~PEICE 5~
SAN CRISTOFORO SCHOOL...
Kalau kemarin mayoritas SCS mempertanyakan mengapa kelima pangeran sekolah nggak keliatan, hari ini mereka tau jawabannya.
Ketika ditanya teman sekelasnya di XII-3 jurusan Econimics, Gabriel bilang ia dan keempat temannya kemarin siang baru pulang dari liburan mereka di Borabora, maka itu nggak bisa masuk sekolah. Cowok itu juga menambahkan, kulit mereka berlima yang kini tanned adalah bukti nyata.
Ify berlali kecil mengikuti Sivia menyusuri koridor lantai tiga, setelah keduanya selesai makan siang. "Mau ngapain sih? Lo mau ngeliat kelima cowok itu, Vi?" Ify menerka sambil melirik benda dari kain yang terlihat seperti tas di tangan Sivia.
"Lima cowok? Siapa?" Sivia membalas bodoh. Kepalanya celingak-celinguk.
"Kata kakak gue yang alumni sekolah ini, lima cowok itu jarang ada di kelas waktu makan siang. Kecuali si Ray sering ngerokok diam-diam di parkiran. Tapi kalau beruntung, kita bisa ketemu mereka lagi makan di food court," Ify menjelaskan.
"Apaan sih?" Sivia mengerutkan kening. Ia seratus persen nggak mengerti apa yang di katakan Ify, dan nggak mau ambil pusing. "Gue cuma mau ngembaliin tas ini ke pemiliknya!" serunya bete, karena orang yang di cari tidak terlihat.
Ketika Sivia dan Ify berjalan di depan kelas XII-4, seorang siswi yang berjalan terburu-buru dari arah berlawanan sambil membawa kotak besar warna merah bermotif hati kecil-kecil menyenggol Sivia dengan keras karen terlalu bersemangat mendekati pintu masuk ruang XII-4.
"Opss! Sorry!" cewek itu berseru ketika menyadari Sivia nyarik terpelanting.
"Sivia tersenyum. "Nggak apa-apa," sahutnya ketika sadar yang menabrak ternyata teman kelasnya.
"Hei! Kita sekelas kan?" cewek itu membesarkan mata. "Kalian Sivia dan Ify! betul, kan?"
"yup," Sivia dan Ify menjawab bersamaan.
Ia adalah Ashilla Zahrantiara, cewek yang terpilih menjadi wakil ketua kelas di kelas Sivia.
"Gue mau kasih Blackforest buatan gue," Shilla sedikit mengangkat kotak merah yang di pegangnya, "buat someone special." Ia mengedipkan mata. Cewek itu kelihatan benar-benar senang.
"Wah, romantis banget!" Ify menanggapinya.
Shilla tertawa bangga. Matanya mengerling ke benda yang di bawa Sivia. Ekspresinya berubah sedikit, pandangannya terhenti, "Ehm, Sorry... Tas itu punya lo?" ia bertanya kepada Sivia, masih dengan senyum meskipun senyuman itu hanya terlulas tipis.
Sivia memandang tas serut di tangannya. "Bukan. Ini..." ia menggantungkan kalimatnya.
"Lantas punya siapa?" Shilla mengerutkan keningnya, menatap Sivia dengan ekspresi menyelidik.
"Ehm... namanya Alvin. Dia kelas dua belas, tapi gue nggak tau di kelas yang mana.. Dia.." Sivia menggigit bibirnya bingung. Kenapa Shilla sepertinya merasa penting untuk tanya-tanya seperti itu?
Ify memandang Sivia dengan mata dua kali lebih besar.
"Alvin???" Shilla mengulangi dengan keras. Senyumnya lenyap, totally. Ia terliat bingung bercampur curiga.
"Ada apa?" terdengar suara cowok. Seakan tau namanya di sebut, Alvin sudah berdiri di belakang Shilla, Sivia dan Ify tersentak menoleh menatap cowok jangkung itu.
Alvin berdiri tegap, dan Sivia harus mengakui Alvin terlihat keren banget dengan seragam kasual hari ini. Kemeja linen putih tulang berkerah nehru itu kelihatan pas banget di tubuh atletisnya, tampak kontras kulitnya yang tanned. Celana panjang kremnya agak longgar, namun tetap rapi dipadu sepatu Fly London putih keluaran EXR.
"Alvin!" Shilla menjerit seakan bertemu Ashton Kutcher di sekolah ini..
Sivia menatap Alvin ragu. Ia ingin menyapa, tapi cowok itu sama sekali tidak memandang ke arahnya. Alvin bahkan hanya memandang Shilla ogah-ogahan.
Shilla mengadu, "Sivia bilang tas ini punya kamu. Kok bisa tas ini...."
"Bukan," Alvin menyahut singkat dengan muka cuek, "Bukan punya gue kok," katanya, membuat Sivia terbelalak
"Ah..." Shilla menghela nafas lega, "bagus deh!" ujarnya.
WHAT? Sivia mengerutkan kening. Apa-apaan nih cowok??? "Heii.." ia membuka suara.
"Aku bikin Blackforest buat kamu! cobain, ya!" Shilla berseru manja, suaranya menelan suara Sivia.
"Yuk, aku pingin liat kelas kamu nih!" gadis itu menarik lengan Alvin.
Alvin tidak berkata apa-apa, namun juga tidak menyingkirkan tangan Shilla. Ia berjalan santai, kemudian mereka masuk ke kelas XII-4, meninggalkan Sivia dan Ify di pintu depan.
***
Sejak kejadian dari lantai 3, Sivia sama sekali tidak bicara. Ia kesal, marah dan bingung.
Bisa ya, ada manusia kayak Alvin? Dasar aneh! Bisa-bisanya dia menyangkal tas ini punya dia. Itu artinya mempermalukan gue di hadapan Shilla!
Shilla.. Apakah gadis itu pacar alvin? Argh! masa bodoh dengan cowok belagu itu!
Taruhan, pasti Shilla mengira Sivia sedikit sakit jiwa dan terobsesi pada Alvin Sindhunata sampai-sampai mengkhayal memegang tas sepatu milik Alvin dan hal yang bersangkutan bilang tas sialan itu sama sekali bukan kepunyaannya!
Who does he think he is? Being a heir doesn't mean you can treat others like gerbage!
"Kenapa lo bilang tas itu punya Alvin?" Ify bertanya pada Siivia saat mereka tiba di kelas. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
Sivia berbalik dan menatap teman barunya dengan kesal. "Kenapa gue bilang tas ini punya Alvin?" Sivia mengulang pertanyaan Ify sambil mengangkat tas sepatu di depan hidung Ify. "Kenapa gue harus bilang tas ini bukan punya Alvin kalau ini memang punya Alvin?" desis Sivia sambil membanting tas itu ke mejanya.
Mending tas ini gue buang aja! gerutu Sivia dalam hati,
Ify terdiam lebih karena kaget melihat Sivia megitu marah dan emosional. Mereka tidak bicara sampai bel pulang. Dan sepanjang sisa jam pelajaran, Sivia beberapa kali menangkap basah Shilla memandang ke arahnya. Bagus, pikir Sivia geram. Here I am, the psycho! Hah!
"Sivia," Ify merangkul pundak Sivia ketika cewek itu hendak keluar kelas, lalu menuntun Sivia ke tepi koridor. "Gue tau, meskipun badung, Alvin itu dambaan hampir semua cewek. Ganteng, kaya banget, keren, dan salah satu pangeran SCS yang artinya sulit banget untuk mendapatkannya. Tapi lo nggak harus pakai cara aneh untuk menarik perhatiannya, kan?" bisik Ify di telinga Sivia.
Sivia menatap Ify seolah ia sinting. Perlahan ia melepaskan diri dari rangkulan Ify. "Tas itu benar-benar punya Alvin!" bisik Sivia tajam, "Ada cerita bagaimana tas itu ada sama gue."
Ify menelan ludah. Ia sungguh-sungguh berpikir Sivia nggak waras.
Kemudian Sivia melanjutkan, "Gue nggak tau siapa kelima pangeran sekolah ini, dan gue nggak bermaksud nyari-nyari perhatian cowok aneh itu! Gue cuma mau mengembalikan barang yang bukan milik gue ke pemiliknya."
"Sivia..." Ify berkata pelan.
Sivia tidak menghiraukannya. Ia terus berbicara sambil mengendalikan volume suaranya. "Dan kalau lo mau mendambakan cowok aneh itu, silalakan ikut gue ke istananya setiap hari Rabu dan Jumat sore," Sivia mengangkat alis, "karena gue guru privat adiknya!"
Mulut Ify membuka, membentuk huruf o kecil sebelum ia sempat menaggapi ucapan Sivia, cewek itu sudah pergi.
***
MUSIC & ME, SEPULANG SEKOLAH...
Berhenti di gerbang sekolah, Sivia memutuskan tujuannya.
Matanya terpaku pada BookField. Sepertinya menarik juga kalau sore ini ia mencari novel Meg Cabot yang belum di belinya, atau mellihat-lihat buku bagus lainnya. Tapi setelah kakinya maju satu langkah, Sivia berhenti. BookField terlalu menginatkannya pada Alvin!
Aku nggak butuh buku hari ini!
Sivia menjatuhkan pilihannya pada Music & Me, toko music yang terletak hanya beberapa meter di samping kiri BookField.
Suasanya toko musik itu nyaman, dengan interior sederhana yang didominasi warna merah dan kuning. Suara Paris Hilton berkumandang sebagai latar. Sivia berjalan bagian New Release, mencari apakah ada yang membuatnya berminat. Ternyata nggak ada yang menarik.
"Mencari sesuatu?" sebuah suara dari belakang mengejutkan Sivia. Ia mengalihkan mata dari rak CD dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ah!" ujar Sivia singkat setelah mengenali cowok berseragam SCS yang berdiri di belakangnya.
"Masih ingat gue?" cowok itu mendekati Sivia sambil tersenyum. Senyumnya bagus banget, batin Sivia terkesan malu-malu segaligus percaya diri.
Ikutan tersenyum, Sivia mengangguk, "Ya, masih."
Sivia ingat benar, ini cowok yang di tabraknya di Go Yoghurt! Ia bahkan masih malu telah menumpahkan yoghurt di jaket cowok ini.
"Senang lo masih ingat gue," ujarnya. "Gabriel," ia menyebut namanya sambil mengulurkan tangannya.
"Sivia." Sivia menjabat tangan cowok itu,
Gabriel memasukan tangannya ke saku celana panjangnya. "Gue udah tau nama lo, obiet yang ngasih tau waktu itu."
Sivia tertawa pelan, Ya, Obiet juga ngasih tau gue. Dia juga bilang lo sekolah di SCS sama dengan gue. Obiet bahkan bercerita sedikit tentang lo dan masa-masa kalian sekolah bareng di Virgina."
"Ohya?" Gabriel mengangkat alis. "Apa katanya tentang gue? Boleh tau kan?" guraunya sambil mengiringi Sivia menyusuri Music & Me
"Hmm.." Sivia mengingat-ingat sejenak, "Lo pemain piano yang hebat, murid bandel banget dan suka berantem, tapi sangat setia kawan. Lo orang yang sensitif dan sangan peduli dengan keluarga."
Gabriel tersenyum sambil menunduk seolah tersipu, "Trus apa lagi?"
"Hmmm..." mata Sivia melirik wajah Gabriel, lalu berkata, "Lo buaya darat!" ucapnya jujur. Obiet memang bilang begitu.
Gabriel kontan menatap Sivia, mata sipitnya membesar sedikit. "Dia bilang begitu?"
"Yup."
"Dasar pembohong," Gabriel menggeleng tertawa, "Tentang piano, bandel, setia kawan, dan yang lainnya sih benar. Tapi buaya darat... Obiet bohong besar tuh!"
Sivia tertawa melihat ekspresi cowok di sampingnya ini
"Gimana sekolah hari ini? Asyik?" Gabriel bertanya tiba tiba padanya.
"Ehm.." Sivia menggeleng. "Bete!" jawabnya singkat.
Senyum kecil terukir di bibir Gabriel. "Itu biasa. Apa lagi sih yang bisa lo dapetin di sekolah selain bete? Hahaha"
Sivia ikut tertawa.
"Berminat jalan-jalan sebentar? Mungkin bisa ngilangin bete..." Gabriel memandang teduh Sivia, suaranya lembut, bikin Sivia deg-degan.
"Jalan-jalan?" Sivia menipiskan bibir, "Gue nggak bisa pulang terlalu sore, soalnya naik taksi."
"Gue anter." Gabriel menjawab cepat. "kalau lo nggak keberatan." tambahnya
Jam tangan Sivia menunjukan jam setengan empat, "Mau ke mana?"
"Yayasan bokap gue lagi menggelar bazar amal untuk menggalang dana. Lo tau kan, banyak bencana akhir-akhir ini." Gabriel bergumam pelang, wajahnya serius. "Ada banyak stan yang menarik di sana. Kita bisa lihat-lihat!"
Sivia berpikir sambil melirik diam-diam Gabriel.
Bazar amal kedengarannya asyik. Atau Gabriel-nya yang memang menarik? a person who is really fun to be with. Entahlan. Yang pasti akhirnya Sivia menyetujui ajakan cowok itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar