PIECE 1~
SEMINGGU KEMUDIAN...
"God! dua puluh menit lagi gerbang sekolah di tutup! kenapa lo ga bangunin gue dari awal???" Gabriel dengan kasar menyibak bed cover dan berdiri cepat, sempoyongan menuju toilet. HPnya dijepit di antara bahu dan telinga kiri, sedangkan tangannya sibuk mengoleskan Colgate Herbal White pada sikat giginya.
"Ah, gue ga tau lo bakal kesiangan. Maksud gue nelpon bukannya mau bangunin lo, cuma mau nyari tebengan aja," Ray menyahut kalem di sebrang
"WHAT?!?!?" Gabriel menyemburkan buih buih pasta gigi dari mulutnya. "Genius people.. They're just bunch of jerks," uncapnya nggak kelas sambil sedikit menggeleng dan terus menyikat gigi.
Ray mendesah kecil. "Tolong, Gabriel. Jangan biarkan gue bolos di hari eprtama tahun ajaran baru," pintanya sambil mendengar Gabriel berkumur.
"ya,ya ,ya.. I'll pick you pu as soon as possible," gabriel menyahut pasrah. Di sebrang, Ray bersetu bahagia dan mengucapkan terima kasih sebelum sambungan di tutup.
Tergesa gesa Gabriel mencuci wajahnya dengan sabun. Rambut Shaggy messy-nya yang cokelat gelap diganjal bando kecil. Saat itulan HPnya berbunyi lagi.
"Gah!!" Gabriel membasuh tangan, mengeringkannya dengan cara menyentuh ujung piamanya secepat kilat, lalu meraba raba benda munglil itu untuk menggunakan fitul doudspeaker. "ya?!?" sapanya garang pada penelpon yang dikiranya Ray lagi dengan mata terpejam dan wajah bersabun.
"Gabriel, My man!!" terdengah suara cowok. Ternyata bukan Ray, tapi Alvin, batin Gabriel
"Ada apa?"
"Jemput gue ya bro!"
Gabriel mengusap wajahnya yang halus dan sudah dibilas bersih, "Kalau liat garasi lo yang kayak showroom mobil, gila aja lo masih sering nebeng gue!"
"Aigo (aduh)... Setiap kita hang-out bareng, gue lebih sering nebeng lo. Hampir selalu malah! seharusnya lo udah terbiasa."
"Tapi sekarang gue baru bangun. Belum mandi, belum sarapan, belum jemput Ray juga!"
"Einstein kecil itu minta di jemput juga? Gini deh, lo bawa aja sarapan lo dan makan di mobil." suara Alvin terkesan agak memaksa
Gabriel tertawa mengambang. "Goddammit, I'm not a school bus driver!"
"I know you're not, and your sexy car is way too hot to be a school bus."
***
"Morning, guys! Selamat tahun ajaran baru!" Alvin masuk ke mobil Gabriel.
"Morning, dan selamat tahun ajaran baru juga, Alvin!!" Ray menyahut dari jok belakang mobil. Tampangnya yang berseri seri bakalan bikin siapapun percaya ia memang sudah menantikan datangnya tahun ajaran baru ini sejak hari pertama libur sekolah.
"I don't have that new school year spirit," Gabriel berkata seraya mengunyah sandwich kejunya sambil mengebut. "Dan masa bodoh dengan hal itu!" lanjutnya cuek.
Saata Gabriel memacu mobilnya pada kecepatan tinggi demi mengejar waktu yang mepet banget, sebuah Audi 13 Sportblack hitam yang sangat ia kenal tampak berhenti di pinggir jalan kira-kira 2km menjelang gedung SCS.
"Cakka?" Alvin menunjuk A3 hitam itu sambil menatap Gabriel disela keasyikannya bermain ipod.
"Lagi ngapain dia?" Gabriel mennepikan mobil, tepat di belakang mobil Cakka.
"Ray menyipitkan mata, " Firasat gue bilang ada yang nggak beres nih!" gumamnya sambil pasang tampang bete. Ia sadar sekarang jam berapa, dan fakta bahwa Gabriel menghentikan mobil untuk turun menemui Cakka, memastikan mereka bakal TERLAMBAT ke sekolah pagi ini. Dan Ray tentu saja sangat tidak mengharapkan hal itu terjadi.
Alvin tidak ikut turun. Ia tetap duduk di jok mobil dan larut dalam game Football pada iPodnya di tangannya. Ray dengan resah mengawasi Gabriel yang ngobrol dengan Cakka yang barusan keluar dari Mobil.
Saat itulah pintu kiri depan mobil Cakka terbuka. Sosok Rio keluar, berjalan mendekati Gabriel dan Cakka.
Ray bergeming, tenggelam dalam jok mobil ketika Gabriel membuka pintu mobil sambil cengengesan. "Kita bolos hari ini, Guys!!" katanya ringan sambil duduk di belakang pengemudi.
"APA?" Ray membelalakan matanya, seolah mendengar Gabriel diangkat menjadi presiden negara ini
Alvin mengangkat wajah dari iPodnya. Ia membuka jendela karena Cakka berdiri di samping pintu Alvin.
"Bokapnya Zahra buka cabang terbaru New Heaven. Kita main ke sana!" Cakka tersenyum, menampilkan wajah malaikatnya meskipun sedang merencanakan tindakan kriminal dalam standar anak sekolahan. "Mungkin waktu kita sampai di sana, tempat itu belum buka. Tapi Zahra justru mempersilakan kita datang pagi-pagi begini, supaya bisa ngobrol ngobrol dulu."
"Zahra?" Alvin mengernyitkan kening, menandakan ia lupa siapa orang yang di sebut Cakka itu.
"Teman gue yang kuliah di Kanada itu lho." Rio yang bersandar di samping pintu Gabriel mengingatkan. alvin manggut manggut, pertanda ia udah ingat.
"New Heaven?" Ray bertanya.
"Pool, kafe, karaoke, juga ada spa dan saunanya," Cakka menyahut lancar, lalu dengan jahil mengedipkan mata pada Ray yang tengah menatapnya risau.
"Dan kita akan jadi pengunjung pertama! Gue juga baru tau waktu Rio dapat telepon dari Zahra berapa menit lalu, makanya nggak sempet kasih kabar dulu..."
"Oke. Ayo!" Alvin tersenyum samtai. Menyetujui rencana teman-temannya.
"HEI!! Gue nggak mau!" Ray berteriak. Membolos memang sudah mendarah daging bati keempat teman temannya, tapi untuk Ray itu masih terhitung haram!
Rio berdecak lalu berkata, "Ayolah, Ray! Sekali sekali lo bolos nggak ada salahnya!"
"Kenapa nggak sore aja kalian ke sananya? sepulang sekolah!" Ray ngotot.
"Nggak bisa," Cakka menjawab, "gue ada pemotretan untuk Corpis sepulang sekolah nanti," katanya
"Kenapa nggak besok sore aja?" Ray masih memperjuangkan nasibnya.
Rio menghela nafas, " Besok Zahra balik ke Ottawa, jadi hari ini gue harus menemui dia." jelasnya.
"Kalau begitu kenapa nggak Rio sendiri aja yang ke sana??? Kenapa semuanya harus bolos dan cabut ke sana?"
alvin menoleh, menatap Ray jemu. "Ray, we're friends. We share bad and good things together!" gumamnya sambil menatap mata Ray. "Kalau ada yang asyik, kenapa nggak ngajak ngajak teman? Betul nggak?
Rio tersenyum lebar, menandakan ucapan Alvin benar. "Sharing is caring," imbuhnya.
"Rio memanggul ranselnya. "Bodo amat! Buat gue molos nggak asik! Kalau kalian ngotot mau ke New Heaven, gue turun di sini dan naik taksi ke sekolah!"
"Percuma, ray! udah telat!"" Gabriel melirik arloji Bvlgari di pergelangannya.
"Mendingan telat daripada bolos! Ini hari pertama tahun ajaran baru!"
"So what? We don't even care about that!" Rio bergumam
"I do care," desis Ray bersikeras.
"Gabriel berbalik menatap Ray. "Ray, oke oke aja sih kalau sekarang lo pingin turun dan nyegat taksi untuk ke sekolah. But.. if the taxi driver's a psycho, bagaimana? You couldn't do nothing but get molested by him, my litthe friend!"
Ray terpekur. Jujur saja, ia merinding mendengar perkataan Gabriel.
"lo tau kan.. bagaimana kejamnya kejahatan yang ada hubungannya sama taksi yang marak belakangan ini?" Gabriel menambahkan.
"Sebelum Ray sempat menjawab, Alvin berkata, " Ray, kami hanya mau senang-senang hari ini dan kami semua pingin lo ikut bareng kami. Karena kita semua teman. Nggak susah untuk dimengerti, kan? Lo nggak butuh waktu dua tahun buat ngetiin kalimat gue, kan secara lo udah paham semua teori kuantum dan sampah-sampah yang lain?"
"Ray menunduk, "Oke gue ikut," putusnya lemah setelah termenung beberapa saat, "Tapi teori kuantum itu bukan sampah..." ia menambahkan sambil tetap menunduk
Tak satu pun memperhatikan kalimat terakhir Ray. Rio dan Cakka kembali ke A3 Cakka, dan pada detik berikut mobil itu sudah dipacu menuju New Heaven di kawasan Senayan. Tentu saja Gabriel ngebut di belakang Cakka dengan penuh semangat.
Hari pertama tahun ajaran baru di SCS kali ini tanpa kelima pangeran. Pangeran-pangeran yang unik, keren, memiliki segalanya, sekaligus kadang-kadang brengsek.
~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar