Selasa, 05 April 2011

Kupu-Kupu Salju versi ICIL part1

OPENING SCENE 1
~~~~~~~~~~~~~~~

GO YOGHURT! KAMIS MALAM...

"Kita pulang aja yuk!" desak seorang cewek pada cowok di hadapannya. Sivia, merasa tidak nyaman berada di tempat ini, bersama orang orang yang sama sekali tidak di kenalnya. Satu-satunya alasan yang membuatnya nggak kepingin meninggalkan Go Yoghurt adalah kelezatan yoghurt moka yang ia santap.

"Sabar," Obiet menyahut asak sanbil mencomot sendok yoghurt Sivia. "Sebentar lagi kita pulang."

Sivia memutar bola matanya yang hitam bening. Sebentar lagi? Sivia benar benar tidak mengerti. Sejak tadi Obiet bilang 'Sebentar lagi' tapi kenyataannya tidak pulang pulang juga. "Tunggu apa lagi sih?" Sivia mengerang gemas.

"Obiet tersenyum simpul. Sikap manja Sivia itu selalu membuatnya tersenyum. "Tunggu, gue mau ketemu temen gue dulu, ya." Obiet berkata sambil menatap adik tirinya itu.

"Temen lo? Siapa lagi?" tanya Sivia

"Dia adik kelas gue di Virgina. Dulu kami sempat satu sekolah, tapi tiba-tiba dia balik ke Jakarta waktu mau masuk SMA." Obiet mengedipkan mata pada Sivia, " Mau gue kenalin? Ganteng lho..."

"Kalau dari tadi lo nggak lihat temen lo itu di sini, artinya dia nggak disini. Pulang aja yuk" Sivia memelankan suaranya.

"Pasti dia datang. Karena Nelia dan Frankie (pemilik go yoghurt ini) kan sepupunya, dan mereka bilang dia akan datang" kata Obiet. Sivia hanya pasrah menunggu teman Obiet itu

"Lagu lagu Morning Musume menambah keceriaan, dan bagi Obiet yang menggemari cewek-cewek imut asal jepang itu benar benar plus. Sivia semakin bete ketika gerombolan cewek cantik menghampiri meja mereka dan menyapa Obiet seolah olah cowok itu David Beckham.

"Mereka temen temen gue di SMP Notre Dame. Sebelum gue dipindahkan ke amerika sama papa, gue kan sempet sekolah beberapa bulan disana," Obiet berkata pada Sivia setelah cewek cewek itu berlalu.

"Sivia menghela nafas, "Gue gak perduli! Pokoknya mau pulaaaaangg" rengeknya.

Tepat saat itu Obiet melihat seseorang menuju meja mereka sambil membawa segelas yoghurt. Seseorang yang dikenalnya. Mata Obiet berbinar-binar, pertanda ia telah menemukannya sosok yang ingin ditemuinya sejak tadi. "Ah, itu dia"

"Gue mau ke toilet aja deh!" seru Sivia, tidak memperhatikan kakaknya. Suaranya meredam suara Obiet. Cewek itu langsung berdiri dengan tampang kesal dan gerakan kasar. Sebenarnya ia tidak sungguh-sungguh kepingin ke toilet, tapi ia sudah terlalu jemuh duduk di tempat itu. Entah sampai kapan Obiet mau pulang. Mungkin sampai jidat gue lumutan, batin Sivia kesal.

Ketika Sivia memutar tubuhnya untuk pergi menjauh, tiba tiba saja..
BUKKK!!

Ia menabrak seseorang yang tadi berjalan cepat ke arah meja mereka dan berada persis di belakangnya. Yang lebih buruk lagi, segelas yoghurt yang di bawa cowok itu kontan tumpah ke jaketnya karena bertabrakan dengan Sivia.

"Ah, maaf///" Sivia merasa wajahnya panas, "Maaf!" Ulangnya lagi sambil merogoh tasnya cepat dan mengambil sapu tangan

Cowok di depannya kelihatan kaget. Ia tidak berkata apa apa, hanya memandang wajah panik Sivia yang kini sedang membersihkan tunpahan yoghurt pada jaketnya dengan saputangan pink merah bergampar helokitty.

"It's okay. sini gue yang bersihin sendiri" cowok itu berkata pelan tidak ada nada kesal sama sekali. Ketika si cowok mengambil saputangan itu, jemari mereka bersentuhan sedikit, membuat Sivia dengan gugup menarik tangannya.

Seketika Sivia inngat kunci mobil Obiet ada di tasnya, "Gue ke mobil duluan biet" ujarnya sebelum berlalu cepat.

Sementara si cowok asing terpengah. Sambil memandang Sivia keluar dari pintu go yoghurt. Dengan tangan masih mengenggam saputangan milik Sivia, Sebentuk senyuman terukir di wajah cowok itu.

I've got to know who she is...
Kalau saja tengah malam ada bintang jatuh, cowok itu akan memohon agar bisa bertemu  lagi dengan Sivia.

~~~~~~~~
OPENING SCANE 2
~~~~~~~~~~~~~~

EMPAT HARI KEMUDIAN

Obiet mengantar Sivia ke sekolah barunya, San Cristoforo School. untuk mengambil buku pelajaran dan seragam yang akan Sivia kenakan minggu depan ketika tahun ajaran baru dimulai.

Sivia senang sekali papa Fabi memilihkan sekolah terbaik untuknya. Dengan memiliki keluarga baru, sekolah baru yang keren banget, dan tentu saja teman baru juga, sivia yakin masa SMAnya bakalan sangat menyenangkan.

Dengan wajah berseri seri penuh semangat, Sivia keluar dari ruangan administrasi sambil membawa tas karon besar berisi dua setel seragam yang lengkap (dengan blazer mungil khas SCS) dan dua setel seragam kasual yang terdiri atas atasan linen berkerah nehru dengan potongan ramping warna putih tulang, yang di padu rok A-line warna krem.

Tangan kanan Sivia menenteng tas plastik super berat berisi buku pelajarannya.  Kata Obiet, kalau Sivia bosan, ia bisa mampir ke bookfield, music & me, atau The Big East Cafe.

Ketiganya menarik. Sivia tersenyum sambil membandingkan sekolahnya dulu di Malang. Di sekitar sekolahnya hanya ada warung mie, bakso dan gerobak es kacang hijau. Tidak ada toko buku nyaman, musicc store komplet maupun cafe kecil. Akhirnya Sivia menjatuhkan pilihannya untuk ke bookfield.

Ketika hampir sampai di sebrang, mendadak ia menyadari tangan kanannya terasa ringan. sivia kaget! ia menoleh ke belakang dan mendapati tas plastiknya robek dan buku bukunya berceceran di jalan

"Ya Tuhan...!" Sivia memekik sambil melihat ke arah datangnya mobil. Kosong. Ia punya kesempatan untuk memunguti buku bukunya. Ia kembali dengan tergesa gesa. Lalu berjongkok untuk memunguti buku bukunya.

Tanpa Ia sadari sebuah truk besar melaju kencang ke arahnya. Klakson truk itu seperti berteriak kencang. Truk sudah begitu dekat. Sivia tidak sanggup bergerak. Matanya membelalak dan berteriak.

Aku akan mati, serunya dalam haati. Aku akan mati!!!!!!

Sivia memejamkan pata, yakin bahwa sekalipun ia bergerak, ia tetap terlambat. Gemetaran ia memeluk buku bukunya, menyongsong detik terakhir hidupnya. Namun....

Tiba tiba seseorang menariknya juat sekali. Sivia terhuyung lemas ke arah orang itu. Buku buku dalam pelukannya yang tadi ia selamatkan hingga mempertaruhkan nyawa kembali terjatuh beserta tasnya. Hanya tubuh Sivia yangkini aman, nyaris dalam pelukan orang yang menyelamatkan nyawanya.

Aku selamat. Aku selamat. Aku selamat!

Sivia mengatur nafasnya sementara ia masih belum sanggup bergerak, terlalu syok untuk menyadari segala yang baru saja terjadi. Ia pun sadar bahwa nyaris ada di pelukan seseorang. Jarak mereka sangat dekat, wajah Sivia tersentuh lengah Hoody hitam bathing ape yang dikenakan cowok itu.

Sivia mundur sedikit, menatap pahlawannya pagi ini. Seorang cowok remaja sekitar 17tahun dengan postur tubuh jangkung rambut hitam agak panjang.

"Terimakasih..." Sivia bergumam pelan, nyaris tidak bersuara.

Cowok itu tidak menyahut. Ia malah menyodorkan tas plastik bookfield berisi komik komik miliknya kepada Sivia, lalu berjalan menuju jalan raya. cowok itu dengan gesit mengambil buku Sivia dan tas seragam cewek itu.

"Ah.. Terimakasih!" Sivia mengulangi ucapannya dengan nada penuh syukur ketika cowok itu menghampirinya.

Dengan wajah tanpa ekspresi cowok itu menyerahkan tas seragam Sivia lalu membuka bagasi mobilnya yang terparkir di depan bookfield, mengeluarkan sepasang sepatu dari tas serut berbahan kain.

"Mending ini daripada tas plastik yang gampang robek." cowk itu menjejelkan buku buku Sivia ke tas serut, lalu menyodorkannya pada cewek itu.

Sivia tidak sanggup berkata kata. Pikirannya mandek. Ia hanya menerima tas serut itu.

"Kok lo bisa bodoh banget sih..." cowok itu bergumam sambil memandang wajah Sivia sepintas. Setelah menyambar kantong plastik bopkfield berisi komik miliknya dari tangan Sivia, ia berjalan santai ke arah mobilnya. Tanpa babibu cowok itu menyalakan mesin dan meninggalkan Sivia.

Sivia kepingin memanggil dan sekali lagi mengucapkan terima kasih, namun ia tak sanggup melakukannya. Cowok itu terlalu memukaunya. Dengan sikap kepahwalanannya, ia telah menyelamatkan nyawa Sivia tanpa panik, lalu dengan santai memasukkan buku buku malang itu ke dalam tas bekas menyumpan sepatunya!!! Terakhir, dengan ekspresi snob yang datar, ia mengatai Sivia "bodoh banget"

Sivia merasakan gelenyar dalam perutnya ketika tadi tatapannya sempat bertemu dengan cowok itu. Bahkan kini, ketika sedang berdiri di depan bookfield seperti orang lingkung sambil merunut kejadian tadi, Sivia masih merasakan gelenyar itu.

Siapakan dia? apakah dia siswa SCS juga?

Kalau saja nanti malam ada bintang jatuh, Sivia akan memohon agar bisa betemu lagi dengan cowok itu. Sekadar untuk berterima kasih, atau sekedar ingin mengembalikan tas sepatu ini. Atau... Sekedar ingin bertemu lagi dengannya...

~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar