Senin, 11 April 2011

Kupu-Kupu Salju. part5

Ternyata semua memang menarik. Both bazar amal itu maupun Gabriel. Suasana yang mengasyikan itu bikin Sivia serasa pergi berlibur.

Mereka mengitari seluruh arena bazar. Dan atas permintaan Sivia, mereka benar-benar singgah di semua stan. Well, hampir semua stan karena mereka nggak mau ke stan yang menyediakan alat-alat dapur dan perlengkapan makan antipecah.

"Gue suka banget beli buku." Gabriel berkata ketika ia dan Sivia melihat stan buku kebudayaan.

"Cuma di beli?" Sivia menggoda Gabriel setengah mencibir.

Gabriel mengangguk, "Gitu deh," cowok itu tersenyum lucu, "Setelah di beli, disusun di lemari buku,"

Sivia mengalihkan pandangannya dari buku bertemakan kebudayaan Cina, menatap Gabriel. "Maksud gue, nggak di baca?"

Gabriel menggeleng. Lalu mengambil mengenai transformasi kebudayaan Bali, dan mengembalikannya setelah membaca sebentar sambil belakang buku itu. Kemudian melakukan hal yang sama terhadap buku berjudul Titik Balik Peradaban.

Cowok ini kelihatannya memang kurang menaruh minat pada buku khususnya buku kebudayaan,  Sivia menarik kesimpulan setelah untuk kesekian kalinya melihat Gabriel meraih buku da meletakan kembali bahkan belum membaca judul dan penulisnya.

"Yuk, jalan ke stan lain." seru Sivia ceria, sambil menyentuh ringan lengan Gabriel.

Berikutnya mereka memasuki stan boneka dan di lanjutkan ke stan hiasan-hiasan lucu yang terbuat dari kayu. Penjaga stannya mengatakan barang-barang berseni itu sejauh ini di ekspor ke kurang lebih enam negara. Sivia dan Gabriel kagum mendengarnya, dan mereka keluar dari stan itu setelah membeli dua pajangan sama berbentuk kucing.

Seperempat jam kemudian mereka merasa agak lapar. Tanpa buang waktu mereka ke stan kue dan roti.

"Ada sisa krim..." Sivia memneritau  Gabriel sambil menunjuk ujung mulutnya sendiri.

Gabriel berhenti berjalan dan mengusap-usap ujung bibirnya, "Sudah?" ia bertanya pada Sivia yang tertawa karena sisa krim roti itu masih ada disana.

"Masih!" kata Sivia di sela tawanya.

Wajah Gabriel kelihatan sangat lucu. Agak panik ia mengusap lagi hingga krim itu malah mengotori pipinya. "Gimana? sudah?"

Tawa Sivia makin keras. "Masih!" sahutnya. "Malah sampai ke pipi lo!" tambahnya sambil terpingkal melihat Gabriel makin belepotan

Gabriel tersenyum malu, membuatnya sangan cute. Sekali lagi ia berusaha membersihkan krim di wajahnya, dan belum juga sempurna.

"Payah!" ujar Sivia sambil mengeluarkan tissue dari tasnya ."Jangan bergerak!" gumam cewek itu sambil mendekati Gabriel, membersihkan sisa krim dengan tissue.

Patuh, Gabriel benar-benar tidak bergerak. Matanya menatap Sivia sementara cewek itu membersihkan wajahnya. Jujur saja, ia sangat menyukai momen ini. Sivia begitu manis, pikir Gabriel sambil memandangnya. Sivia juga terpaku membalas tatapan Gabriel. Tatapan mereka bertemu, sebelum Sivia mengalihkan matanya ke sebuah stan aksesori.

"Ke sana yuk!" cewek itu menarik lengan kemeja Gabriel. Gabriel mengikuti dengan tersenyum penuh arti.

"Wah bagus banget, ya!" Sivia mengagumi kalung-kaling khas Thailand yang dipajangi di etalase mungil stan itu. Gabriel tersenyum lagi melihat ekspresi Sivia berseri-seri. Ia sendiri sebenarnya tidak berminat melihat semua ini, tapi melihat senyum lebar di wajah Sivia, hatinya berdesir sehingga mau tak mau ia tersenyum juga.

"Bagusnya! Cantik banget!" Sivia meraih scraf cantik berwarna merah keunguan.

Seketika antusiasme di wajah Sivia meredup ketika penjaga stan memberitahukan harga scraf itu.

"Mahal, yaa.." guman Sivia pelan sambil tersenyum kecil.

"Tetapi benar-benar cantik dan asli dari Thailand." jawab si penjaga, "Dengan membelinya, berarti adik juga sudah berpartisipasi dalam aksi amal." penjual itu tersenyum lembut.

"Tapi saya nggak bawa uang sebanyak itu." Sivia menjawab jujur, "Sayang banget," imbuhnya, masih tersenyum walaupunn merasa kecewa.

Setelah mengucapkan terimakasih, Sivia keluar dari stan tersebut. Gabriel berjalan di sampingnya.

"Benar-benar kepingin scraf tadi, ya?" Gabriel menggoda Sivia dengan tampang jail.

Sivia menonjok Gabriel pelan, "Cari minum yuk! Haus!" katanya, mengubah pembicaraan.

Mereka berhenti di stan minuman, memesan dua gelas jus jambu, lalu melanjutkan perjalanan. Sivia berusaha melupakan scraf tadi dan melarutkan diri dalam kesegaran jus jambu.

"Eh, lihat ke sana yuk!" Gabriel menyentuh jemari Sivia ringan, lalu segera melepaskannya sebelum gadis itu menyadarinya. Namun cowok itu keliru, karena sivia sadar betul apa yang dilakukan Gabriel tadi. Dan sentuhan itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

Sivia mengikuti Gabriel ke stan film yang menjual banyak DVD.

"Gue juga pingin nonton film ini!" kata Sivia penuh semangat kelika Gabriel membeli film drama, A Moment to Remember. "Lo suka drama, ya? Bukannya menurut cowok-cowok itu cengeng?"

Gabriel tersenyum lebar, "Siapa bilang? Cowok-cowok suka nonton drama kok!"sahutnya cuek sambil berjalan terus.

"Tapi drama yang barusan lo beli bakalan bikin penontonnya nangis!"

"Memangnya kenapa?" balas Gabriel dengan wajah lugu. "Gue orang yang sensitif, gampang tersentuh. Dan jujur aja, gue kadang nangis kalau nonton drama sedih. Air mata bukan cuma milik cewek, kan?"

Sivia tersenyum manis mendengar jawaban Gabriel. Entah kenapa, ia suka mendengarnya. Gabriel sungguh lepas, terbuka, begitu apa adanya, cepat akrab dengannya, dan sangat menyenangkan. Belum pernah ia bertemu sosok seperti Gabrie.

"Kok lo senyum-senyum sendiri?" Gabriel menyenggol bahu Sivia pelan.

"Nggak kok!" sangkal Sivia. "Hm... abis lo nonton, boleh kan gue pinjam?" cewek itu menengadahkan wajah, menghadap wajah Gabriel.

Cowok itu berhenti berjalan dan menatap sivia polos. "Nggak boleh!"

"Hah?" Sivia menghentikan langkah. "Pelit banget sih! kenapa?

Gabriel menunduk hingga matanya sejajar dengan mata Sivia. "Karena lo akan nonton drama ini bareng gue..." katanya lembut. Lalu sambil menegakkan tubuh Gabriel tersenyum penuh arti.

***

KAMAR SIVIA, 21.25...

Dengan bersemangat Sivia meletakkan buku-bukunya di meja belajar, siap melaksanakan kewajibannya sebagai siswa. Ketika hendak membuka buku, ia teringat pajangan berbentuk kucing yang tadi dibelinya di bazar amal.

Kucing itu akan memperindah meja belajarku!

Sivia bangkit dari duduk. Ia menghampiri tas kertas daur ulang yang tadi dilempar begitu saja ke tempat tidurnya.

Ketika meraih dan melihat isinya, Sivia baru menyadari ada sesuatu disitu. Kotak hitam tipis dan agak lebar. Sivia menariknya keluar.

Pada bagian atas kotak, tepat di tengahnya, terdapat tulisan emas dalam bahasa Thailand yang sama sekali tidak di mengerti Sivia. Ia membuka tutup kotak itu dan mendapati scraf merah keunguan pujaannya di sana, terlipat rapi tampak cantik sekali.

Gabriel...

~~~PIECE 7~~~

FOOD COURT SCS, TIGA HARI KEMUDIAN...

Kelima pangeran ketahuan membolos!
Mr. Prayoga tidak percaya begitu saja pada pengajuan mereka mengenai Borabora dan langsung menelepon para orangtuanya.

Tentu saja para orangtua mengatakan putra mereka sudah pulang dari Borabora sejak kurang lebih tiga minggu sebelum sekolah dimulai. Kelima pangeran jelas telah menipu pihak sekolah untuk kesekian kalinya (kecuali Ray), dan pasti mendapat hukuman.

Masing-masing mendapat sepuluh poin minus di catatan pribadi mereka menurut peraturan, bila seorang siswa mengumpulkan dua puluh poin minus, akan di skors empat hari.

"Lihat apa yang kalian perbuat terhadap gue!" seru Ray sambil menatap nanar buku catatan pribadinya, lalu mengalihkan pandangannya nggak percaya ke teman-temannya yang duduk di sekitarnya. "Kalian maksa gue bolos, dan gue dapat poin minus!!!"

Gabriel menghela dapas, menatap Ray. "Semuanya dapat poin minus kok. kenapa mesti ribut sih?" cowok itu bergumam santai lalu menyenggol Rio di sebelahnya. "Yuk besan makanan."

Serentak Gabriel dan Rio berdiri lalu menuju stan masakan Jepang untuk memesan makan siang. Di maja, Ray duduk di antara Alvin dan Cakka. Dan cowok itu masih saja meributkan poin minusnya.

"Mungkin bagi kalian dapat poin minus udah kayak makanan sehari-hari. Tapi bagi gue, ini malapetaka! Bencana yang merusak reputasi! Karena kalian..."

"Why do you blame us now? That was your own decision to skip the class." Alvin mengerutkan kening, menatap temannya itu.

"My own decision?" Ray melotot. "Kalian maksa gue! dan sekarang nama baik gue hancur karena poin minus sialan ini!" ia kelihatan hampir menangis.

Cakka yang sedang menyantap seporsi nasi kari tuna pedas menoyor kepala Ray pelan. "Jangan nangis, little Ray! Kalau lain kali lo nggak mau bolos lagi, gue setuju. Secara, Mr. Penguin udah ngancem akan ngeluarin gue dari klub sepak bola sekolah kalau gue bikin pelanggaran lagi." Cakka menarik napas. "Jadi gue nggak akan nambah poin minus di sini," ia mengangkat buku catatan pribadinya.

Ray memandang Cakka seakan cowok itu dewa penyelamatnya. "Bagus! Kita memang seharusnya berada di jalan yang benar..."

"Well," Alvin pura-pura cemberut. "Resolusi yang bagus," katanya sambil melirik Cakka.

Ketika Gabriel dan Rio kembali dengan seporsi seafood tepanyaki, HP Alvin bergetar.

"Siapa?" tanya Ray lugu ketika Alvin melipat kembali HPnya setelah selesai bicara dengan penelefon..

"Shilla.." jawab Alvin malas. "Dia minta gue ke gazebo belakang sekolah sekarang."

Rio tersenyum. "Wajar kali kalau calon istri lo kepingin menghabiskan waktu lebih banyak bareng lo!" gumamnya. "Benar kan?" cowok itu menyikut Gabriel, meminta dukungan.

"Ya, tentu saja!" sahut Gabriel sambil asyik mengunyah makanannya.

"Gue duluan, ya!" kata Alvin seraya bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kawasan food court, menuju gazebo sekolah.

***

SALAH SATU GAZEBO, HALAMAN BELAKANG SCS...

Shilla dan Alvin duduk berdampingan. Kebetulan di dalam gazebo hanya ada mereka, tidak seperti gazebo lain yang sudah penuh.

"Ada apa?" Alvin bertanya datar.

"Shilla tersenyum, lalu bergeser mendekat, "Nggak ada apa-apa," katanya lembut. "Aku cuma pingin berduaan aja sama kamu, kayak mereka!" Shilla menunjuk sepasang siswa yang sedang mengobrol di gazebo lain.

Alvin mendengus kecil, agak sinis. "Ngapain? Memangnya lo nggak kepingin main bareng sama teman-teman lo, kayak mereka?" gantian Alvin menunjuk segerombolan cewek yang lagi ketawa-ketiwi di gazebo yang sama dengan pasangan kekasih tadi.

"Alvin, kenapa sih susah banget ngabisin waktu bareng aku?" Shilla menggigit bibir. "Setiap pagi kamu berangkat sekolah bareng teman, waktu istirahat dan makan siang kamu habiskan bareng teman, pulang sekolah kamu main dan jalan bareng teman, malamnya juga selalu masih main sama teman, atau kadang keluar bareng keluarga, atau istirahat di rumah." Shilla menarik nafas."Kapan aku bisa bareng kamu?"

Mendengar keluhan Shilla, Alvin diam saja. Ia bukannya tidak mau menjawab, ia hanya tidak tau harus menjawab apa. Ia justru lebih kepingin tanya, kenapa gue harus bareng lo?

"Kalau kamu memang susah lepas dari teman-teman kamu, aku nggak apa-apa kok pergi bareng mereka juga," Shilla menunduk. "Aku nggak keberatan kita pergi berenam, atau mungkin teman-teman kamu mau ajak pacarnya juga."

Alvin memandang Shilla seolah cewek itu idiot total, lalu tertawa sinis. "I won't be okay with that," katanya tajam. Apa sih yang ada di pikiran Shilla, heh? Ngajak dia keluar bareng anak-anak? ada-ada aja!

Shilla menyentuh lengan Alvin. "Aku tau kamu nggak bakalan mau. Maka itu sediain waktu buat aku, sedikit aja." katanya

Alvin memandang Shilla lekat-lekat selama beberapa detik. Lalu melirik arlojinya. "Waktu mau makan siang udah hampir habis, yuk balik ke kelas!" ujarnya bangkit berdiri.

Shilla berjalan di samping Alvin. Ia sebenarnya nggak puas, karena Alvin nggak ngasih jawaban. Alvin tidak berjanji akan meluangkan waktu bersamanya. Namun karena Alvin tidak menjawab, itu berarti ia juga tidak menolak. Itu saja cukup membuat Shilla bisa bernafas.

Shilla mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. "Alvin! Lihat nih!" Alvin menoleh dan melihat dua pensil mekanik berwarna merah di tangan Shilla.

"Kemarin temanku yang pulang dari liburan di Jepang memberikan pensil ini sebagai oleh-oleh." Shilla tersenyum. "Satu untuk kamu!" serunya seraya mengulurkannya pada Alvin.

Alvin berhenti berjalan, menatap Shilla sambil tersenyum tipis.

"Aku pasti lebih semangat belajar kalau pakai pensil yang sama dengan kamu!" kata Shilla lagi.

"Trimss.." gumam Alvin, langsung menjejelkan pensil merah itu tanpa melihatnya dulu.

Setiba di lantai tiga Shilla berkata, "Kamu nggak usah mengantar aku ke kelas. Sampai ketemu nanti, dan pensilnya di pakai, ya!"

Alvin mengangguk pelan, berusaha tersenyum.

"Oh iya" Shilla menatap Alvin. "Tas sepatu yang kemarin dibawa Sivia waktu itu, benar-benar bukan punya kamu kan?" tanya cewek itu, berharap Alvin memberi jawaban yang meyakinkan dirinya.

Mata tajam Alvin membesar sedikit. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Bukan!"

Shilla tersenyum lebar namun tidak terlihat lega. "Baiklah kalau begitu." Kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju lantai 5, tempat ruang-ruang kelas X berada.

Alvin sempat terpaku. Pertanyaan Shilla membuatnya teringat pada tasnya, juga Sivia. Alvin belum bertemu Sivia sejak hari itu, sejak Alvin mengatakan tas sepatu itu bukan miliknya. Bahkan ia belum bertemu Sivia di rumahnya sendiri ketika cewek itu mengajar Janice, karena setiap hari Alvin pulang malam.

Alvin menggigit bibir bawahnya sambil berpikir Sivia pasti kesal dengan kejadian itu. Dia pasti marah sama gue...

~~~PIECE 8~~~

SUATU SORE, DI RUMAH CAKKA....

"Ini saputangan lo?" Rio mengeluarkan sapu tangan Hello Kitty warna pink dan merah di ransel Gabriel yang terbuka. Mata hitam Rio memandang Gabriel terpengah, antara kaget dan mengejek.

Sore ini mereka berlima ada di rumah Cakka, untuk bermain biliar dan bersantai. Sejak tahun pertama di SMA mereka sudah terbiasa menjadikan rumah Cakka sebagai markas. Tetapi kalau mau berenang atau nge-gym dan kebetulan lagi malas ke sport club, rumah Alvin adalah tempat yang paling oke.

Sambil menyusun kelima belas bola biliar, Gabriel menyempatkan menoleh ke arah Rio, lalu tersenyum lebar, "Bukan punya gue," katanya setelah melirik saputangan yang di pegang Rio.

"Trus?" Alvin yang duduk santai di salah satu sofa sambil memangku stik biliar ikutan bertanya karena merasa geli mengetahui ada saputanyan Hello Kitty di dalam tas sekolahnya Gabriel.

Gabriel menoleh ke arah Alvin lalu menyahut, "Punya cewek yang belum gue kembaliin" kemudian cowok itu mengajak teman temannya untuk memulai permainan.

"Ayo mulai main guys!" Cakka, tuan rumah yang sedang memeriksa ujung stik biliar nyeletuk setuju. "Gue sama Gabriel."

Alvin yang masih duduk di sofa dan Rio berpandangan, pertanda siap berjuang memenangkat pertandingan melawan Gabriel-Cakka.

Sedangkan Ray seperti biasa, memilih nonton saja sambil membaca.

"Cewek yang mana lagi nih? Setelah bubaran sama cewek macam Angel, sekarang lo jalan bareng cewek penggemar Kitty?" Alvin menggelengkan kepala sambil berdirim menggida Gabriel yang bersiap menyodok bola solid warna biru.

"Kenapa cewek-cewek lo nggak pernah tipikal sih? Gue nggak pernah nemuin benang merah antara satu cewek dengan cewek yang lain." Rio bicara sambil mengamati ujung stik Gabriel, berharap tongkat itu gagal menunaikan tugasnya.

Rio ada benarnya. Pacar-pacar Gabriel nggak pernah betul-betul setipe. Ia kadang mengencani cewek girly yang supermanis, kadang cewek elegan bagai putri raja, kadang cewek garang yang jagoan judo, kadang juga cewek seksi banget contohnya Angel. Itu hanya garis besar gambaran cewek-cewek koleksi Gabriel dari masa ke masa. Tetapi kalau Rio bilang ia tidak menemukan benang merah itu salah. Semua cewek yang pernah pacaran dengan Gabriel berambut panjang dan langsing.

"Gue nggak terpaku pada satu tipe, tapi lebih ke arah chemistry dan kesan pertama yang gue tangkep dari seorang cewek." Gabriel menyahut kalem. Kemudian cowok itu menyentakkan stiknya, namun sodokannya kali ini meleset.

Bibir Cakka mengerucut melihat kegagalan rekannya, "Konsentrasi Gabriel!" ujarnya pelan sambil tertawa.

Alvin berdehem pelan. "Jadi, cewek kayak gimana yang menarik perhatian lo kali ini?" ia melirik Gabriel, sahanatnya yang player itu. Sejujurnya Alvin nggak heran Gabriel gonta-ganti pacar sesering dan secepat itu. Sahabatnya yang satu ini emang charming banget dan jago bikin cewek tergila-gila. Bahkan Janice, adiknya yang masih kelas 2 SD itu naksir Gabriel.

"Cewek yang gue kepingin memilikinya saat ini." Gabriel menjawab sambil memperhatikan  Rio berusaha membereskan bola angka 9, namun tidak berhasil.

Cakka menggigit bibir bawahnya swambil membungkuk, siap menembak bola angka 7. Masuk.

Ray mengangkat alis, "Begitu?" tanyanya tiba-tiba.

Bahu Gabriel terangkat sedikit, " Kurang-lebih. Entahlah. Dia bikin gue jadi orang yang selalu ngajagain dia.." Gabriel berkata sambil mengacungkat jempol pada Cakka yang berhasil memasukan satu solid lagi. "Mungkin gue kepingin jadi yang terbaik untuk dia."

Gabriel kemudian mengimbuh, "Dialah alasan kenapa besok gue nggak bisa main go-kart bareng kalian. Gue udah ada janji." cowok itu tersenyum penuh arti yang di sambung sorakan pendek teman-temannya.

Alvin melirik Gabriel, memperhatikan perubahan pada sahabatnya yang satu ini. Perubahan terjadi tatkala Gabriel sedang jatuh cinta.

"Pastinya nggak ada masalah untuk mendapatkan dia kan?" Rio membereskan bola nomor 15 , setelah Gabriel gagal menjalankan tugasnya selanjutnyam "Ouhh, damn!" Rio memekik kesal ketika ia malah memasukan bola solid.

Cakka tertawa melihatnya, "Bagus Rio!" Kemudian ia berhasil melesakkan dua bola berturut-urut dengan mulus. Bola solid sudah habis dan Cakka makin bersemangat. Ia mengincar bola nomor 8 untuk mencetak kemenangan. Tapi sayangnya gagal.

Gabriel menggigit bibir, gemas melihat kegagalan Cakka. Selangkah lagi menuju kemenangan tim mereka! Lalu matanya beralih ke Rio. "Bukan soal ada masalah atau nggak. Gua nggak kepingin salah langkah. Makanya semua harus diperhitungkan."

"Nggak biasanya." Alvin menyahut sambil berusaha meringkas si nomor 14, namun malah foul. Cueball masuk.

Sambil meletakan cueball di posisi yang menurulnya yang terbaik dan memandang bola 8 bagaikan pemangsa, Gabriel menjawab "Kali ini memang agak berbeda dari biasanya." mata cowok itu berbinar. Lalu ia mengayunkan stik pelan. Bola 8 masuk dengan sempurna.

Menang. Game selesai.

***

Ketika mengemudi memenbus hujan yang cukup deras dalam perjalanan pulang dari rumah Cakka, binar-binar mata Gabriel tadi masih teringat jelas di kepala Alvin.

Sambil berbelok Alvin tersenyum sendiri, membayangkan sahabatnya sedang jatuh cinta. Seperti apa rasanya?

Alvin menggaruk kepalla. Sambil menatap jalanan yang basah karena hujan, ia memikirkan apa yang di katakan Gabriel tadi.

Cewek yang membuat gue kepingin memilikinya saat ini.

Alvin tertawa kecil. Ia sadar belum pernah benar-benar kepingin punya cewek. Dan bila kali ini Gabriel merasakan hal seperti itu, mungkin cewek ini memang special.

Biasanya Gabriel kepinign mengencani cewek untuk sebulan paling lama tiga bulan. Ia nggak kepingin terlalu "dimiliki dan memiliki" karena setahu Alvin, prinspip Gabriel kalo pacaran adalah sama-sama senang dan sangan menjunjung kebebasan.

Dialah alasan besok gue nggak bisa maen go kart bareng kalian, gue udah ada janji...

Biasanya Gabriel selalu mengutamakan teman-temannya daripada cewek-ceweknya. Nggak pernah ia bolos dari agenda hang-out bareng hanya karena acara kencannya dengan sang pacar atau gebetan. Bahkan nggak karang Gabriel membatalkan kencannya demi acara ngumpul mereka, dan ketika mereka bertanya apakah si cewek bakalan baik-baik saja, Gabriel hanya tersenyum dan bergurau bahwa ia lebih mencintai Cakka daripada ceweknya.

Tapi kali ini...
Alvin berpikir mungkin ada baiknya bila besok ia ikutan membolos dari acara go-kart mereka dan mengajak Shilla keluar, mengingat gadis itu sudah memohon agar Alvin bersedia meluangkan sedikit waktu bersamanya. Tapi kemudian cowok itu membuang ide tersebut jauh-jauh. Ia lebih kepingin ber go-kart ria bareng teman-temannya.

Alvin memasukan mobilnya ke garasi lalu berjalan santai memasuki rumah sambbil melepaskan dasi dan dari sudut mata ia melihat sosok cewek sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Sivia.

"Belum pulang?" tanya Alvin datar sambil berjalan mendekat.

Sivia mendongak. Wajahnya kelihatan kaget. Gadis itu menggeleng pelan. "Baru saja selesai mengajar Janice," sahutnya pelan. "Lagi nunggu dijemput kakak gue." sambungnya. Seteplah itu HP di tangannya berbunyi nyaring.

Alvin mengangkat alis. Ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri, menyaksikan Sivia menerima telepon. Sepercik perasaan aneh yang selalu dirasakan Alvin setiap kali berjumpa Sivia muncul lagi. Mendadak ia merasakan sesak dan tidak nyaman, namun ia tetap berusaha tenang dan baik-baik saja.

"Ah, begitu?" suara Sivia terdengar agak kecewa, "Nggak pa-pa."

Alvin melangkah lebih dekat waktu Sivia mengakhiri pembicaraannya di telepon. "Kakak lo nggak bisa jemput?" tanya Alvin cepat, menurut tebakannya.

Sivia menarik nafas. "Iya, temannya baru saja masuk rumah sakit." cewek itu berkata. "Gue pulang naik taksi aja." lalu ia berdiri dan mencongklongkan tasnya di pundak.

"Hati-hati, lagi hujan deras tuh!" Alvin bergumam cuek sambil berbalik, bersiap pergi ke kamarnya. Namun selang beberapa detik, cowok itu tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke arah Sivia yang baru saja hendak pamit padanya. "Hmm.. gue anterin deh." gumamnya nggak jelas.

***

Udara di luar memang sangat dingin, namun hujan mulai menunjukan tanda-tanda akan berakhir. Berada di mobil bersama Alvin membuat Sivia makin kepingin menggigil. Sejak keluar dari garasi kediaman Sindhunata hingga saat ini, mereka saling membisu.

Diam-diam Sivia melirik le arah Alvin yang sedang menyetir. Perutnya seakan tergelitik.

Ia memandang wajah cowok itu dari samping, garis hidungnya yang mancung ramping tampak sempurna. Sekali lagi Sivia merasa ada yang melompat di perutnya.

"Sudah nelepon orangtua lo untuk kasih tau lo bakal pulang terlambat malam ini?" Alvin bertanya tiba-tiba.

Sivia menoleh cepat. Kaget. Ia tidak menyangka Alvin akan mengajaknya bicara, apalagi memedulikan dia.

"Sudah.." sahut Sivia.

Alvin mengangguk. Sesekali cowok itu mengetukkan jemarinya di roda kemudi. Mengikuti irama lagu-lagu dari album terbaru Akon yang sedang di putar.

"Rumah lo... sering sepi, ya?" Sivia ganti bertanya.

"Haha.. Bokap gue sama aja dengan kakek gue. Orang-rang kayak mereka bekerja sekitar 14-15 jam sehari." katanya. Kini wajahnya cukup serius. "Sebelas jam waktu kerja produktif dan tiga jam untuk such as kegiatan berbau sosial atau menghadiri undangan-undangan.:

"Nggak heran. Tapi lo pasti sudah terbiasa sejak kecil kan? Seperti Janice yang sangat memahami kesibukan ayahnya meskipun belum menyadari siapa dirinya."

"Maksud lo?" Alvin memandang Sivia sambil mengangkat alisnya yang tebal.

"Janice masih kecil dan polosm dia bahkan mungkin belum sadar dirinya seorang Sindhunata mungkin dia juga belum tau apa arti dari nama Sindhunata. Tapi gadis kecil itu paham benar betapa sibuknya kakek dan ayahnya, karena dia sudah bergitu terbiasa dengan hal itu. Sorry kalau gue terdengar seolah mencampuri urusan keluarga lo.:

Alvin menghela dapas, "Ya, lo benar." ujarnya sambil membayangkat sosok Janice beberapa tahun mendatang. Akankah adik manisnya itu bertransformasi menjadi cewek yang menikmati hidup dengan cara menjadi pelanggan setia Stuart Weitzman, Miu Miu, dan selalu mondar-mandir ke Tokyo untuk sekedar Shopping? ataukah Janice akan menjadi cewek lemah lembut berjiwa sosial yang mendirikan yayasan amal untuk anak anak cacat atau semacamnya?

"Lo sendiri gimana?"

Pertanyaan Sivia membuyarkan lamunan Alvin.

"Hm..." cowok itu berpikir. "gue nggak yakin sejak kecil sudah tebiasa hal itu." katanya jujur.

"Oh ya? kenapa?"

Alvin mengernyitkan keningnya, iya merasa sedikit pusing, "Gue nggak ingat...." sahutnya pelan, nada bicaranya sama sekali tidak ketus, melainkan agak lembut mengambang. Wajahnya menatap sendu ke depan, dan kecepatan mengemudinya konstan.

"Nggak ingat?"

Alvin tertawa datar. "Buka begitu." ralatnya. "Gue sejak kecil tinggal di Seoul, jauh dari bokap dan kakek gue meskipun kakek gue sering banget mengunjungi gue ke sana. Lalu, waktu umur 12 tahun, gue pindah ke Australia." Alvin menjelaskan cepat. "jadi gue kurang terbiasa dengan ke adaan di rumah."

"Oh begitu..." Sivia mengangguk. "Hidup lo pasti menyenangkan dan seru ya.. Berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain."

"Nggak seseru itu kok." katanya. "Rasanya selalu ada yang hilang, dan itu bikin gue memutuskan ke Indonesia biarpun awalnya Opa dan Papa kepingin gue tetap di Perth sampai lulus SMA, lalu ke Kanada untuk kuliah nanti.

Sivia mengangkat alis, tanda ia tidak terlalu mengerti maksud Alvin. "Sesuatu yang hilang? Maksud lo kehilangan teman-teman dan keluarga di indo ya?" Sivia mencoba menerka.

"Apa?" Alvin merespons pelan sambil membelokan kemudi tanpa memandang Sivia. "Ah!" ia nyaris berbisik. Sivia memperhatikan mata Alvin sempat kosong, sebelum akhirnya ia menoleh dan bergumam, "Iya, begitu maksud gue."

"Ternyata lo bisa di ajak ngobrol juga..." kata Sivia.

Mendengarnya itu Alvin kontan mengubah ekspresinya menjadi lebih jutek. Ia melirik Sivia tajam, namun tidak menjawab apa-apa. Benaknya terlalu sibuk memikirkan hal lain.

Kenapa gue ngobrol kayak begini sama Sivia? Dan kenapa dia ngomong seperti itu barusan...

Salah satu kalimat Sivia terngiang kembali, dimainkan kembali dalam benak Alvin. "..seperti Janice yang sangat memahami kesibukan ayahnya meskipun belum menyadari siapa dirinya.." 

Bukan cuma Janice yang belum tahu siapa dirinya...

Merasa pusing, Alvin merapatkan mobilnya ke tepi jalan dan perlahan membelokannya, membawanya masuk ke parkiran sempit sebuah minimarket yang cukup dekat dengan kompleks rumah Sivia. sivia menoleh dengan ekspresi bertanya ketika Alvin siap mematikan mesin.

"Mau beli rokok sebentar." gumam cowok itu kembali datar seperti biasa. "Mau nunggu di sini?"

"Nggak.. gue mau beli minuman." kata Sivia.

Kemudian mereka memasuki minimarket beriringan membuat Sivia gugup. Sambil membuka kulkas minuman ia melirik Alvin yang berdiri di samping kasir, membeli rokok. Sivia tersenyum, ia senang bisa mengobrol dengan Alvin, meskipun singkat.

Cowok itu kelihatan tetap keren meskipun sebenarnya berantakan. Dua kancing paling atas seragam putihnya dibiarkan terbuka, menampakan kaus hitam lengan pendek yang ia kenalakn di dalam. Kemejanya tidak rapi dan tampak lecek. Rambut hitamnya agak acak-acakan.

Sivia meraih sekaleng Pocari Sweat dan menutup pintu kulkas.
Kasir menyebutkan harga minuman kaleng itu, dan Sivia merogoh tas sekolahnya, mencari dompet. Tapi ia tidak menemukannya. Sivia sekali lagi memeriksa, membuka tasnya lebar-lebar dan mengecek setiap inci di dalamnya. Dompetnya nggak ada!

Astaga! Pasti terjatuh dan tertinggal di ruang tamu Alvin!

Dengan wajah gugup Sivia membatalkan pembeliannya, tepat ketika Alvin menghampirinya.

"Kenapa?" cowok itu bertanya cuek sambil membuka bungkus plastik Marlboro Menthol di tangannya. Dari ekspresi wajahnya, ia kelihatannya tau Sivia sedang mendapat masalah.

"Ah, dompet gue hilang kayaknya jatuh di rumah lo.."

Alvin berdecak keras. "Parah banget. Babo! (bodoh)" gumamnya pelan, sambil menatap Sivia agak jengkel. Namun kemudian ia mengeluarkan dompetnya dan membayar Pocari Sweat sivia dengan ekspresi sedikit melunak.

"Thanks!" Sivia berkata setelah kasir itu menyerahkan uang kembalian kepada Alvin. Cowok itu tidak menyahut tapi langsung berjalan agak cepat menuju pintu keluar. Sivia mengikuti, namun berhenti sejenak untuk membuka kaleng minumannya. Sivia agak heran melihat Alvin tiba-tiba kembali seperti Alvin yang biasa. Padahal waktu mereka ngobrol di mobil tadi, cowok itu terlihat dan terdengar lebih ramah.

Dari dalam minimarket Sivia melihat Alvin berbicara dengan seseorang tepat di depan pintu cowok dengan topi kupluk merah. Mungkin teman Alvin, nggak sengaja bertemu temannya yang akan masuk ke minimarket ini, tepat ketika ia akan keluar.

Sivia keluar dari minimarket bermaksud menghampiri Alvin yang kini berjarak beberapa meter dari pintu masuk, masih bicara dengan  orang bertopi kupluk tersebut. Namun ekspresi cowok itu membuat Sivia mengurungkan niatnya untuk melangkah mendekat. Karena Sivia menangkap kesan Alvin dan orang itu sedang membicarakan sesuatu yang penting. Ia nggak pingin mengganggu.

"Gue dan teman-teman gue udah nggak ada urusan lagi sama lo, Tian!" Alvin berkata tajam. "Semuanya udah lewat!" cowok itu menyalakan rokok menatap garang orang asing yang di panggilnya Tian itu.

Tawa cowok bertopi kulpuk itu meledak. "Sudah lewat, kata lo?" cowok itu mendengus keras. "Lo dan teman-teman lo yang sama munafik dan belagunya sama lo itu pasti berpikir udah sukses menyingkirkan gue!" alis cowok itu terangkat sebelah. "Tapi semuanya belum selesai, Shindhunata! Ingat itu baik-baik!" suaranya menyerupai desis keras.

Alvin mengisap rokoknya dan membuang asap ke arah samping. "Perkelahian di The Nine Ballz waktu itu adalah yang terakhir." gumamnya, "Selepas hari itu, kami udah nggak ada waktu meladeni sampah macam lo!" Alvin berjalan santai melewati Tian. "Yuk pergi." ajaknya pada Sivia yang tercengang mendengar sepotong bercakapan antara Alvin dan Tian.

Tiba-tiba tangan Tian mencengkram bahu Alvin, mencegahnya pergi. "Dengar, Sindhunata... Sekali lagi lo meremehkan gue, you're a dead meat!" katanya sambil membalikan tubuh Alvin, menatapnya persis di mata. Sivia merinding melihat kejadian di depannya. Tapi ia yakin Alvin bisa mengatasi situasi ini.

Alvin menyingkirkan tangan Tian. "Terserah lo mau bilang apa," dagunya menengadah. "yang pasti gue nggak ada urusan lagi sama lo!"

Tian terkekeh, matanya yang kemerahan beralih memandang Sivia yang berdiri ngeri di samping Alvin. "Wow, senang mengetahui Alvin Sindhunata udah bisa 'melihat' cewek." gumam Tian, masih terkekeh. "Selama ini gue kira pangeran yang satu ini punya kelainan orientasi seksual!"

Alvin membuang puntung rokoknya yang masih panjang, lalu menginjaknya. Matanya mengawasi Tian, yang makin mendekat.

Tian terkekeh lagi sambil mengulurkan tangan. "Boleh juga.." ujar Tian sambil menyentuh wajah Sivia.

Sebelum Sivia menyingkirkan tangan Tian dari wajahnya, Alvin sudah melakukannya. Cowok itu dengan sigap mendorong tangan Tian, lalu menarik kerah bajunya. Tanpa berkata sepatah kata pun Alvin menghantam rahang Tian keras, lalu mengempaskan begitu saja, membuat Tian membentur tembok kuat, Alvin menarik tangan Sivia dan setengah menyeret cewek itu ke mobil. "Ayo!" katanya tegas.

"Gue nggak akan diam, Alvin! Ingat itu!" teriak Tian saat Alvin masuk ke mobil.

Sivia merasa ada yang nggak beres antara Alvin dan cowok yang bernama Tian tadi. Ia kepingin bertanya, tapi takut setengah mati. Cewek itu memilih diam. Ia nggak kepingin dianggap mencampuri urusan Alvin.

Ketika mobil Alvin tiba di depan pagar rumah Sivia, cewek itu mengucapkan terima kasih karena telah mengantarnya sampai rumah, juga untuk sekaleng Pocari Sweat besok Sivia akan mengganti uangnya. Dan berterima kasih karena sudah peduli ketika Tian menyentuhnya tadi.

Mendengarnya, Alvin menoleh ke arah Sivia. Ia mengangkat alis seolah tidak mengerti. "Gue nonjok Tian bukan karena lo, tapi karena dia sudah menghina gue." ujarnya datar dan santai sebelum kembali menatap lurus ke depan.

Alvin tau dirinya berbohong, ia hanya tak ingin mengakuinya.

~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar