Selasa, 26 April 2011

Kupu-Kupu Salju. Part7

~~PIECE 11~~

Setiap orang pasti punya rahasia yang benar-benar sangat rahasia sampai tak seorang pun akan diberitahu.

Begitu juga Alvin. Cpwpk itu punya sebuah rahasia yang belum pernah diberitahu, bahkan kepada teman-teman terdekatnya. Ia menyimpan sendiri rahasia itu, sambil berusaha mengatasi sekaligus mencegahnya terjadi lagi.

Mungkin juga karena rahasianya itu, kadang Alvin agak tertutup. Kadang Alvin juga merasa kurang nyaman dengan dirinya sendiri. Saat bersama teman-temannya, cowok itu memang merasa bahagia dan bisa melupakan rahasianya. Namun bila sedang sendirian, menatap langit yang cerah atau menikmati hujan dikamarnya, rasa gelisah itu datang lagi. Setumpuk pertanyaan tak terjawab kembali menghantuinya.

Kenapa gue selalu merasa ada yang hilang dari hidup gue?

Alvin Sindhunata tidak bisa mengingat masa kecilnya. Seakan masa-masa indah itu masa-masa ia mengenakan seragam TK, berangkat ke sekolah membawa bekal makanan terlezat, dan naik ayunan denga nteman-teman di taman bermain menguap begitu saja dari memorinya. Semudah men-delete file-file tidak penting dari laptopnya.

Kadang Alvin meminta maaf pada dirinya sendiri, menyesal karena tidak bisa mengingat masa-masa yang ingin diingatnya. Namun Alvin tidak pernah berterus terang pada teman-temannya. Ia merasa malu dan aneh.

Mana ada orang kayak gue? Yang nggak bisa ingat apa pun di masa kecilnya? Gue nggak ingat pertama kali gue bisa menulis nama gue, atau pertama kali gue sukses mengikat tali sepatu. Di mana sekolah gue waktu TK? Apakah gue ikut kelompok bermain? Anehkah gue? Demi Tuhan, gue nggak mau jadi orang abnormal...

Teresa Sindhunata pernah menunjukkan sebuah gedung sekolah TK kecil di Seoul nggak terlalu jauh dari rumahnya. Kata beliau, itu sekolah Alvin dulu. Namun Alvin hanya menatap hampa sambil berusaha mengingat aoakah ia memang pernah bersekolah disana. Tidak ada yang berhasil di ingat Alvin. Ia merasa tidak pernah memasuki TK itu.


Alvin juga tidak ingat hari pertamanya menjadi siswa Sekolah Dasar. Ia bahkan tidak tahu asal-muasal bekas luka di sisi kiri wajahnya. Ia tidak ingat pernah terluka di bagian wajah apalagi luka yang sampai sekarang meninggalkan bekas.

Mungkin gue bisa bilang, nama gue Alvin. Tapi, siapa Alvin? Gue nggak tahu siapa diri gue. Semuanya hanya seperti potongan-potongan puzzle yang nggak lengkap dari hidup gue. Gue selalu merasa ada yang hilang dari hidup gue. Masa-masa yang nggak bisa gue ingat, sekerasa apa pun gue mencoba. 

Gue nggak pernah terbenas dari rasa kehilangan ini. Jujur, perasaan gue nggak pernah tenang. Seolah beban ini terus membayangi hati dan jiwa gue. Bahkan pikiran gue jarang sepenuhnya terlepas dari masalah ini.

Memang, gue belum punya keberanian untuk membiarkan seorang pun tahu kayak apa diri gue ini. Pasti mereka mengira, di balik sosok Alvin Sindhunata yang kelihatannya punya segalanya, terkulai lemas seorang cowok yang tersesat dalam hidup ini, yang bahkan nggak tahu masa kecilnya. Tapi nggak pa-pa, gue yakin suatu saat gue bakal menemukan potongan itu....

Kalau gue udah tahu siapa gue, nggak akan ada lagi rasa kehilangan rasa nggak lengkap. Semua bakal lenyap, karena nggak ada sepercik pun bagian dari gue dari hidup gue yang menghilang.

Sebenarnya, Alvin pernah satu kali mempertanyakan hal ini pada kakeknya. Saat itu Alvin 11 tahun, kebetulan kakeknya tengah mengunjungi Alvin di Korea. Jason Sindhunata mengajak cucunya berjalan-jalan di Dongdaemun, dan ketika itulah Alvin bertanya mengenai ketidakmampuannya mengingat masa kecilnya. Kakeknya menjawab bahwa Alvin pernah mengalami kecelakaan saat belajar bersepda dan mungkin itu membuat bagian memorinya hilang dari ingatannya.

Mendengar penjelasan kakeknya, Alvin kecil hanya mengangguk. Dalam hati ia tahu sang kakek tidak sepenuhnya benar. Alvin merasa dirinya kehilangan semua memori masa kecilnya bukan hanya sebagian.

***

Kini rahasia Alvin bertambah satu lagi.

Entah mengapa, sejak suatu pagi ketika ia nyaris bertabrakan dengan Sivia di koridor lantai 4 SCS, ia jadi sering memikirkan cewek itu. Lebih tepatnya, sejak ia menyadari ada sesuatu yang spesial di antara Sivia dan Gabriel.

Namun yang membuat Alvin merasa aneh, ia kini jadi lebih nyaman bila berhadapan dengan Sivia dibandingkan sebelumnya. Sekarang Alvin tidak lagi merasa sesak dan kepingin menghindari tatapan cewek itu. Ia lebih bisa bersikap biasa meskipun tidak menghilangkan sikap naturalnya yang cenderung cuek.

Malam ini ketika Alvin baru saja tiba ri rumah, ia melihat Sivia baru saja keluar dari ruang belajar Janice.

"Hai..." sapa cewek itu ketika menemukan Alvin berdiri di puncak tangga dengan tas sekolah tergantung di bahu kiri dan tas olahraga tergantung di bahu kanan. Cowok itu mengenakan kaus Von Dutch putih dan celana Banana Republic selutut warna khaki, rambutnya agak berantakan.

Alvin mengangat alis cuek, namun senyum tipis menghiasi wajahnya. "Baru selesai mengajar?"

Sivia mengangguk. "Baru pulang?"

"Ya," Alvin mendekati Sivia. "Perlu diantar?"

"Nggak usah." Sivia merapikan beberapa buku dan alat tulis di dalam pelukannya. "Sekarang bokap gue mempekerjakan sopir untuk antar-jemput gue mengingat kakak gue akan kembali ke Amerika sebentar lagi."

"Oh, begitu?" Alvin menanggapi datar.

Sivia tersenyum (agak bingung dengan sikap Alvin yang lebih ramah malam ini) sambil mengangguk, "Oke, gue pulang dulu. Sopirnya udah datang... Ouch!" pensil dan bolpoin Sivia terjatuh ketika ia mencoba memasukannya ke tas. Kenapa gue jadi begini? Apakah Alvin bikin gue gugup? Well, biasanya sih dia memang bikin gue gugup, tapi kali ini... rasanya 'berbeda'.

Alvin membantu Sivia memungut pensil dan bolpoin, lalu menyerahkannya pada cewek itu. Sivia mencoba pensil mekaniknya, menekan tombol untuk mengeluarkan isi pensil namun tidak terjadi apa-apa. Pensilnya rusak.

"Rusak?" Alvin bertanya sambil membenarkan letak tasnya.

Sivia nyengir. "Iya. Nggak pa-pa. Besok beli baru!" ujarnya.

Alvin membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan pensil mekanik warna merah dari saku depan tas. "Pakai dulu aja." katanya sambil menyodorkan pensilnya kepada Sivia.

"Eh, nggak pa-pa nih?" cewek itu tampak ragu lagi pula pikirannya masih amburadul, antara heran dengan sikap Alvin dan heran dengan jantungnya yang berdegup cepat.

"Iya." Alvin mengangguk. Wajahnya tanpa ekspresi.

Akhirnya Sivia mengambil pensil itu. "Makasih yaa.."

"Non Sivia, spornya sudah menunggu di depan." kata pembantu keluarga Sindhunata.

"Oke, gue pulang dulu, ya!" Sivia berkata, sebelum melangkah menuruni anak tangga.

Masih terpaku di tempatnya berdiri beberapa langkah dari ruang belakar Janice Alvin tersenyum. Kemudian ia membayangkan ekspresi Sivia tadi saat mendapati pensilnya rusak. Cemberut dengan alis mengerut. Alvin tertawa pelan.

"Oppa, wasseoyo?! (kakak sudah datang?!)" Janice tiba-tiba keluar dari ruang belajarnya. "Wae misonyoguyo? Kippeujyo? (kenapa tersenyum sendiri? lagi senang ya?)" kata Janice ceria.

Alvin melenyapkan tawanya seketika. "Ah ani... (ah nggak)" Alvin memasukan tangannya ke saku celana. "Bab meogeosseo? (sudah makan?)"

Janice mendekati Alvin. "Ajikyo... Oppa-rang bab meoggo shipeoyo... (belum... aku ingin makan bersama kakak...)" Janice merentangkan kedua tangannya isyarat sehari-harinya bila minta di peluk Alvin. Cowok itu pun berjongkok dan memeluk adiknya.

"Geurae.... (baiklah..)" Alvin melepas pelukannya. "Oppa ke kamar dulu untuk taruh tas-tas berat ini." ia mengecup pipi Janice. "Setelah itu kita makan malam, ya..."

Janice mengangguk, kemudian berkata lagi, "A-Oppa, Sivia-onnie neun ippeujyo!? ( kakak, kak Sivia itu cantik, ya?)"

"Mwo? (apa?)" Alvin mengerutkan kening. "Aniya..(nggak)" sahutnya cemberut. "Wae geureohke mudnyagu?! (kenapa bertanya seperti itu?!)"

Tapi Janice hanya cekikikan melihat ekspresi kakak tersayangnya.

***

SAN CRISTOFORO SCHOOL, KEESOKANNYA...

Bel waktu makan siang berbunyi.

Ify bernapas lega. PErutnya sudah keroncongan sejak berjam-jam yang lalu. Ia mendambakan seporsi gado-gado di stan masakan Jawa Timur di food court SCS. Hmm.. betapa sedapnya.

"Vi, ngisi perut yuk!" Ify melirik Sivia yang duduk di sebelahnya. "Sudah lapar banget nih!"

Sivia mengangguk. "Sebentar. lagi nanggung!" Sivia menyelesaikan mencatat materi pelajaran accounting yang belum dilengkapinya.

"Oke, gue tungguin. Cepetan!" Ify mengeluarkan HP dari saku rok dan sepertinya membalas SMS yang masuk.

Sivia tengah sibuk mencatat ketika suara Shilla terdengar. "Ngel, lo dipanggil Mr. Darwis disuruh bawa laporan keuangan kelas." kata Shilla pada Angel bendahara kelas yang duduk satu bangku di depan Sivia.

Ify menoleh ke arah Shilla sebelum kembali menekuri layar HP. Ia baru saja tahu dari Sivia bahwa Shilla adalah pacar Alvin. Ify sempat syok, karena lagi-lagi kata kakaknya, Alvin itu dingin banget sama orang yang kurang di kenalnya, apalagi cewek. Tapi ia memang pernah melihat Shilla dengan manja menggandeng lengan Alvin sambil membawakan blackforest buat Alvin.

Shilla menghampiri meja Sivia. Ia menatap tajam. Ify bergidik melihatnya. Bodohnya, Sivia sama sekali tidak merasa Shilla sedang bersiap menerkamnya dari jarak tak lebih dari setengah meter.

"Sivia..." Shilla memanggil lembut namun menusuk. Wajah Sivia terangkat. Ia berhenti menulis dan meletakkan pensil "Gue pingin bicara..." desisnya tajam, tanpa memberi kesempatan Sivia untuk bersuara.

Sivia mengerutkan kening, menoleh sebentar ke arah Ify yang sedang memperhatikan Shilla lalu berdiri.

"Di koridor aja!" Shilla mendesis lagi, kemudian berjalan cepat ke luar kelas. Sivia mengikutinya dengan bingung.

Sepertinya ada yang nggak beres, Ify membantin sambil ikut berdiri. Ia mengikuti Shilla dan Sivia. Mereka berdiri tak jauh dari pintu kelas. Ify merdiri di balik pintu, berusaha mendengar semampunya.

"Ada apa?" tanya Sivia.

Shilla tersenyum sinis. "Jawab aja pertanyaan gue dengan jujur." alisnya yang tipis terangkat sebelah, "Dari siapa lo dapatkan pensil merah itu?"

Oh my... ini petaka, Sivia langsung menyadari arah pembicaraan Shilla. Bodoh banget sih gue mau nerima pensil itu kemarin!

"Hmm... papa gue yang beliin.. memangnya kenapa?" tanya Sivia cuek.

"Jujur aja deh, Sivia!" Shilla mendesis.

"Lo berharap gue jawab apa sih?"

"Gue udah tau lo ngajar Janice di rumah Alvin. Dan itu artinya, lo punya banyak waktu untuk ketemu Alvin!" Shilla melotot. "Kenapa lo ngerayu dia supaya memberikan pensil itu ke lo?"

Sivia mendengus kecil. "Jangan sembarangan, Shilla!"

"Benar kan? Pensil itu bukan dari bokap lo. Kebohongan lo menandakan lo menyembunyikan sesuatu dari gue. Apa mau lo, Sivia? Jangan ganggu gue sama Alvin! Jangan pernah!"

"Gue nggak pernah ganggu kalian! Maaf kalau gue udah bikin lo jealous!"

"Apa kata lo? Cewek sialan!" Shilla mengayunkan tangan hendak menampar wajah cewek di hadapannaya itu. Sok manis di depan, tapi perayu di belakang!

"Ada apa ini?" tangan seorang cowok menahan pergelangan tangan Shilla yangn yaris mendarat di pipi Sivia. Keduanya serentak menoleh.

"Nggak pa-pa, Gabriel!..." kata Sivia pelan.

"Shilla, ada apa?" ia melepaskan tangna shilla sambil menoleh ke arah cewek itu, mengharapkan penjelasan.

"Nothing. Jaga cewek lo baik-baik!" geram Shilla sebelum melangkah cepat meninggalkan mereka.

Di balik pintu kelas X-2, Ify menggigit bibir bawahnya. Ia berpikir keras. Kenapa jadi begini? Permainan apa yang sedang di lakukan Sivia sebenarnya?

***

THE BIG EAST CAFE, SEPULANG SEKOLAH...

"Seva nyerang lo lagi sepanjang sisa jam pelajaran sekolah?" tanya Gabriel.

"Nggak." kata Sivia sambil menggeleng.

Gabriel tersenyum.

"Jangan khawatir!" Sivia mengaduk kopi susunya. "Gue bisa jaga diri."

"Memangnya apa sih yang dipermasalahkan Shilla? Kalau gue boleh tau.." tanya Gabriel.

Sivia menggigit bibir. "Shilla... dia curiga. Curiga gue merayu Alvin. Dia tahu gue ngajar Janice. Padahal, nggak berarti gue merayu Alvin, kan?"

Perlahan senyum Gabriel lenyap. Ia menyimak perkataan Sivia. Tempo hari ia tahu dari Sivia mengenai pekerjaan cewek itu di rumah Sindhunata. Gabriel sempat heran kenapa Alvin nggak pernah memberitahunya bahwa cewek yang diperkenalkannya saat festival sekolah itu guru privat Janice. Tapi Alvin memang hampir nggak pernah tahu apa yang terjadi di rumahnya. Jadi mungkin aja diaj uga baru tahu Sivia mengajar adiknya.

"Gue jarang ketemu Alvin, meskipun seminggu dua kali gue ke rumahnya. Sebagai teman dekat Alvin, pasti lo tau kan cowok itu lebih sering pulang malang sama kayak lo. Ya kan?" Sivia tersenyum

Gabriel mengangguk diam.

"Tapi Shilla mengira yang nggak-nggak." Sivia meneruskan. "Ah... sudahlah. Mungkin hari ini Shilla lagi bad mood aja, jadinya berpikir macam-macam."

"Ya.. Tapi kalau ada siapa pun Shilla mau oun orang lain yang menyerang lo atau pun bikin lo nggak nyaman, lo bisa cerita ke gue." Gabriel berkata lembut tapi tegas. "Gue nggak mau sesuatu yang buruk terjadi sama lo."


"Ehmm... gue punya sesuatu buat lo." Gabriel meraih tas sekolahnya.

Ah, baru aja mikirin segala kebaikannya, ternyata siang ini Gabriel menyiapkan kejutan untuk gue lagi. Gabriel, you're too nice...

"Lagu yang gue ciptakan untuk lo." Gabriel menyerahkan sebuah CD pada Sivia. "Sudah pernah gue ceritain, kan?"

"Gue nggak tau harus bilang apa Gabriel." Sivia meraih CD yang diberikan Gabriel. "Gue... gue bersyukur banget bisa bertemu dan mengenal lo..." ucapnya tulus.

"Semoga lo suka lagunya." ucap Gabriel. :Selain itu gue juga memasukkan lagu-lagu lain. Ada beberapa lagu Brian McKnight yang gue mainkan juga."

"Ah, lo hebat banget!" Sivia kagum. "Gue pasti suka semuanya." Sivia merasa terlalu senang menemukan sosok gabriel dalam hidupnya sampai pingin menangis rasanya.

~~PIECE 12~~

Mbak Ranti mengetuk pintu kamar Sivia. "Non, ada tamu nyari non Sivia..."

"Siapa mbak? Cewek atau cowok?" tanya Sivia

"Cowok. Katanya sih namanya Alvin."

"Alvin?" seru Sivia nggak percaya.

Alvin ke rumah gue? Pasti Mbak Ranti ngaco deh!
Namun ketika Sivia turun dan mendapati Alvin duduk di sofa di ruang tamunya, Sivia merasa bersalah pada mbak ranti.

"Alvin..." sapa Sivia. "Ada apa?" tanya-nya sambil duduk di depan Alvin. Cowok itu kelihatan enjoy, sedang menyeruput minumannya.

Sivia mengenggam tangannya sendiri deng-degan melihat Alvin malam ini. Ia nggak pernah menyangka Alvin bakal datang ke rumahnya mendadak seperti ini, dan dengan tujuan yang tidak ia ketahui pula.

Alvin menatap Sivia. "Lo nggak tau tujuan gue kemari?" tanya cowok itu. Seolah-olah Sivia seharusnya tau benar tujuan kedatangannya.

Cewek itu menggeleng bingung. Isi perutnya serasa diaduk-aduk.

Dengan santai Alvin melepas topi Von Dutch hitam yang di pakainya. "Gue mau ngambil tas sepatu gue. Masih ingat tas itu nggak?" cowok itu tersenyum sedikit.

"Owww..." Sivia melongo. Ternyata itu tujuannya.... "Masih kok. Sebentar gue ambil!"

Ketika kembali ke ruang tamu, nggak hanya tas sepatu Alvin saja yang dibawanya. "Pensil lo ini juga gue kembaliin."

"Kenapa?" Alvin menggigit bibir. Jangan-jangan Shilla....

"Nggak pa-pa. Gue udah beli pensil baru." Sivia duduk. "Lagian, lo juga pasti perlu pensil itu kan untuk sekolah." Sivia tersenyum kecil.

"Ya udah." Alvin menggumam, lalu menerima  tas dan pensilnya.

"Alvin..."

"Ya?" cowok itu menyahut cuek, memandang Sivia.

"Kenapa waktu itu lo bilang tas itu bukan punya lo?"

Alvin menghela napas. "Yah, gue hanya nggak mau Shilla mikir macam-macam."

"Oh..." Sivia mengangguk lemah.

"Oke, gue cabut dulu." kata Alvin sambil berdiri.

Sivia menengadah, memandang Alvin. Secepat itu dia mau pergi?

Setelah menarik napas panjang, Alvin perpikir... Sekonyong-konyong hadir perasaan yang tak pernah ia alami sebelumnya.

Apa ini? Kenapa hari ini gue aneh banget? Tadi gue cuma kepingin ketemu Sivia tapi sayangnya ia nggak ada jadwal mengajar Janice jadi gue memutuskan ke rumahnya dengan alasan mau mengambil tas sepatu. Tapi sekarang, setelah bertemu dan mendapat tas sepatu itu, gue malah... belum kepingin beranjak.

"Ada apa Alvin? Kok lo bengong?" tanya Sivia heran.


Alvin berdecak keras. "Siapa yang bengong?" sangkalnya judes. Ia nggak kepingin kelihatan konyol, berbengong-ria di depan orang? "Ehm, lo keberatan nggak nemenin gue?" tanya Alvin datar setelah beberapa detik.

"Hah?" Sivia membulatkan mata. "Nemenin ke mana? Ngapain?"

Alvin memutar otak. Pikir, Alvin! Dan ketika matanya melihat setumpuk brosur cabang Rossopomodoro Cafe di Mal Puri Indah di samping meja ruang tamu, ia seketika mendapat ide cemerlang.

"Belanja..." Alvin mengangkat bahu sedikit melirik brosur tersebut. "Bahan-bahan untuk masakan Italia."

"Hah?" Sivia semakin bingung. Cowok ini ngomong apa sih?

Alvin menatap Sivia dengan ekspresi bosan memberi kesan bahwa sebenarnya ia malas banget belanja. "Nyokap minta gue belanja untuk keperluan masak. Besok relasi bisnisnya dari kota Turin mau datang, dan Nyokap kepingin menjamu mereka di rumah."

"Begitu?" Sivia mengernyitkan kening. Seorang Teresa Sindhunata pastinya punya terlalu banyak pegawai, bawahan, dan pembantu untuk disuruh belanja bukannya meminta tolong sang putra mahkota ini, kan?

Tapi Sivia tidak protes. Ia membiarkan Alvin bicara. Sambil memperhatikan cowok itu terlihat keren namun kasual dengan kaus Calvin Klein abu-abu, celana tujuh perdelapan bermotif army dan sepasang sandal Oakley. Kemudian Alvin mengatakan, karena ayah tiri Sivia pemilik resto Italia pasti mengerti bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat spaghetti vongole, misalnya.

Sivia setuju menemani Alvin belanja. Entah kenapa ia tak ingin menolak cowok itu. Bahkan Sivia juga setuju untuk membuatkan daftar belanja Alvin. Seusai Sivia berpamitan pada Mama lewat telepon, mereka masuk ke Nissan Alvin yang di parkir di depan rumah, sama sekali tidak menyadari bahwa....

Beberapa meter dari sana seseorang mengawasi mereka memasuki mobil. Dan saat Alvin melajukan Fairlady-nya si pengemudi misterius itu ikut menyalakan mesin mobil. Memulai kegiatan menguntitnya malam ini.

***

DI SEBUAH HYPERMARKET, JAKARTA SELATAN...

Orang itu merapatkan jaket Reebok hitamnya yang ia kenakan. Matanya dengan awas memantau kemana pun mereka pergi. Sambil sesekali mendengus, ia mengamati gerak-gerik sepasang siswa SMA yang sedang berbelanja keperluan memasak itu lekat-lekat.

Tidak kurang cerdik, ia selalu menjaga jarak aman. Tak lupa mendorong troli dan secara acak memasukan barang-barang ke dalamnya. Paling tidak ia terlihat seperti orang-orang lain yang sedang berbelanja di tempat ramai itu.

Sepasang remaja itu terlihat sangat menikmati waktu belanja mereka. Si cowok mendorong troli dengan santai, sedangkan si cewek kelihatannya membawa catatan daftar barang yang mereka beli, si jaket hitam mengeluarkan kamera dari sakunya. Tak sampai semenit, Olympus mungil itu telah mengabadikan beberapa momen yang terlihat 'akrab' di antara Sivia dan Alvin.

Ketika mereka memilih-milih spageti... Ketika mereka mengobrol sangat dekat sambil mengambil anggur putuih... Ketika mereka bercanda sewaktu memilih-milih tomat segar... Ketika Alvin menyentuh kepala Sivia lembut, di konter sayuran...

Si jaket hitam tersenyum sendiri sambil memarkir troli dengan asal di ujung koridor hypermarket. Foto yang terakhir itulah yang paling disukainya. Ia puas. Maka setelah menyimpan kembali Olympus-nya, ia bergegas keluar.

***

KAMAR SIVIA, 23.01...

"Masuk aja, Biet!" seru Sivia dari kamar, menanggapi ketukan pintu dan suara Obiet yang memanggilnya.

Obiet pun masuk. "Apa kabar, adik manisku?" gombalnya.

Sivia menutup agenda sekolahnya. "Ada apa?"

Obiet menggeleng, lalu duduk di samping Sivia sambil memeluk boneka Spongebob. "Kangen aja. Udah lama nggak ngobrol sama lo." katanya ringan.

Bibir Sivia mengerucut. "Siapa suruh keluyuran terus? Jadinya jarang ketemu sama gue, kan?"

"Hahaha!" Obiet tertawa lepas. "Nggak kebalik tuh? Since that gorgeous Gabriel tries to get you, pastinya kalian sering keluar bareng, kan?"

Sivia menyikut pinggang Obiet. "He doesn't try to get me." katanya sambil tersepu.

"Oh yeah? Dan untuk apa CD berisi alunan piano itu? Bukankah khusus dibuat Gabriel untuk lo?" Obiet mengedip jail, lalu mencubit pipi Sivia dengan gemas. "Scusi, Signorina... (maaf, nona...) Gue nemu CD itu tersimpan di laci paling rahasia di kamar ini." ia setengah berbisik dengan senyum kemenangan.

"Stop it, Obiet! I'm not an elementary school girl..." Sivia menyingkirkan tangan kakaknya. "Lo tega banget sih menggeledah kamar gue! Dan soal Gabriel... kayaknya dia bukan buaya darat kayak yang lo bilang..."

"Mungkin aja dia udah berubah sekarang." Obiet tersenyum. "Memangnya bagaimana perasaan lo terhadap dia?"

Sivia menarik napas. "Entah, gue... seneng bareng sama dia. He's really fun to be with..." mata Sivia menerawang, "Gue... kepingin dia bahagia seperti dia selalu bikin gue dan orang lain di sekitarnya bahagia."

"Itu artinya lo jatuh cinta sama dia?A" Obiet mengernyit.

Sivia tidak menyahut. Ia hanya memandang kosong ke depan.

Obiet berdiri. "Sebaiknya lo pelajari dulu perasaan lo sendiri..." Katanya sambil melemparkan si Spongebob ke pangkuan Sivia kemudian mengacak rambut adiknya. "Gue mau online dulu, ada janji sama teman di Tokyo."

Sivia mengangguk pelan. "Night, bro..." ujarnya pelan.

***

"Sebaiknya lo pelajari dulu perasaan lo sendiri..."

Sivia menggigit bibirnya. Apanya yang harus gue pelajari? Perasaan gue?

Seumur hidup Sivia baru satu kali menentukan seseorang sebagai pangeran di hatinya. Dan itu terjadi sudah lama sekali. Namun sejujurnya Sivia masih mengharapkan orang itu kembali memasuki kehidupannya (tapi lupakan sejenak tentang cinta pertama Sivia itu, karena mengharapkannya kembali sama saja dengan mencari jarum di tumpukan jerami).

Jatuh cinta...
Apakah itu sam dengan perasaan gue terhadap Gabriel, perasaan bahwa gue selalu lepingin dia mendapat yang terbaik... Selalu bahagia, tetap bahagia. Gue nggak kepingin senyuman itu hilang dari dunia ini. Senyuman hangat yang menentramkan itu...

Atau...
Apakah itu seperti perasaan gue ke Alvin? Perasaan seolah-olah gue selalu merasa ada jutaan kupu-kupu kecil dalam perut gue berlompatan, beterbangan? Jantung gue berdegup cepat dan tentu itu bikin gue gugup.

Sivia menutupi wajahnya di dalam tumpukan bantan dan boneka. Melayang ke saat dia dan Alvin berbelanja tadi. Sivia senang karena Alvin bersikap lebih manis maksudnya nggak jutek. Bahkan Alvin bisa di ajak bercanda. Ia mulai merasa bisa berteman dengan sang pangeran muda Sindhunata.

Namun yang paling membuat hatinya berdesir adalah ketika Alvin mengusap kepalanya dengan lembut ketika mereka berjalan di koter sayuran di hypermarket. "Ada potongan sayur di rambut lo." ujar Alvin sambil tersenyum kecil.

Meskipun Alvin menyentuh rambut Sivia hanya karena ingin menghilangkan secuil daun bayam yang nyasar di sana, Sivia tetap merasa jantungnya berdegup cepat. Bahkan lututnya lemas, dan saat itu ia bingung apakah harus tersenyum atau tidak. Karena sebenarnya ia sangat ingin tersenyum....

Jatuh cinta... Bolehkah aku jatuh cinta?

Sivia berbaring menatap langit-langin kamarnya, teringat cinta pertamanya...

***

KAMAR ALVIN, 23.45...

Di depan layar notebook, wajah Alvin tanpa ekspresi. Cowok itu membiarkan pikirannya berkelana bebas, memikirkan apa pun atau siapa pun yang ingin ia pikirkan saat ini.

Sosok cewek bernama Sivia.
Rambut panjang yang lembut. Wajah oval dengan kulit seputih salju. Sepasang mata jitam jernih. Senyumnya... mencerminkan betapa polos dirinya. Ekspresinya saat bicara kadang judes, kadang tampak lugu, dan kadang kocak.

Cewek yang ekspresif seperti itu mungkin memang cocok bersanding dengan Gabriel, paling nggak mereka punya kesamaan.

Alvin menghembuskan napas. Ia merasa tolol banget hari ini. Berangkat ke rumah Sivia dengan mengatasnamakan tas sepatunya, lalu mencari-cari alasan untuk bisa pergi bersama cewek itu agar bisa lebih lama di dekatnya. Ia bahkan berbohong mengenai ibunya. Tidak ada tamu yang bakal datang. Semuanya cuma alasan.

Ada apa sebenarnya? Belum cukup anehkah gue yang nggak bisa mengingat masa lalu, sehingga perlu ditambah dengan gue yang tiba-tiba punya keinginan untuk menemui seorang cewek yang biasanya paling enggan gue temui? Bahkan gue mulai berasa 'bisa' berteman dengannya.

Setiba di rumah, Alvin langsung meletakkan semua belanjaannya di dapur dengan cuek. Itu membuat Martha sang koki keluarga Sindhunata yang diimpor Teresa dari negeri gingseng mendelik bingung. Sejak kapan Tuan Muda belanja keperluat memasak? pikirnya sambil mengeluarkan sebungkus kerang lalu menggeleng.

Sebuah suara muncul dari komputernya, mengagetkan alvin. Ternyata Gabriel, ia mengirimkan alvin sebuah nudge (fitur pada MSN Messenger, fungsinya seperti BUZZ! pada Yahoo! Messenger)


.:Gabriel-D:. : dari mana aja lo? dari tadi gue telp ga diangkat =(

Sejenak Alvin terpekur. Ia memang tidak membawa HP saat pergi tadi. Sebenarnya bukan karena menghindari telepon dari Gabriel, namun telepon rutin Shilla-lah yang bikin Alvin malas bawa HP. Dan setelah ia tiba di rumah pum, belum disentuhnya HP yang tergeletak di sambil bantal itu.

Gue nggak mungkin bicara jujur, bilang gue ke rumah Sivia lalu menculik cewek itu untuk nemenin gue belanja. Ah! Kenapa Gabriel mesti mempertanyakan hal ini?!

-Alvin-Jo-Sin- : hmm.. tadi nemenin sepupu gue ke udangan di Mulia... HP ketinggalan. :D lagian mentar doang kok... buktinya skrng udah nangkring di kamar.

Alvin merasa napasnya sesak. Ia tidak suka berbohong seperti ini kepada sahabatnya sendiri apalagi Gabriel kayaknya percaya aja dengan kebohongan Alvin. Tapi kalau ia mengatakan sejujurnya, Gabriel mungkin marah dan akibatnya parah untuk persahabatan mereka.

Kalau saja ia nggak merasa kepingin ketemu Sivia tadi. Kalau saja ia tidak ke sana, maka ia akan merasa nyaman seperti biasa terhadap Gabriel. Kini Alvin merasa seperti penjahat. Meskipun di antara ia dan Sivia tidak ada apa-apa, tetap saja ia takkan memberitahu Gabriel.

Hingga satu setengah jam berikutnya ketika alvin, Gabriel, dan Cakka tengah bermain Point Blank bersama, Alvin masih merasakan butir-butir perasaan bersalah terhadap Gabriel.

Sori, Gabriel... Nggak akan terulang lagi. Sahabat nggak berbohong, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar