PEACE 2~~
FOOD COURT SCS...
Lunch time!!
Hampir seluruh siswa SCS memenuhi food court untuk mengisi perut. Sivia duduk di meja kecil di ujung food court bersama teman barunya, Ify, Deva dan Ozy.
"Pulang sekolah kita jalan yuk!" Ify mengajak dengan penuh semangat. "Gimana kalau nonton?"
"Boleh aja!" Deva menyahut.
Sivia nyaris saja menyetujui ajakan Ify kalau saja ia tidak ingat rencananya sore ini. Tadi pagi orangtuanya memberitahukan kabar baik untuk Sivia, yakni ia mendapat pekerjaan yang ia inginkan!
Meskipun sekarang hidup Sivia jauh dari kekurangan finansial, ia tetap kepingin punya pekerjaan sambilan.
Pagi ini keinginan Sivia terkabul. Papa Fabi bilang atasan kenalannya ada yang mencari guru privat untuk anaknya yang masih SD. Sivia senang sekali mendengarnya, ia bisa mulai bekerja!
"Ngg.. gue nggak bisa," Sivia kelihatannya nggak pingin mengecewakan Ify.
"Ada acara ya?"
"Sivia mengangguk, " Mau ke rumah calon murid privat gue untuk berkenalan. Kalau semua lancar, gue besok mulai mengajar."
"wah, gue juga suka tuh jadi guru privat," Deva nimbrung sambil menyedot coke-nya. "dan gue sudah punya dua murid tetap di arpatemen taman anggrek."
"Hebat ya kalian!" Ify meraih minumannya, "Hmm... kalau begitu, kita nontonnya lain kali aja ya! biar bisa komplet berempat!"
Ketika teman temannya mendengarkan Deva bercerita tentang kenakalan murid kesnya tersebut, Sivia mengeluarkan dompet dari saku rok lipitnya. Ia kepingin memastikan dirinya tidak lupa membawa catatan kecil alamat rumah calon murid barunya.
Sivia mengembuskan nafas kega ketika mendapati kertas itu ada di dompet. Ia mengambil dan membacanya sekilas. Alamatnya lengkap. Ia hanya perlu menyerahkannya kepada sopir taksi nanti.
Sambil tersenyum tipis Sivia membaca nama calon muridnya, dan langsung berimajinasi: seorang anak perempuan cantik dan imut, dengan sepasang mata jernih dan rambut hitam di kuncir kuda.
Margareth Janice Sindhunata, kelas 2SD.
~~~PEACE3~~~
"Silahkan duduk, mau minum teh atau jeruk?"
Sivia menatap pelayan berusia lima puluhan itu sambil tersenyum, "Jeruk saja, terima kasih."
"Baik," pelayan berwajah raman itu menjawab sopan, lalu sekali lagi mempersilakan Sivia duduk di sofa putih besar di ruang tamu kediaman keluarga Sindhunata. Pelayan yang memperkenalkan diri sebagai Martha itu mengatakan bahwa Nyonya Sindhunata alias ibunya Janice, akan segera menemuinya.
Jantung Sivia berdegup kencang, mata hitamnya menjelajahi ruang di sekitarnya. Rumah di bilangan Pondok Indah itu luar biasa besar, dengan taman luas dan terawat, dan air mancur dengan patung cantik salah satu dewi dalam sejarah. Mungkin dewi Venus?
Dari luar rumah berpagar hitam tinggi terkesan sangat melindungi. Ketiga memasuki gerbangnya, Sivia benar benar tidak menyangka bisa mengajar di istana semegah ini.
"Silahkan diminum, Nyonya akan turun sebentar lagi." Martha menyuguhkan segelas jeruk segar pada Sivia. Sivia pun menyeruput air jeruknya sedikit. Hmmm segar!
"Sivia?" Sebuah suara membuat Sivia telonjak kaget dan kontan menoleh.
Seorang wanita berkebangsaan Korea berusia awal empat puluhan dengan perawakan ramping dan tinggi memasuki ruang tamu, mendatanginya. Wajahnya halus dan putih, bagai porselen. Kedua matanya hitam dan bentuknya seperti Almond. Rambutnya panjang dan hitam.
Sivia segera berdiri, setelah sejenak mengira dirinya bertemu bidadari. Lalu ia menunduk, memberi salam.
"Teresa.." wanita itu menjabat mantap tangan Sivia, memperkenalkan diri.
Sivia mengangguk pelan. Ia merasa canggung berhadapan dengan wanita ini.
Teresa Sndhunata, sepertinya tidak asing, Sivia berbisik dalam hati. Tentu saja beliau cukup terkenal mengingat posisinya sebagai menantu salah satu konglomerat Indonesia.
"Sivia kemari sendirian?"
Sivia mengangguk, "Ya, tante.." pikirannya melayang. Sindhunata. Tentu saja keluarga Sindhunata yang itu sering di sebut di berbagai media, Sivia menyadari kebodohannya. Mereka bukan sembarang Sindhunata! Hal yang makin disadari Sivia membuatnya gugup.
"Sebenarnya saya memanggil Sivia kemari sore ini untuk berkenalan. Saya ingin berkenalan dengan Sivia, begitu juga dengan Janice. Kalau semuanya cocok Sivia bisa mulai bekerja besok, membantu Janice belajar di rumah." Teresa Sindhunata mempersilakan Sivia meminum minumannya.
"Bukannya apa, tetapi kami tidak ingin memperkejakan orang yang salah." wanita itu melanjutkan sambil tersenyum. "Jadi di perlukan perkenalan sebelum memutuskan apakah orang tersebut bisa bekerja di rumah ini. Sebaliknya juga, kami tidak ingin memaksa orang yang kurang sreg dengan kami untuk bekerja disini."
Sivia mengangguk, "Ya.. tentu saja," jawabnya pelan. Dalam hati ia khawatir dianggap tidak layak untuk pekerjaan ini. Sivia berdoa semoga keberuntungan ada di pihaknya.
Kemudian Teresa bertanya tentang pengalaman Sivia mengajar. Sivi hanya menjawab jujur kalau ia sering membantu kakak kelasnya mengajar les ketika di Malang dulu. Dan tentunya prestasi anak SD itu cukup bagus.
Setelah itu mereka berbincang bincang sejenak mengenai keluarga sivia. Cewek itu bercerita tentang papa Fabi dan Obiet yang sedang kuliah arsitektur di University of Virgina, Charlottesville, namun saat ini sedang menikmati liburan di tanah air. Juga tentang mama, ibu rumah tangga yang sangat perhatian pada anaknya. Sivia menyinggung sedikit mengenai bisnis yang digeluti ayahnya.
"Ah, Rossopomodoro Cafe!" Teresa Sindhunata tertawa anggun, "Saya suka sekali Spagetti carbonara disana lho!"
Teresa Sindhunata ternyata ramah dan angkuh, batin Sivia. Lambat laun ia merasa nyaman dan tidak lagi canggung duduk berdampingan dengan wanita itu.
"Sivia, ayo kita ke ruang belajar Janice. di sanalah kamu akan mengajar putri saja bila jadi bekerja disini, dan itu berarti kamu berlu melihat kondisinya, bukan?"
***
DINING ROOM...
Ketika selesai melihat suasana di ruang belajar Janice yang sangat besar serta lebih dari sekedar nyaman untuk mendukung pembelajaran dan sesi perkenalan yang menyenangkan antara Sivia dan Janice Sindhunata. Teresa Sindhunata menawari Sivia makan malam bersama keluarga mereka karena jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Terhitung sudah dua jam lewat Sivia di istana ini, sejak pertama kali ia menginjakan kaki di ruang tamu pukul lima tadi.
"Terima kasih banyak, tante Teresa. Tapi lebih baik aku pulang saja dan makan malam di rumah," Sivia menolak sopan tawaran Teresa Sindhunata.
Senyum tulus terukir di wajah cantik wanita itu, "Tante telepon mama kamu, ya. Supaya beliau tidak khawatir, sekaligus minta izin mengajak kamu dinner disini..."
Sivia tidak sanggup berkata apa apa. Wanita ini benar benar luar biasa. Selain segala kesempurnaannya sebagai sosok yang anggun dan cantik tanpa cela, beliau juga ramah, friendly, dan bisa membuat orang semakin nyaman berada di dekatnya.
"Oppa!! (kakak!!*di panggil untuk kakak lakilaki)" Janice tiba tiba berteriak kesenangan lalu berlari menghambur, membuat Teresa dan Sivia terkejut dan menoleh. Janice memeluk seorang cowok berseragam sekolah, seragam SCS, dengan jas biru muda keabu abuan yang tidak di kancingkan dan dasi yang nyaris tidak simpul.
"How's your day, my little princess?" tanya cowok itu lembut ketika ia jongkok dan membalas pelukan adiknya. Setelah mengecup singkat pipi Janice, ia berdiri dan menyapa ibunya. Lalu Janice, sembari digendong Martha, naik ke tangga melingkar menuju kamarnya untuk melakukan ritual malam cuci tangan dan kaki, sikat gigi, dan berganti pakaian sebelum tidur. Hatinya bahagia bila sudah bertemu dengan sang kakak.
"Alvin, kenalkan ini Sivia. Calom guru privat Janice yang baru," Teresa Sindhunata berkata pada putranya setelah menyahuti sapaan cowok itu.
Saat itula cowok itu mendekat dan Sivia dapat melihat jelas. Wajah itu. Ia benar benar masih ingat wajah itu!
Sivia membuka mulut, hendak menyapa. Namun tak satu pun kata meluncur dari mulutnya, begitu juga dengan cowok di hadapannya yang kelihatannya masih ingat siapa Sivia dan bagaimana skenario pertemuan mereka sebelumnya.
~~~PEACE4~~~
Kenapa gue kayak begitu sih? I was so rude!
Alvin berbaring telungkup di tempat tidurnyam termenung menatap kosong layar laptop yang manampilkan e-mail oendek kakeknya tadi siang. Sudah nyaris sebulan kakek Alvin menetap di rumahnya di singapura. Karena sedang dirawat seorang dokter Singapura yang juga sahaban Jason Sindhunata.
Baris demi baris e-mail itu di baca Alvin, semuanya menyiratkan kesehatan kakeknya telah membaik dan beliah sangat merindukan Alvin.
Pikiran Alvin melayang kemana mana. Ia masih bertanya tanya, mengapa ia begitu kasar. Begitu kasar pada cewek yang bernama Sivia yang bakal jadi guru privat Janice mulai besok.
Jujur saja, ketika ibunya memperkenalkan mereka, Alvin kaget bukan main. Dan kayaknya cewek itu jauh lebih kaget menemukan Alvin kakak calon murid privatnya.
Alvin sama sekali tidak tersenyum kepada cewek itu. Apalagi menyodorkan tangan sebagaimana mestinya prang berkenalan. Ia hanya mengucapkan "Hai" singkat dan mengangkat alisnya dengan santai, seolah olah malas banget berkenalan.
"Alvin, kalau kamu tidak keberatan, bisakah mengantar Sivia pulang ke rumahnya? Ini sudah cukup malam dan berbahaya untuk seorang perempuan naik taksi sendirian."
Alvin melepas jas seragamnya, "Pak Djamin lagi nganggur di pos satpan kok, Ma," jawabnya cuek, menyebut nama salah satu sopir keluarnyanya. Dari ekor mata ia melihat Sivia kelihatan sebasalah.
"Tidak usah, aku pulang sendiri saja, tante." kata Sivia lembut.
"Jangan. Begini, biar pak Djamin yang antar, yaa.." Teresa Sindhunata meyakinkan Sivia, "Ah, cham! (oh ya) Saya terlupa sesuatu, Jamamkanman gidaryeoyo.. (tunggu sebentar!)" katanya sebelum berjalan ke dapur, meninggalkan Sivia dan Alvin di ruang tengah.
Alvin melonggarkan dasinya yang sudah longgar.
Sivia berdehem pelan, "Ehm.. waktu itu, terima kasih sudah menolong," ucapnya.
Alvin diam saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Buat apa sih di besar-besarkan? wkatu itu kan gue cuma kebetulan lihat dia hampir terlindas mobil, jadi refleks menyelamatkannya!
"Tas sepatunya, besok gue kembaliin di sekolah," Sivia menambahkan.
Sebelum Alvin sempat berbicara, Ibunya keluar dari dapur dan membawa kotak makanan plastik yang agak besar. "Ini ada kimbab spesial buatan Martha, untuk kamu dan keluarga,"
Sivia menerima pemberian itu sambil beberapa kali mengucapkan terima kasih.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu padanya?" Teresa bertanya pada putranya setelah Sivia pulang diantar pak Djamin. "Alvin, kamu seharusnya belajar bersikap baik pada semua orang, bukan hanya pada keluarga dan teman teman dekatmu saja," wanita itu ebrkata dingin.
Kini Alvin menarik napas panjang dan membuangnya dengan sekali hembusan cepat. Alvin tidak tau barus menjawab apa pada ibunya tadi, jadi ia hanya mengangguk cuek lalu ngeloyor ke kamar. Ia memang bukan tipe cowok yang banyak bicara dan mudah akrab.
Tapi berhadapan dengan Sivia membuatnya makin nggak kepingin bicara banyak apalagi tersenyum. Entahlah. Sejak pertemuan mereka seminggu lalu di depan BookField, alvin merasa ada sesuatu pada cewek itu yang membuat emosinya nggak stabil. Membuatnya kepingin pergi menjauh supaya nggak perlu berhadapan dengan sepasang mata hitam bening itu lagi, melihat binar binar jernihnya.
What's wrong with me? Dia cuma cewek SMA yang lugu dan belum begitu mengenal dunia. Kenapa gue harus ribet begini menghadapinya? Kenapa perasaan gue nggak tenang dan emosi gue gak stabil karena dia? Jeleknya lagi, kenapa dia harus jadi guru privat Janice? yang artinya kami bakalan sering bertemu di rumah ini...
***
DI KAMAR SIVIA, PADA WAKTU YANG SAMA...
Dasar cowok aneh! Snobbish!
Sivia baru saja di telpon Teresa Sindhunata bahwa besok Sivia resmi menjadi guru privat Janice. Sivia sangat senang mendengarnya. Dan ketika Teresa bertanya apakah ada yang membuat Sivia enggan menjadi guru privat Janice, sivia menjawab tidak ada.
Sebenarnya memang tidak ada. Semua yang ada di rumah itu terasa bersahabat, walaupun serba mewah dan membuatnya takjub. tetapi..........
Apakah Alvin membuat Sivia enggan bekerja di kediaman Sindhunata?
Sivia mengeluarkan tas sepatu Alvin dari lemarinya. Saat ia melemparkan tas itu ke keranjang cucian seminggu yang lalu, benda berbahan kain warna biru pucat itu menimbulkan pertanyaan dari mama.
"Mama tidak pernah ingat kamu punya tas itu Sivia?" tanya mama sambil menatap heran tas sepatu itu.
"Ehm... tadi tas plastik Sivia jebol, dan seorang teman meminjamkan tas itu." Sivia tidak merasa perlu menceritakan bagian di saat ia nyaris mati di lindas roda truk besar, karena hanya akan membuat mama khawatir. Dalam hati Sivia berjanji akan selalu hati bati di jalan raya sehingga hal berbahaya semacam itu nggak baakal terjadi lagi.
"Teman?"
"Kenalan, maksud Sivia" ralatnya sambil meneguk segelas air putih.
Kini Sivia terduduk lunglai di karpet tipis berbentuk beruang putih yang sedang telungkup. Cewek itu memegangi tas sepatu Alvin. Besok ia akan menemui Alvin di sekolah dan mengembalikan tas itu.
Orang macam apa yang nggak menyahut ketika ada yang bilang terima kasih? Bahkan saat ketiga kalinya Sivia berterima kasih, Alvin tetap diam dengan gaya angkuhnya.
Rahangnya yang bagus tirus, halus, sekaligus tegas. Sepasang mata hitam sipit yang menusuk, di lengkapi alis tebal membuat sorot matanya makin tajam. Hidung mancung dengan garis ramping. Dan tangannya yang besar dan kuat, menggenggam tangan Sivia saat itu, menariknya menyelamatkannya. Serta perasaan nyaman dan terlindungi yang didapati Sivia ketika berda dalam pelukannya, Aroma itu....
Sesuatu berdesi dalam hati Sivia.
Sivia mendapati dirinya seperti orang tolol. Memikirkan cowok itu. Cowok yang sejak pertemuan pertama mereka sudah membuatnya tak mampu berkata-kata. Membuatnya terpukau. Seolah ada mantra khusus dalam darah Alvin yang bikin Sivia merasakan sesuatu yang berbeda terhadap cowok itu. Perasaan yang belum diketahui Sivia. Perasaan apakah ini?
Dengan pelan Sivia melupat rapi tas serut Alvin, kemuadian memasukkannya kedalam tas sekolahnya. Tas itu siap di kempalika kepada pemiliknya besok.
~~~~~~~~~~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar