"Alvin! dari mana saja kamu?" tanya pak Duta sebagai Kepsek SMA Pusaka. Alvin hanya diam sambil menundukan kepalanya
"Alvin! jawab pak Duta! mana Zevana?" tanya pak Dave
"pak, tolong saya pak. cari Zevana sekarang juga, Zevana hilang pak. saya mohon" mohon Alvin sambil berlutut di depan pak Duta. Dengan cepat pak Duta mengangkat tubuh Alvin agar berdiri
"Zevana hilang?" tanya pak Duta. Alvin hanya mengangguk
"bagaimana bisa Alvin? yaampun, murid kebanggaan saya" kata pak Dave. Alvin pun menceritakan kejadian yang ia alami dari A sampai Z
"kita tidak bisa mencarinya sekarang. sekarang sudah tengah malam dan langin sudah mendung" kata pak Duta
"saya mohon pak. cari adik saya sekarang" mohon Alvin
"tidak bisa Alvin. mending sekarang kamu istirahat dulu" suruh pak Duta. Beberapa menit kemudian pun semua orang termasuk para guru guru masuk ke tenda. Hanya ada Alvin Gabriel Rio Cakka Sivia Shilla dan Ify di luar.
Alvin duduk di depan api unggun yang hampir padam. Menyeseli semua perbuatan yang ia perbuat. Harusnya gue gak izinin Zeva jauh dari gue, mungkin kejadian ini gak akan terjadi, batin Alvin. Apa yang harus gue bilang ke bunda dan papi kalau gue gagal jagain adik gue sendiri? mereka pasti benci gue. terutama.. papi.
"gimana bisa kejadian kaya gitu, Vin?" tanya Gabriel sambil duduk di samping Alvin
"please lo jangan nanya gitu, gue bisa gila kalau ditanyain kaya gitu" ujar Alvin lemas
"sorry, gue gak maksud vin. gue yakin, dimana pun adik lo berada dia selalu dilindungin Tuhan." tegas Gabriel
"kita akan selalu bantu lo, vin. kita kan sahabat" kata Cakka
"kalau lo sedih, kita semua sedih vin. kalau lo sakit, kita ikutan sakit. kalau lo nangis, kita juga pasti bakal nangis. we always together, vin" kata Rio tersenyum
"uh so sweet" kata Cakka dan Gabriel. Alvin tersenyum
"thanks ya semua. kalian emang sahabat gue yang paling baik sedunia. kalian tuh udah kaya semangat gue" kata Alvin tersenyum
"saatnya berpelukan" kata Cakka. Alvin Gabriel Rio dan Cakka pun saling merangkul
"hmmm.. mending sekarang kita tidur" usul Gabriel
"kalian duluan aja. gue masih pingin disini" kata Alvin
"yaudah bray, kita duluan ya. hati hati kuntilanak di belakang lu loh" kata Cakka. Setelah melihat sobat sobatnya sudah masuk tenda, Alvin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya tiba tiba jatuh. Seseorang menepuk pundak Alvin. Alvin menoleh.
"Sivia?" kata Alvin kaget. Sivia pun duduk di samping Alvin
"lo bukan Alvin yang gue kenal! lo cengeng" Sivia meremehkan
"gue gak cengeng" kata Alvin menunduk sambil menghapus bekas air matanya
"gue tau kok lo tadi nangis" kata Sivia sambil menatap Alvin
"gue binging vi. gue harus ngomong apa ke nyokap bokap gue kalo gue gagal jagain adik gue. pasti mereka langsung benci gue" kata Alvin
"ehmm, gak ada orang tua yang benci anaknya" ujar Sivia. Alvin menatap Sivia dalam
"itu orang tua lain, bukan orang tua gue, vi!" kata Alvin
"vin, dengerin gue ya. gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya, kalau pun orang tua itu sering ngomel atau ngebentak anaknya, itu demi kebaikan anaknya. dan kalo soal permasalahan lo, ini semua udah takdir Tuhan yang udah di tuliskan buat Zevana." kata Sivia. Alvin menundukan kepalanya, wajahnya di tutup oleh tangan
"kalau orang tua lo gak bisa nerima takdir ini, itu hanya di awal vin. lama kelamaan dia juga bakal baik lagi seperti dulu, menyayangi lo." kata Sivia. Alvin mengangkat wajahnya dan langsung memeluk Sivia
"thanks vi. lo udah bikin hati gue tenang. gue beruntung banget punya temen kaya lo" kata Alvin
"sama sama vin. gue bisa pinjemin bahu gue buat lo. kalo lo lagi sedih atau lagi ada masalah, gue bisa ngasih lo solusi" kata Sivia sambil membalas pelukan Alvin
"thanks Sivia. gue udah anggap lo lebih dari sahabat" kata Alvin tanpa sadar sambil melepaskan pelukannya. Sivia mengernyitkan dahi.
"hhh? maksud lo?" tanya Sivia bingung dengan perkataan Alvin. Mata Alvin membesar
"hah? e.. emang gue ngomong apaan?" tanya Alvin gugup
"hhh? nggak kok, gak penting juga kayanya" kata Sivia. Alvin hanya garuk garuk kepala. Tiba tiba angin malam berhembus (?)
"hhh. dingin banget ya. hfttttt" gumam Sivia sambil memeluk badannya. Alvin dengan cepat melepaskan jaket yang ia kenakan
"biar gak kedinginan lo yang pakai jaket gue" kata Alvin sambil memakaikan jaketnya ke tubuh Sivia. Cewek itu hanya memandang Alvin. Gue beruntung bisa sedekat ini sama lo, Alvin.. batin Sivia
"gapapa nih? nanti lo yang dingin" kata Sivia
"gapapa kok. kan gue cowok jadi harus kuat" kata Alvin. Sebenarnya dia juga kedinginan, angin malam menusuk di tulang. Tapi dia sok sok kuat
"hmmm iya deh yang kuat." kata Sivia tertawa
"hehe" kata Alvin. Angin berhembus lagi, sehingga pasir atau debu terbang terbangan (?)
"aww. aduduh" kata Sivia sambil megangin matanya
"kenapa vi?" tanya Alvin panik
"mata gue kelilipan" jawab Sivia.
"sini gue tiupin. mata lo di lebarin" kata Alvin sambil megang kepala Sivia, pelan pelan Alvin niup mata Sivia yang tadi kelilipan pasir. Lagi lagi Sivia cuma bisa liatin Alvin. Gue cewek paling beruntung karna bisa jadi teman lo, lebih beruntung kalau gue lebih dari sekedar teman dari lo.. Alvin, batin Sivia.
"masih perih gak?" tanya Alvin
"dikit dikit sih. thanks ya vin" kata Sivia tersenyum
"iya sama sama." tanya Alvin sambil mengggosokan tangannya karna dingin
"hmm.. Sivia, gue boleh tanya gak?" tanya Alvin ragu
"boleh kok. tanya apa?" kata Sivia
"pacar lo sekarang ada berapa?" tanya Alvin gugup. Tampak Sivia menahan ketawa
"lo ngeledek gue sebagai playgirl ya?" tanya Sivia
"enggak kok. gue cuma nanya" kata Alvin
"hmm.. pacar gue ada tiga" kata Sivia santai
"busettt.. banyak bener. si kiki termasuk ya?" tanya Alvin
"iya. tapi kayaknya beberapa hari lagi gue mau putusin semua pacar pacar gue" kata Sivia sambil menoleh ke Alvin
"loh? kenapa?" tanya Alvin bingung
"karna.. gue udah nemuin seseorang yang bener bener bikin gue jatuh cinta. dia udah bikin gue gimana rasanya mencitai orang itu sungguh sungguh." ujar Sivia
"saat gue baru pertama kali bersahabat dengan dia, rasanya beda banget. padahal kita cuma bersahabat, beda rasanya dengan gue pacaran sama kiki dan pacar gue yang lain. yaa intinya kali ini gue rasain yang namanya CINTA sungguh sungguh" lanjut Sivia panjang lebar
"hmm.. kalau boleh tau, siapa sih cowok itu?" tanya Alvin
"nanti lo juga tau kok" kata Sivia tersenyum
"sok misterius banget lo ih" Alvin ngambek
"yahhh.. jangan ngambek dong" kata Sivia sambil nyikut Alvin
"kasih tau dulu, siapa cowok itu?" paksa Alvin
"gak akan. nanti juga lo akan tau, Alvin Jonathan Sindhunataaaa!!" kata Sivia. Alvin melirik Sivia dengan tatapan jail, lalu menggelitikinya
"aaahahaha alvin geli ahaaahaha" kata Sivia sambil menahan tangan Alvin yang selalu menggelitikinya
"kasih tau dulu. siapa cowok itu Sivia Azizah?" tanya Alvin, cowok itu masih terus menggelitiki Sivia
"ahahaha.. geli alvin ahahaa.. gak akaannn" kata Sivia sambil menahan tangan Alvin
"kasih tau gaaakkk" kata Alvin sambil terus ngelitikin Sivia
"enggaaaaaaaaak ALVINN!!" kata Sivia sambil dorong tubuh Alvin. Karna tangan Alvin lagi diperut Sivia, Alhasilnya Sivia ikut ketarik jatoh bareng Alvin. Sivia nindihin tubuh Alvin. 30 detik mereka saling tatap tatapan. Alvin mendekatkan wajahnya ke arah Sivia, matanya terpejam
"upss.. sorry" kata Sivia ketika ia tau Alvin mendekati wajahnya (sambil bangun dari tubuh Alvin)
"ahh, iya gapapa" kata Alvin sambil bangun juga. Mereka saling menunduk malu
sebenarnya orang yang gue maksud itu elo.. Alvin.. batin Sivia
"ng, lo gak tidur?" tanya Alvin
"sebagai teman yang baik, gue mau temanin lo disini" kata Sivia tulus
"hmm.. tapi gue udah mau tidur. ngantung abis" kata Alvin
"ya gue juga tidur. gue duluan aja ya, bye. night my friend" kata Sivia sambil bangkit dari duduknya lalu masuk ke tenda.
Alvin bohong, dia gak mau tidur sekarang. Cowok itu masih termenung di depan Api unggun yang udah mati, tetapi masih ada percikan percikan kecil
gue bener bener beruntung punya teman kayak Gabriel Rio dan Cakka. Dan gue beruntung banget punya teman cewek kaya Sivia.. Gak tau kenapa kalau dekat dia gue selalu tenang, hati gue tentram, dan di saat seperti ini, gue kaya gak ada masalah sama sekali kalau dekat Sivia..
Sivia udah sering bikin gue tenang di saat sedih, sedangkan gue gak pernah bikin dia bahagia. Dia juga gak pernah curhat apapun ke gue tentang kehidupannya. Apa cewek kaya Sivia punya masalah? gue rasa enggak. Gue kepingin bahagiain Sivia, walau hanya sebentar.
Alvin pun kembali ke tenda untuk tidur
***
07.30 di tempat camping
"Alvin, Rio, Cakka, Gabriel. kalian ikut bapak mencari Zevana" kata pak Duta
"pak, kami boleh ikut kan?" tanya Sivia disertai anggukan Shilla dan Ify. Pak Duta tampak berfikir
"hmm.. yaudah tapi di pasangin ya, biar yang cewek gak ilang ilangan. Gabriel kamu sama bapak ya" kata pak Duta. Gabriel mengangguk
"g..gue sama lo ya vin" kata Sivia sambil berjalan di samping Alvin
"hmm.. yaudah yuk" kata Alvin sambil menggandeng Sivia. Sivia cuma senyum senyum
"ayo my princess" kata Cakka tersenyum sambil menggandeng Shilla
"ayo miss yupi" ajak Rio ke Ify
"iya Mrs. citato" kata Ify sambil gandeng Rio
~~~~~~~~~~~~
"Zevanaaaa.. lo dimanaaa" teriak semua anak yang mencari Zevana
"vin tungguin.. gue capek" kata Sivia sambil memegang lututnya
"yaudah istirahat disitu dulu" kata Alvin sambil menuntun Sivia ke bawah pohon
"sini gue pijitin biar gak capek lagi" kata Alvin sambil mengangkat kaki Sivia
"Aww aww. sakit Alvin!!" kata Sivia
"hadeh via. ini namanya bukan capek. tapi kaki lo keseleo bego" kata Alvin sambil mijitin kaki Sivia
"awwww" ringis Sivia
"tahan ya vi. gue jamin bakalan sembuh" kata Alvin. Sivia hanya mengangguk pasrah. Alvin menarik kaki Sivia yang keseleo
CKREKKK
"AWWWWWWWWWWW" teriak Sivia kesakitan
"iya sih. tapi sakit bego" kata Sivia sambil noyor Alvin
"hmm.. yaudah yuk lanjut cari Zeva.." kata Alvin nuntun Sivia jalan
~~~
~pinggir Jurang~
" gimana ini, udah hampir 3jam kita cari Zeva gak ketemu ketemu. cuaca juga gak mendukung" kata pak Duta
"kita cari lagi pak. saha mohon" kata Gabriel
"sebaiknya kita lanjut nanti lagi" saran pakDuta
"enggak pak.. harus cari sekarang" emosi Gabriel memuncak
"tapi cari dimana Gabriel?" tanya pak Duta ikutan emosi liat tingkah Gabriel
"pokoknya harus cari se..." omongan Gabriel terhenti karna ada suara yang sangat familiar di telinganya
"ka.. Alvin.. bunda... papi..." suara itu sangat lemah dan sangat kecil. Asalnya dari bawah jurang
"pak.. pak.. itu.. itu suara Zevana pak" kata Gabriel. Gabriel mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. termasuk ke bawah jurang
"astaga.. ZEVANA! pak itu zeva pak" kata Gabriel heboh sambil menunjuk Zevana yang sudah pingsan
"yatuhan.. cepet kebawah Gabriel." suruh pak Duta. Gabriel dan pak Duta pun langsung meluncur (?) ke bawah jurang
"Zee.. zee bangun ze" lirih Gabriel sambil memangku tubuh Zevana dan menepuk pipinya pelan
"sebaiknya kita langssung ke perkemahan ambil kunci mobil untuk di bawa ke rumah sakit" kata pak Duta
"iya pak secepatnya! telfon Alvin juga pak" kata Gabriel
"pasti. ayo kita bawa Zevana" Gabriel mengangguk dan segera menggendong Zevana sekuat tenaga. sementara pak Duta menelfon Alvin
***
~TEMPAT CAMPING~
"yaampun! ZEVANA" teriak Alvin sambil menghampiri Zevana yang terbaring di dalam tenda
"zee.. lo kenapa?"
"pak! kok gak buru buru di bawa ke rumah sakit sih? GAK PUNYA AKAL APA HAH? KEADAANNYA SEKARANG LAGI GAWAT PAK!" bentak Alvin
"kami sedang menunggu ambulance Alvin! bapak mohon kamu tenang!" tegas pak Duta
"tenang vin" kata Sivia sambil mengusap punggung Alvin
"Zee.. lo harus kuat ya.. adik gue itu kuat! gak lemah" tegas Alvin yang melihat adik tersayangnya itu
NINUUNGNINUNGNINUNG (?) *suara ambulance*
"cepettt cepet lelet banget sih" bentak Alvin pada perawat RS yang gotong Zevana.
Alvin Gabriel Sivia ikut di mobil ambulance. Sedangkat teman teman lain seperti Ify Rio Cakka Shilla ikut di mobil pak Duta. dan sangat amat terpaksa.. camping kelas 12.3 di batalkan.
~Salah satu RS ternama di Jakarta~ 12.30 Siang