sosok itu, antara padangan penuh inget tahu dan kagum.

***

STAN KLUB TATA BOGA...

"Oke berikutnya kita masukkan ayam fillet yang sudah dilapisi tepung dan digoreng sebelumnya." Tangan Rio dengan luwes memasukan beberapa potong ayam ke wajan di hadapannya.

"Sivia!" Gabriel melihat Sivia dan langsung memanggil cewek itu dengan gaya cerianya yang nyantai seperti biasa.

"Sudah mengelilingi semuanya?" Gabriel bertanya setibanya di hadapan Sivia.

Sivia menggeleng. "Belum."

Gabriel tertawa renyah. "Gue lagi nonton demo masaknya Rio, sohib gue." Gabriel berkata sambil menunjuk cowok yang berdiri di belakang kompor, mengenakan topi koki, dan sibuk memasak. "Dia ketua klub tata boga. Lo suka masak, nggak? Ikut lihat yuk!" cowok itu menggandeng tangan Sivia lembut, membuat mata Ify menjadi emapt kali lebih bulat dan besar ketika melihatnya.

"Oke.." Dengan lembut Sivia menarik tangannya dari genggaman Gabriel. "Oiya, kenalin, ini teman gue namanya Ify." kata Sivia ke Gabriel, memperkenalkan Ify padanya.

Gabriel tersenyum. "Hai.. gue Gabriel.." Gabriel mengulurkan tangannya, untuk bersalaman dengan Ify.

Ify ternganga, matanya membulat. Nggak percaya  bisa berkenalan apalagi bersalaman. "Gue.. Ify.." kata Ify gugup sambil menjabat tangannya dengan Gabriel. Ify terlihat nyaris menangis. Cewek itu menatap Sivia penuh haru karena telah memperkenalkan seorang Gabriel padanya di hari yang tak akan terlupakan ini!

Namun Ify merasa sedikit nggak nyaman. Ia berpikir pasti ada 'Something' antara Gabriel dan Sivia. Kalau nggak, mana mungin cowok keren itu menggandeng tangan Sivia kayak tadi?

"Vi.." Ify menowel pundak Sivia. "gue mau cari Deva sama Ozy dulu, ya!" gumamnya. Kemudian ia berpamitan dengan Gabriel dan tentunya sambil tersenyum supermanis. Lalu meninggalkan Sivia di sana.

Sivia berjalan bersama Gabriel dan membaur dengan ketiga pangeran lainnya yang masih asyik menonton Rio memasak. Melihat alvin ada di sana, kontan saja perut Sivia seperti tergelitik.

Cowok jangkung itu berdiri tepat di sebelah kiri Cakka, bersedekap. Sivia melihat Alvin tertawa-tawa dengan Cakka .

Tapi saat menoleh ke arah Sivia dan Gabriel yang bergabung, ekspresi Alvin langsung berubah. Tawanya lenyap sama sekali digantikan dengan wajah datar tanpa ekspresi yang sudah jadi ciri khasnya. Sivia tersenyum sebagai apaan pada Alvin ketika tatapan mereka bersedobak, tapi cowok itu sama sekali tidak membalas malah mengalihkan pandangan dengan cuek.

"Guys.. kenalin ini Sivia.." kata Gabriel, kemudian ia menyebutkan satu persatu nama teman-temannya.

"Halo, Sivia.." sapa Cakka sambil tersenyum, diikuti ray menyapa Sivia dengan gaya ceria dan senyum lebar. Rio melambaikan tangan yang sedang memegang spatula sambil mengucapkan sesuatu yang intinya mengajak Sivia bergabung dengan klub tata boga SCS. Sivia hanya tertawa renyah.

Alvin hanya menyapa datar sambil sedikit mengangkat alis. Ia melambai sedikit lalu kembali pada posisi sebelumnya.                               

"Guys, I have to go..." Cakka tiba-tba bersuara. "Sorry, Rio.. hahaha I can't watch you any longer, gue harus balik ke stan klub bola.!" katanya. Ia pun pergi dari stan tata boga. Begitu pula dengan Ray harus kembali ke stan klub musik, di mana juga Gabriel seharusnya bertugas.

"Sekarang, silahkan cicipi masakan ini, sebelum mencoba hidangan yang lainnya!!!" Rio berseru sambil menuangkan masakannya ke beberapa piring kertas yang sudah di siapkan. Beberapa siswa langsung menyerbu.

Sivia, Gabriel, dan Alvin mundur sedikit.

"Lo nggak keberatan nunggu sebentar di sini?" tanya Gabriel lembut kepada Sivia. "gue mau ke toilet."

"Ah," Sivia tersenyum. "Tapi..."

"Oke, tunggu disini!" Gabriel melangkah meninggalkannya. Cowok itu juga sempat menitipkan Sivia pada Alvin.

"Ternyata lo pacar teman dekat gue." gumam Alvin datar tiba-tiba mengagetkan Sivia. "Sekolah ini memang sempit banget, ya!" imbuhnya sambil menatap cewek itu sekilas.

"Ngg..." Sivia menoleh. "bukan kok, Gue dan Gabriel..."

"Alvin!" mendadak Shilla muncul dan menggandeng Alvin dengan manja. "Aku nyariin kamu dari tadi, Alvin! HP kamu kok nggak aktif?!"

Alvin tersenyum tipis terpaksa. "Baterainya habis." sahutnya. Kenapa dia harus ngejar gue terus sih? Nggak bisa ya dia bebasin gue dan baru memulai segala tingkah anehnya ini bila kami sudah menikah nanti? dasar perempuan!

"Eh, ada Sivia!" kata Shilla. "Kenapa kalian berdua bisa di sini bersama-sama?"


"Sivia lagi nunggu Gabriel." jawab Alvin cepat.

Shilla melebarkan bola matanya. "Gabriel? apakah ada sesuatu di antara kalian berdua?" gadis itu bertanya sambil mendekatkan tubuhnya pada Sivia. "Kalau iya, lo harus bersyukur banget, Sivia!"

"Jangan campuri urusan orang, Shilla!" gumam Alvin pelan, sepintas ia memandang Sivia yang kebetulan juga memandangnya;

"Back!!" terdengar suara ceria Gabriel. Membuat Sivia melepaskan napas lega. Cowok itu menyodorkan sebotol pocari sweat pada Sivia, ia juga membawa sekaleng yang sudah dibukanya. "Kebetulan lewat penjual minuman tadi." ujarnya.

"Makasih.." Sivia bergumam, yang dibalas Gabriel dengan senyuman tulus seperti biasa.

Alvin mendengus. "Well, you didn't buy one for me..." candanya sambil menatap Gabriel.

Gabriel menyodorkan Pocari Sweat miliknya pada sahabatnya, dan Alvin meneguknya. "Hai, Shilla! Lagi jagain Alvin?" guraunya.

Shilla tersipu.

"Tenang aja, Alvin itu mati rasa sama cewek-cewek dan nggak bakal buat macam-macam." Gabriel berkata santai. "Lo nggak perlu nelepon setiap satu jam." kemudian cowok itu tertawa.

Alvin hanya tertawa kecil setelah meneguk Pocari Gabriel, lalu melirik Shilla. Dalam hati ia berharap cewek itu benar-benar menaati ucapan Gabriel. Meskipun Alvin hampir tak pernah mengangkat telepon dari Shilla, tetap saja dering HP sering sekali sangat mengganggu karena terus berbunyi bagai beker yang dinyalakan setian 60menit.

Mendengar perkataan Gabriel, kelihatannya Shilla agak kurang senang. Ia melirik Alvin berharap cowok itu mengatakan he's really okay with her every hour call, tapi Alvin diam saja.

Alvin sangat menyadari gerakan cepat Gabriel, dan matanya sempat melihat ke tangan sahabatnya itu yang menggenggam tangan mungil Sivia dengan hangat. Tanpa disadari, tangannya sendiri telah di genggam Shilla. Alvin ingin melepaskan, tapi ia tak ingin Shilla terluka. Kakeknya sering berpesan, Alvin harus bersikap baik pada Shilla karena gadis itu sangat sangat mencintainya dan sekaligus juga calon istrinya.

"Sampai ketemu sejam lagi, saat acara games dimulai!" Gabriel berkata riang pada Alvin dan Shilla, ia mengajak Sivia meninggalkan pasangan itu.

~~PIECE 10~~

Perasaan senang yang dirasakan Sivia dan Gabriel di bazar amal C Foundation tempo hari seolah terulang kembali.

"Sudah memutuskan mau ikut klub apa?" Gabriel bertanya.

"Belum." cewek itu menggeleng singkat. "tapi kayaknya newsletter menarik, ya!"

Gabriel tertawa pendek. "Masa?" katanya sebelum menggigit burger ayam yang tadi ia beli di stan tata boga. "Gue kurang berminat sama dunia jurnalistik, tulis-menulis, dan sebagainya."

Sivia menjawab, "Gue suka! Tapi... kayaknya semua klub disini menarik." ujarnya bimbang. Ia setengah melirik stan klub Taekwondo, karena barusan ia melihat Alvin sedang berbincang dengan anak-anak di stan itu bersama Shilla yang setia di sampingnya. Alvin tidak memakai kostum seperti anggota klub yang lain.

"Hmmm, Shilla itu pacarnya Alvin, ya?" Sivia bertanya ringan.

"Iya." sahut Gabriel. Ia tahu Shilla bukan sekedar pacar Alvin melainkan calon istri yang telah disiapkan sang kakek untuknya.  Namun Gabriel merasa tak perlu menceritakan hal itu, "Sivia, istirahat dulu yuk! Capek juga dari tadi keliling." cowok cakep itu meringis, terlihat lucu dan imut.

"Kaki lo pegel ya?" Sivia tertawa.

Gabriel mengangguk dan memberitahu Sivia bahwa di ujung pelataran sekolah ini disediakan beberapa bangku untuk duduk, maksudnya mau mengajak Sivia istirahat disana.

"Sebentar lagi, ya..." Sivia merayu, "gue kepingin ke Tenda ramalan dulu!"

"Tenda Ramalan? Ngapain?"

Sivia memutar bola matanya. "Buat main kasti!" sahutnya dengan ekspresi kesal yang tentunya pura-pura. "Ya buat di ramal lah! Memangnya mau apa lagi ke Tenda Ramalan?!?!" Cewek itu mencubit lengan Gabriel.

Gabriel tertawa lepas sambil melepas lengannya yang baru saja dicubit. "Tapi... ngapain ke Tenda Ramalan? Yang meramal di sana cuma anak cewek kelas XI yang kebetulan anggota klub Mandarin. Sudah pasti nggak akurat!"

"Begitu ya?" Sivia membesarkan mata. "Tapi nggak pa-pa deh, cuma coba-coba kok!" gadis itu tetap berkeras.

Alis Gabriel mengerut. "Yakin? Gimana kalau dia cuma bohong dan ngomong hal buruk tentang lo?"

Tawa Sivia berderai. "Biar aja!"

Gabriel menggeleng, ia pasrah. Kenapa sih cewek-cewek suka banget diramal? Bahkan Sivia juga...

"Yuk!" Sivia menarik lengan kemeja Gabriel menuju tenda ramalan.

***

DI DALAM TENDA RAMALAN...

"Selamat datang di Tenda Ramalan..." Sambut si peramal, begitu Sivia dan Gabriel memasuki tenda kecil itu.

"Silahkan duduk..." si peramal berkata.

Sivia dan Gabriel duduk bersila di karpet, menghadap meja ramal mungil.

"Ah! Gabriel?!?!" serunya tak percaya.

Gabriel hanya mengangkat kedua alisnya tersenyum lucu. "Iya. Gue Gabriel!

Si peramal menggeleng. "Nggak disangka.. sungguh kehormatan bisa meramal salah satu pangeran SCS hari ini!"

"Hmm, sebenarnya.. dia yang mau diramal." Gabriel berkata pelan sambil menunjuk Sivia.

"Ah, aku mengertiiii!" peramal itu berkata lambat sambil mengangguk-angguk beberapa kali, seolah berhasil membaca sesuatu, "Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Sivia.

"Aku melihat ada gelombang yang kuat antara kalian berdua." kata peramal. "Jadi ada baiknya aku meramalmu juga." matanya beralih pada wajah Gabriel lagi.

Gabriel tertawa pasrah. "Nggak masalah." ujarnya.

Peramal menarik napas, lalu menatap Sivia dan Gabriel dengan sorot mata yang tajam, agak suram, dan misterius. Kemudian peramal menanyakan tanggal lahir Sivia dan Gabriel.

"Hmm..." peramal memejamkan mata. "kuberitahu, ya... Musim semi yang indah dan menyenangkan takkan berlangsung lama." ujarnya kemudian menatap Gabriel. "Karena akan segera menjadi musim panas yang gelisah dan menyesakkan, lalu menjadi musim gugur yang merontokkan semuanya, dan apabila yang berahir dengan musim dingin yang menusuk... kamu harus siap."

Gabriel mengerutkan kening, lalu menoleh ke arah Sivia yang juga memandangnya bingung.

"Sangat disayangkan..." peramal itu menggelengkan kepala dengan wajah iba. "tapi tak perlu khawatir. Karena takdirmu seterang dan sehangat mentari pagi." Ia tersenyum teduh kepada Gabriel. "Kebahagiaan tak pernah jauh dari jangkauanmu."

Lagi-lagi Gabriel berusaha mencerna perkataan si peramal dan tidak berhasil. Tapi ia mengambil sisi positifnya saja. Paling tidak, kalimat Kebahagiaan tak pernah jauh dari jangkauanmu menurutnya pertanda yang bagus.

"Kamu..." peramal memandang Sivia lekat. "ada satu hal yang perlu kamu ketahui."

"Kupu-kupu yang hilang telah menemukan pasangannya." peramal itu memejamkan mata lalu melanjutkan, "namun ia hadir dalam keadaan buta."

Sivia menggigit bibir. Ia kecewa karena tidak secuil pun perkataan peramal yang ia pahami. Apaan sih? kupu-kupu buta? huh...

Gabriel berdeham. "Begini.. gue sama Sivia sama sekali nggak ngerti apa yang..."

Peramal mengangkat tangan, meminta Gabriel berhenti bicara. "Bukan tidak mengerti, tapi belum.." gumamnya sambil merapikan kartunya. "Jangan terlalu dipikirkan juga, ini hanya 'ramalan' kan?" ia tersenyum simpul.

Sivia dan Gabriel ikut tersenyum Benar juga, pikir Gabriel. Ini hanya ramalan da ngue nggak benar-benar kepingin tahu maksudnya. Ramalan hanya untuk fun, lagi pula sejak kapan sih gue peduli sama ramalan? hahaha!

"Sebagai suvenir, ini untuk kalian." peramal memberikan dua kalung dengan liontin berbentuk cincin kecil. "Semoga membawa keberuntungan." ujarnya lagi.

Setelah mengucapkan terima kasih, Sivia dan Gabriel keluar dari Tenda Ramalan. Dengan cuek Gabriel mengenakan kalung dari peramal tadi. Ia tidak berharap kalung ini membawa keberuntungan atau apa. Cowok itu cuma kepingin memakainnya. Melihatnya, Sivia ikutan melingkarkan kalung itu di lehernya.

***

Seperti yang dijanjikan sebelumnya, meereka menuju bangku kayu di taman ujung pelataran SCS untuk mengistirahatkan kaki.

"Keluarga gue nggak percaya ramalan." Gabriel berkata. "Kata nyokap, selama kita berusaha dan berdoa, nggak ada yang mustahil. Lo pasti bisa meraih impian, walaupun semua peramal bilang lo nggak mampu."

Sivia tersenyum. Ia suka melihat wajah jenaka Gabriel tampak agak serius ketika berbicara. "Ya, gue setuju. Tapi gue kepingin bisa membuktikan apakah ramalan itu ada benarnya atau memang cuma omong kosong..."

"Bagaimana lo bisa membuktikannya?" Gabriel tertawa geli. "Lo aja nggak ngerti ucapan si peramal tadi. Lo nggak tau apa maksudnya sama sekali, jadi apa yang akan lo buktikan?" cowok itu menyenggol bahu Sivia pelan, masih sambil tertawa.

Sivia bersandar pada sandaran bangku kayu, "Memang sih." ia cemberut. "Apa coba maksudnya kupu-kupu buta? Kenapa sih dia nggak langsung bilang maksudnya tanpa bertele-tele?!"

"Sudahlah, nggak usah dipikirin." Gabriel menatap Sivia dalam. "Ramalannya untuk gue juga aneh, kan? Masa dia ngomong panjang lebar tentang empat musim? Mungkin dia nggak sadar di sini hanya ada dua macam musim." cowok itu terkekeh pelan.

Sivia tertawa. "Tapi kayaknya peramal itu cukup profesional."

"Profesional bagaimana? Dia murid kelas XI. Tahun lalu ia menguntit Cakka selama beberapa bulan sebelum akhirnya Cakka marah dan mengancam akan melaporkannya ke Mr. Penguin."

"Hahahaha! Begitu ya?" Sivia tertawa kecil.

"Yup. Lo mau melihat peramal yang profesional?" Gabriel bertanya sambil tersenyum lebar.

Sivia mengangguk, mungkin Gabriel kenal peramal 'sungguhan', batin Sivia. Cowok itu menarik tangan Sivia lembut tapi kuat. Dengan ekspresi manis meneduhkan, Gabriel berlagak membaca telapak tangan Sivia. Sivia tidak menarik tangannya, melainkan tertawa-tawa melihat Gabriel merakting sebagai peramal profesional.

"Hmm, terbaca jelas di sini..." cowok itu menyusuri telapak Sivia dengan telunjuknya. "ada seseorang yang sangat memperhatikan lo. Bahkan... dia mencintai lo, dan selalu kepingin melihat lo happy." Gabriel mengangkat wajah menatap Sivia sambil tersenyum tulus, ia melanjutkan. "Orang itu berharap, sekarang atau kapan pun ia bisa menjadi sosok yang paling membahagiakan lo." Gabriel meletakkan tangan Sivia ke pangkuan gadis itu, lalu menatap Sivia lembut. "Itu ramalannya. Mudah di mengerti dan nggak bertele-tele, kan?"

Sivia merasa wajahnya memerah dan jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia mencoba tetap tetrlihat santai. Ia tersenyum. "Apakah ramalan itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan? Gue nggak yakin..." balasnya.

Gabriel tersenyum kemudian menggigit bibir bawahnya, tampak dari matanya, ia berpikir sejenak lalu menjawab, "Tentu saja bisa. Mau taruhan sama gue?"

"Apa taruhannya?"

"Biar gue mikir sebentar." Gabriel menyandarkan tubuhnya dengan rileks, lalu menatap langit. "Begini.." cowok itu menghadap Sivia.

Gabriel membulatkan matanya sedikit, memandang Sivia. "Kalau lo benar, hati gue boleh buat lo. Tapi kalau lo salah, hati lo buat gue..." katanya lembut, sangat lembut, bahkan. Suara itu, ditambahkan betapa teduh sorot mata gabriel, bikin Sivia semakin deg-degan.

Angin bertiup mengacak-acak rambut panjang Sivia yang dibiarkan terurai. Cewek itu nggak tau harus jawab apa. Ia tau persis maksud Gabriel, namun sekarang ia hanya mendapati dirinya totally speechless untuk menanggapinya.

Tiba-tiba tangan Gabriel mendekat, menyisihkan helai-helai rambut sivia yang tertiup angin dengan lembut. Keduanya tidak bicara. Hanya saling bertatapan dengan jarak yang dikatakan sangat dekat. Kemudian Gabriel menyelipkan rambut Sivia ke belakang telinga cewek itu. Sivia hanya diam. Dan tiba-tiba saja....

"Ehem..." terdengar suara orang berdeham. "Maaf banget mengganggu..."

Baik Sivia maupun Gabriel kontan menoleh. Seorang cowok berseragam sekolah lain berdiri nggak jauh dari mereka dengan wajah penuh dendam. Sivia langsung ingat siapa cowok itu. Ia cowok di minimarket yang berkelahi dengan Alvin waktu itu!!!!!

"Tian..." desis Gabriel tajam. Cowok itu bangkit dari duduknya, sementara Tian berjalan mendekati.

"Apa kabar, Gabriel? Masih belum berubah rupanya... Selalu cewek, cewek, dan cewek." Tian mengangkat alis.

"Mau apa lo kesini?" Gabriel bertanya dingin.

Tian mendelik. "Lho, memangnya nggak boleh? Gue kangen sekolah sialan ini. Kangen gedung raksasanya, lantai yang mengilap, dan tentunya festival tahunannya."

"Apa mau lo?" Gabriel bertanya garang, matanya tajam menatap Tian dengan sorot mata yang menyatakan ketidaksukaan. "Jangan bikin kericuhan di sini!"

"Hei... sabar, Gabriel!" Tian masih terkekeh sambil menepuk pundak Gabriel. "Orang ganteng nggak boleh gampang emosi!"

Gabriel menyingkirkan tangan Tian dengan kasar, sama sekali tidak menganggap gurauan Tian lucu.

"Gue sengaja bolos demi datang ke festival ini, untuk bertemu siapa pun dan kilima pangeran berengsek SCS, dan ngasih tau bahwa urusan kalian dengan Septian belum selesai." Tian mengertakan gigi. "Ternyata takdir mempertemukan kita..." tambahnya sambil nyengir.

Rahang Gabriel tampak mengeras. "Semuanya sudah selesai. Silahkan lo pulang!"

"Lo sama aka dengan si Alvin itu!" Tian mencibir. "dengan enteng menganggap semuanya selesai. Kalian semua memang sama! Jangan kalian pikir, karena kepopuleran kalian atau kehebatan nenek moyang yang nangkring di belakang nama kalian, lantas gue takut?"

Gabriel menyipitkan mata. Apakah Tian sudah pernah bertemu Alvin setelah kejadian di The Nine Ballz? "Pergi, Tian!" tegas Gabriel.

"Gue nggak takut. Gue malah akan menghancurkan kalian." Tian melanjutkan. Ia mendekatkan wajahnya kepada Gabriel, yang membuat bau napasnya yang sarat aroma alkohol dan rokok dapat terhirup lancar oleh Gabriel. "Ingat baik-baik!"

"Pergi!" Gabriel berkata datar.

Tian mengangkat bahu. "Oke." katanya sambil memandang Sivia yang masih duduk di bangku kayu. Pandangan mereka bertemu. Tiba-tiba Tian tersenyum dan mengedip penuh arti pada Sivia, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Sebuah pemikiran muncul di otaknya. Tian ingat betul siapa gadis yang duduk bersama Gabriel tadi...

~~~~~

Jumat, 15 April 2011

Stressss

GUE KESELLLLL!! MASA GUE MAU BIKIN CERPEN TENTANG RIO-IFY KAGAK DAPET IDE BANGET SIH!!!!!!! PADAHAL GUE RFM!! NJIR LAH POKOKNYA!!! -__-v